logo alinea.id logo alinea.id

Buruh Krakatau Steel : Restrukturisasi seharusnya ke manajemen

Apabila ingin melakukan Restrukturisasi, buruh menilai lebih tepat ke manajemen bukan ke karyawan outsourching.

Khaerul Anwar
Khaerul Anwar Senin, 08 Jul 2019 10:59 WIB
Buruh Krakatau Steel : Restrukturisasi seharusnya ke manajemen

Ribuan buruh yang tergabung dalam Serikat Buruh Krakatau Steel (SBKS) kembali menolak rencana restrukturisasi dan PHK sepihak terhadap pekerja outsourching PT Krakatau Steel. Restrukturisasi dan PHK dinilai akan mengancam masa depan pekerja dan keluarganya. 

Ketua Federasi Serikat Pekerja Baja Cilegon (FSPBC) Safrudin mengatakan, penolakan dilakukan karena restrukturisasi yang dilakukan PT Krakatau Steel tidak sesuai dengan implementasi karena telah menyentuh pemberhentian sepihak terhadap 2.600 pekerja karyawan outsourching

"Ini kesalahan besar, kenapa kami ini dinonaktifkan. Harusnya restrukturisasi ke manajemen bukan ke kami," kata Safrudin saat dikonfirmasi pada Senin (8/7).

Safrudin mengaku pihaknya sudah mendapatkan informasi dalam rencana restrukturisasi yang dilakukan oleh KS akan merumahkan sebanyak 2.600 karyawan outsourching yang bekerja di bagian produksi baja PT KS pada Agustus 2019.

Mengacu terhadap surat edaran Direktur SDM Nomor 135/Dur.SDN-KS/2019 per 27 Mei 2019, perihal tindak lanjut penyesuaian kontrak pekerjaan dengan pihak ketiga. 

"Ini bentuk tidak pernah menghargai serikat karena anggota kami per 1 Juni 2019 dirumahkan tanpa sepengetahuan kami. Kami dipanggil tanggal 14 Juli sedangkan surat edaran dari tanggal 1 Juni," katanya.

Untuk diketahui, sejak munculnya isu rencana PHK, sejak seminggu lalu ribuan buruh menggelar demonstrasi di depan gedung teknologi PT KS dan kantor Walikota Cilegon. 

Siang ini, para buruh dijadwalkan akan melakukan audiensi dengan Kapolda Banten Irjen Pol Tomsi Tohir di Mapolda Banten untuk menjembatani komunikasi para buruh dengan pihak PT KS.

Sponsored

Direktur Utama Krakatau Steel Silmy Karim mengatakan PT KS (persero) Tbk sedang menjalankan program restrukturisasi agar kinerja KS dapat kembali sehat dan berdaya saing. 

Restrukturisasi perusahaan yang dijalankan meliputi restrukturisasi hutang, restrukturisasi bisnis, dan restrukturisasi organisasi. Restrukturisasi ini bertujuan agar Krakatau Steel lebih efisien dan kompetitif di tengah persaingan industri baja global yang sangat kompetitif.

Langkah-langkah yang dilakukan adalah penjualan aset-aset non core, perampingan organisasi, mencari mitra bisnis strategis, spin-off, serta pelepasan unit kerja yang semula bersifat cost center yang hanya melayani induk perusahaan (KS), menjadi bagian dari pengembangan bisnis anak perusahaan sehingga bersifat profit center. 

Dikatakan Silmy dalam hal menjalankan perampingan organisasi melibatkan anak-anak usaha KS Group. Program ini akan membuat unit-unit kerja di internal KS akan lebih optimal sehingga mampu menjalankan bisnis secara efisien dan lebih produktif.

Sementara anak perusahaan yang mendapat tambahan karyawan dari KS akan dapat mengembangkan bisnisnya untuk mendapatkan pasar dan pendapatan baru dari luar KS Group. 

"Saya mengajak seluruh anak usaha KS untuk bersama-sama menyelamatkan bisnis baja KS karena untuk menyelesaikan permasalahan tersebut perlu mengedepankan semangat gotong-royong dan kebersamaan semua pihak," kata Silmy melalui rilis yang diterima Alinea.id.

Ia menyadari terkait program restrukturisasi dan transformasi perusahaan ini tidak akan bisa menyenangkan semua pihak. Akan tetapi, manajemen menjamin program ini dilakukan sesuai dengan aturanperundangan.

“Jadi tidak benar ada PHK massal kepada karyawan Krakatau Steel. Restrukturisasi organisasi tidak selalu identik dengan Pemutusan Hubungan Kerja, ada banyak cara dalam perampingan struktur organisasi,” ungkap Silmy.

Manajemen terus mengupayakan komunikasi yang harmonis dengan stakeholder terkait, khususnya serikat dan karyawan, pemerintah baik pusat maupun daerah, Kementerian BUMN, dan pihak-pihak lain yang terkait dalam menjalankan program restrukturisasi ini.

Silmy menambahkan, program ini perlu dilakukan guna menyelamatkan PT Krakatau Steel produsen baja nasional yang memiliki aspek strategis dalam pembangunan ekonomi nasional, sebagai tulang punggung industri dan pembangunan infrastruktur yang sedang digalakkan di Indonesia.