close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Ilustrasi. Pembangunan proyek di Jakarta. Foto Pixabay
icon caption
Ilustrasi. Pembangunan proyek di Jakarta. Foto Pixabay
Bisnis
Jumat, 24 September 2021 10:45

Pilarmas Sekuritas: Dukungan berkelanjutan untuk perusahaan perlu dilakukan

Pembuat kebijakan juga harus memperhatikan risiko lain, termasuk perubahan iklim, geopolitik, dan kondisi keuangan yang semakin ketat.
swipe

Asian Development Bank (ADB), baru-baru ini telah memangkas proyeksi pertumbuhan di Asia pada tahun ini menjadi 7,1% dari sebelumnya 7,3%. Hal ini dipicu karena pemulihan ekonomi di sebagian negara Asia tidak merata akibat pandemi dan aturan restriksi. 

ADB juga melihat pertumbuhan moderat sebesar 5,4% di Asia pada 2022. Asia dinilai masih tetap rentan terhadap penyebaran jumlah kasus baru Covid-19. Gelombang varian baru, diprediksi masih akan mendorong para pemangku kepentingan untuk membuat kebijakan restriksi. Pemulihan ekonomi di Asia yang tidak merata, bisa diindikasikan oleh ekspor Asia timur yang tertolong dengan peningkatan permintaan.

Proyeksi pertumbuhan di China sebagai ekonomi terbesar di Asia tetap 8,1% pada 2021 dan menjadi 5,5% pada 2022. Sedangkan proyeksi pertumbuhan di Hong Kong, Korea Selatan, dan Taiwan, meningkat.

Untuk proyeksi pertumbuhan di Asia Tenggara, turun menjadi 3,1% dari 4,4%. Penurunan tersebut dipicu oleh pertumbuhan ekonomi di Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Vietnam yang lambat. 

Senior Country Economist ADB Henry Ma mengatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun depan hanya 4,8% secara tahunan (yoy). Proyeksi ini lebih rendah dari prediksi ADB sebelumnya yang mencapai 5,0% yoy.

Selain itu, dampak penyebaran jumlah kasus baru di Kawasan Asia Tenggara dinilai memberikan tekanan yang cukup besar pada awal tahun ini. Hal ini diikuti dengan penutupan beberapa pabrik di kawasan tersebut sehingga menghambat pada rantai pasok dunia. Namun, setelah beberapa negara berhasil menurunkan kasus Covid-19, perekonomian mulai terlihat bergerak kembali. 

Berikutnya, proyeksi pertumbuhan ekonomi India juga dipangkas turun dari 11% menjadi 10% pada tahun ini. Dalam riset ADB, menunjukkan progres vaksinasi yang tidak merata menyebabkan jalur pertumbuhan jadi terpecah. 

Dalam rilis research report tersebut, ADB juga melihat inflasi akan tetap terjaga hingga akhir tahun, tetapi akan meningkat di beberapa negara. Inflasi regional diperkirakan sebesar 2,2% tahun ini sebelum meningkat menjadi 2,7% pada 2022. 

ADB menemukan bahwa negara-negara yang dapat menyelenggarakan vaksinasi lebih cepat dan menekan penyebaran virus, dapat menghindari pemberlakuan restriksi yang ketat. Ini menyebabkan negara-negara tersebut dapat terus beroperasi memanfaatkan permintaan global. 

Sementara dalam catatan Pilarmas Investindo Sekuritas, Jum’at (24/9), menilai, gelombang varian baru tetap menjadi risiko utama yang harus diperhatikan. Tetapi, pembuat kebijakan juga harus memperhatikan risiko lain, termasuk perubahan iklim, geopolitik, dan kondisi keuangan yang semakin ketat.

“Kami melihat langkah-langkah kebijakan seharusnya tidak hanya fokus pada pembatasan dan vaksinasi, tetapi juga pada dukungan berkelanjutan untuk perusahaan dan rumah tangga dan reorientasi sektor,” tulis Pilarmas Investindo Sekuritas.

img
Zulfikar Hardiansyah
Reporter
img
Hermansah
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan