sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Bank BTN akan bentuk perusahaan asset management di 2020

Bank BTN selama ini kesulitan dalam mengelola aset hasil sitaan dari kredit macet.

Annisa Saumi
Annisa Saumi Rabu, 04 Des 2019 13:30 WIB
Bank BTN akan bentuk perusahaan asset management di 2020

PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BBTN) akan membentuk anak usaha baru di bidang asset management. Direktur Finance, Planning & Treasury Bank BTN, Nixon L.P. Napitupulu mengatakan perusahaan ini akan mengelola aset BTN dari debitur yang tidak bisa membayar kredit.

BTN menargetkan perusahaan ini bisa terbentuk pada 2020. Perseroan berharap anak usaha ini bisa turut menurunkan angka kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) BTN. Nixon mengungkapkan saat ini BTN kesulitan dalam mengelola aset karena sebagai bank, perusahaan tidak memiliki kapasitas yang cukup besar dalam jual-beli aset yang mayoritas merupakan properti.

"Masalahnya gini, BTN itu bank ya, it's not property company. Kami itu bisnisnya kredit pemilikan rumah (KPR). Kalau KPR macet, di Indonesia itu belum ada yang jagain harga pasar (properti) second," kata Nixon di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu (4/12).

Sebagai informasi, tahun depan BTN menargetkan NPL bisa ditekan menjadi 3,1%-3,0%. Per Juni 2019, rasio NPL BTN berada di level 3,32%.

Nixon melanjutkan, pembentukan perusahaan ini dilakukan seiring rencana akuisisi perusahaan modal ventura (PMV), yaitu Sarana Papua Ventura (SPV).

Sebelumnya, Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) Bank BTN yang digelar Kamis (29/8) lalu telah menyetujui perseroan untuk melakukan aksi korporasi akuisisi PMV.

SPV merupakan anak usaha PT Bahana Artha Ventura, yang merupakan anak usaha PT Bahana Pembinaan Usaha Indonesia (Persero). Pemilihan SPV ini sekaligus diharapkan menjadi  sinergi BUMN yang diamanatkan oleh Kementerian BUMN. 

BTN akan menanamkan modal sebesar Rp300 miliar-Rp400 miliar di SPV. 

Sponsored

Dengan pembentukan perusahaan baru ini, lanjut Nixon, bertujuan untuk menjaga harga rumah di secondary market. Sebab, Nixon melihat selama ini nasabah yang tak mau meneruskan mengangsur KPR akan menyebabkan harga properti jatuh. 

"Perusahaan ini, akan menjaga NPL dengan membeli rumah yang angsurannya macet, dibenerin lagi, dan dijual. Sehingga enggak jadi NPL berhenti," ujarnya. 

Sebab, jika terjadi kredit bermasalah, maka akan banyak rumah terbengkalai dan membuat pasar menjadi semakin kusut. 

Namun, Nixon belum bisa memperkirakan persentase NPL yang mampu diturunkan melalui pembentukan perusahaan ini. Hanya saja, Nixon memandang pembentukan perusahaan ini akan cukup membantu untuk menahan harga rumah di pasar second