sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Digempur produsen China, Astra yakin penjualan tetap moncer

PT Astra Internasional Tbk. (ASII) yakin bisa memperbaiki kinerja penjualan yang tidak bagus di semester I-2019.

Annisa Saumi
Annisa Saumi Senin, 26 Agst 2019 14:44 WIB
Digempur produsen China, Astra yakin penjualan tetap moncer
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 23851
Dirawat 16321
Meninggal 1473
Sembuh 6057

PT Astra Internasional Tbk. (ASII) menyatakan optimistis terhadap pasar otomotif di semester II-2019. Presiden Direktur Astra Prijono Sugiarto menyatakan perusahaan juga tidak akan merevisi target penjualan dan belanja modal (capital expenditure/capex) pada paruh kedua tahun ini. 

"Kami masih melihat potensi yang begitu besar di Indonesia di bidang permobilan," ujar Prijono dalam paparan publik di Jakarta, Senin (26/8).

Prijono mengungkapkan volume penjualan kendaraan roda empat perusahaan memang turun hingga 6% pada semester I-2019, meskipun market share Astra meningkat ke 53%. 

"Yang menyebabkan volume penjualan mobil turun 6% karena banyak perang diskon. Selain itu, produksi di Indonesia juga kurang 1,1 juta semester I-2019 ini," kata dia.

Penjualan wholesale mobil Astra turun 6% menjadi 253.000 unit pada semester I-2019 dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar 268.000 unit. Prijono menyebut kondisi ini tidak hanya dialami Astra.

Dari data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), secara total penjualan  wholesale mobil di Indonesia berkurang 13% menjadi 482.000 unit pada paruh pertama 2019, dari 557.773 unit pada periode yang sama tahun lalu.

Prijono mengakui dalam beberapa tahun ke belakang, produsen asal China agresif merangsek ke pasar otomotif Indonesia. Dia menyebut salah satu pemain mobil asal Tiongkok masuk dengan produksi 120.000 unit kendaraan tahun ini. 

“Namun penjualannya hanya 20.000 unit,” kata dia.

Sponsored

Untuk diketahui, pendapatan konsolidasian Astra naik tipis 3% menjadi Rp116,182 triliun pada semester I-2019, dari Rp112,554 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

Namun, untuk laba bersih konsolidasian Astra mengalami penurunan sebesar 6% pada paruh pertama tahun ini. Laba bersih tersebut turun dari RP10,384 triliun pada semester I-2018, menjadi Rp9,803 triliun pada semester I-2019.

Penurunan laba bersih konsolidasian ini, kata Prijono, disebabkan oleh harga baja yang naik, nilai tukar yang naik, harga beberapa komoditas seperti kelapa sawit yang turun, serta penjualan alat berat yang juga turun akibat harga batu bara yang turun.

Lebih lanjut, Priyono memperkirakan penjualan otomotif hingga tahun 2020 masih akan menjanjikan. Apalagi Bank Indonesia(BI) kembali menurunkan tingkat suku bunga 0,25 basis poin (bps).

Berita Lainnya