logo alinea.id logo alinea.id

BI pastikan devaluasi yuan tak gerus ekspor RI

Secara jangka pendek, mata uang yuan yang terdevaluasi tidak akan berpengaruh terhadap perdagangan Indonesia ke luar negeri.

Ardiansyah Fadli
Ardiansyah Fadli Senin, 12 Agst 2019 14:26 WIB
BI pastikan devaluasi yuan tak gerus ekspor RI

Bank Indonesia memastikan pelemahan kurs mata uang yuan China tidak semakin menggerus kinerja ekspor Indonesia. Hal ini bisa dilakukan melalui upaya menjaga volume permintaan, termasuk perluasan pasar ekspor.

Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo mengatakan secara jangka pendek, mata uang yuan yang terdevaluasi tidak akan berpengaruh terhadap perdagangan Indonesia ke mancanegara.

Dia menyebutkan faktor yang akan sangat berpengaruh adalah jika terjadi pelemahan permintaan atau penurunan kualitas barang ekspor Indonesia.

"Kita tidak terpengaruh banyak dari sisi (devaluasi) yuan, karena porsi kita bukan ditentukan dari sisi nilai tukar. Transaksi ekspor dalam jangka pendek tidak terkait banyak dengan devaluasi yuan, tapi lebih ke permintaan dan kualitas," ujar dia di Jakarta, Senin (12/8).

Dody mengatakan pemerintah Indonesia tengah berupaya menggenjot ekspor dengan perluasan pasar termasuk melalui upaya peningkatan perdagangan bilateral.

Untuk diketahui, kontraksi kinerja ekspor selama kuartal II-2019 telah memperlambat pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Pada kuartal II-2019 pertumbuhan ekspor tercatat minus 1,81% (yoy), padahal pada kuartal II-2018 ekspor masih tumbuh 7,65% (yoy).

Terkait dampak pelemahan yuan yang berpotensi meningkatkan risiko di pasar keuangan dan bisa menggerus nilai tukar rupiah, Dody mengatakan, BI akan selalu bersiaga di pasar untuk memastikan nilai rupiah tetap sejalan dengan fundamentalnya.

Sponsored

BI tetap akan melakukan intervensi di pasar spot dan pasar valas berjangka atau domestik NDF.

"Kami juga akan menjaga likuiditas pada tingkat yang memadai dan memastikan mekanisme pasar berjalan," ujar dia.

Sementara, Dody meyakini mata uang China tidak akan terus melemah.

Pasalnya, pelemahan yuan yang semakin dalam akan berdampak negatif pada permintaan domestik negara tersebut.

"Negara-negara perlu juga untuk memberikan topangan pada permintaan domestik, risiko currency war (perang mata uang) tidak besar terlebih di tengah permintaan global yang memang sedang melemah," ujar Dody.

Dugaan devaluasi yuan sebelumnya sudah dibantah Bank Sentral China, People's Bank of China (PBoC).

Mereka menyebut volatilitas nilai tukar yuan secara drastis beberapa waktu belakangan merupakan reaksi pasar menanggapi rencana kenaikan tarif impor yang digaungkan Amerika Serikat (AS).

Komentar Beijing ini merespon tuduhan manipulasi mata uang yang dilontarkan Presiden AS Donald Trump kepada China, setelah mata uang China bergerak di 6,9-7 yuan per dolar AS dalam satu pekan terakhir.

Adapun China merupakan salah satu mitra dagang terbesar Indonesia. Namun posisi Indonesia selalu defisit karena serbuan barang impor konsumsi dari China.

Menurut Badan Pusat Statistik, Indonesia mengalami defisit perdagangan terhadap China hingga US$8,48 miliar pada periode Januari-Mei 2019. Angka itu meningkat dari defisit Januari-Mei 2018 yang sebesar US$8,11 miliar. (Ant)