sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

CSIS: Kartu Prakerja dan UU Ciptaker saling komplementer

Program Kartu Prakerja telah menjangkau 5,5 juta jiwa sejak diluncurkan pada Maret 2020 hingga kini.

Achmad Rizki
Achmad Rizki Jumat, 26 Feb 2021 18:38 WIB
CSIS: Kartu Prakerja dan UU Ciptaker saling komplementer
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 1.341.314
Dirawat 153.074
Meninggal 36.325
Sembuh 1.151.915

Kepala Departemen Ekonomi Centre for Strategic and International Studies (CSIS), Yose Rizal Damuri, menilai, Program Kartu Prakerja berjalan baik. Namun, perlu peningkatan mengingat ada dua sisi persoalan ketenagakerjaan, permintaan dan suplai tenaga kerja.

"Kartu Prakerja mencoba menangani dari sisi suplainya, berusaha meningkatkan keterampilan tenaga kerja yang ada ini supaya sesuai dengan permintaan," ujarnya, Jumat (26/2).

Yose melanjutkan, persoalan tenaga kerja lain di Indonesia adalah tingginya permintaan tenaga kerja. Hal ini selaras dengan investasi yang meningkat. 

"Itu yang dilakukan dengan Undang-Undang (UU) Cipta Kerja. Jadi, UU Cipta Kerja (Ciptaker) dengan Prakerja satu sama lain saling komplementer," jelasnya.

CSIS pun mendorong Kartu Prakerja dilanjutkan mengingat program tersebut meningkatkan kompetensi 88,9% penerimanya. Hal tersebut merujuk Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) pada Agustus 2020.

"Kalau surveinya menunjukan seperti itu berarti memang seperti itu, keterampilannya meningkat. Jadi, memang perlu diteruskan, tapi memang perlu beberapa catatan," ucap Yose.

Catatan pertama, penerima Kartu Prakerja harus lebih ditingkatkan lagi. Sejak diluncurkan pada 20 Maret 2020 hingga kini, program telah menjangkau 5,5 juta jiwa.

Kedua, penerima Kartu Prakerja harus juga bisa meningkatkan penerima di kalangan pendidikan SMA ke bawah. Ketiga, perlu mengevaluasi apakah keterampilan yang ditingkatkan sesuai atau tidak dengan permintaan. 

Sponsored

"Keempat, selama ini, kan, Kartu Prakerja digunakan untuk bantuan sosial. Ke depannya, mungkin lebih banyak digunakan keterampilan dibandingkan uang sehingga pelatihannya bisa lebih serius," tuturnya.

Terakhir, menurut Yose, penerima Kartu Prakerja perlu mengikuti program secara berkelanjutan. "Mungkin platform yang sudah dibikin (dilanjutkan untuk) reskilling mandiri, jadi bayar sendiri."

Dalam Sakernas BPS juga disebutkan, 81,2% penerima Kartu Prakerja menggunakan dana insentif untuk membeli kebutuhan harian sesuai penugasan sebagai program perlindungan sosial selama masa pandemi pasca-pelatihan.

Sementara itu, Survei Evaluasi yang dilakukan Manajemen Pelaksana (PMO) Kartu Prakerja mencatat, 94% penerima mengalami pengembangan kompetensi melalui skilling, upskilling, dan reskilling. Pun lebih dari sepertiga dari total penerima kini sudah bekerja baik sebagai karyawan maupun berwirausaha.

Selasa (23/2/2021) kemarin, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto secara resmi membuka Gelombang 12 yang menandai dimulainya Program Kartu Prakerja tahun 2021 

Menko mengatakan, Program Kartu Prakerja berhasil menjalankan mandatnya sebagai program pengembangan kompetensi kerja sekaligus sebagai program perlindungan sosial di masa pandemi. Karena itu, Pemerintah memutuskan untuk melanjutkan Program Kartu Prakerja di tahun 2021, dengan total anggaran sebesar 10 trilliun untuk semester 1 tahun 2021.

Berita Lainnya