close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Wakil Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listiyanto dalam diskusi Indef, Kamis (16/3/2023) . YouTube Indef
icon caption
Wakil Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listiyanto dalam diskusi Indef, Kamis (16/3/2023) . YouTube Indef
Bisnis
Kamis, 16 Maret 2023 14:55

Ekonom Indef ungkap penyebab jatuhnya Silicon Valley Bank

Silicon Valley Bank (SVB) dan Signature Bank merupakan imbas dari tingginya inflasi di Amerika.
swipe

Wakil Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listiyanto menjelaskan, ambruknya dua bank besar di Amerika Serikat (AS), yaitu Silicon Valley Bank (SVB) dan Signature Bank merupakan imbas dari tingginya inflasi di Amerika.

Upaya Bank Sentral AS Federal Reserve, dalam mengendalikan inflasi dengan menaikkan suku bunga acuan The Fed yang agresif sejak 2022, membuat kedua perbankan tersebut tidak mampu beradaptasi. Seperti diketahui, inflasi di Amerika sejak 2020 terus naik tajam hingga puncaknya tertinggi di Agustus 2022 tercatat 11,4% (yoy).

“Inflasi Amerika sebelum pandemi Covid-19 itu relatif rendah, rata-rata per tahunnya 2%. Tetapi semenjak pandemi di 2020 inflasi naik terus dengan rata-rata 9%,” kata Eko dalam diskusi Indef, Kamis (16/3).

Eko menuturkan, The Fed memutuskan menaikkan suku bunga secara agresif agar inflasi menurun, sehingga daya beli masyarakat tetap tinggi, pencegahan terjadinya resesi, dan pelemahan ekonomi. Upaya The Fed menekan inflasi pun berhasil menjadikan inflasi AS di akhir 2022 menjadi 6,5% (yoy).

“Dalam kurun satu tahun, The Fed menaikkan suku bunga acuan sekitar 4,75% di 2022 dan ini langkah akseleratif yang melebihi dari harapan-harapan negara lain. Inflasinya memang turun di Februari 2023 jadi 6%, dan berhasil memberikan confident bagi The Fed sendiri,” kata dia.

“Tetapi akhirnya, SVB harus collapse dan disusul bank lainnya seperti Signature Bank. Implikasinya tentu ini akan meluas. Inilah kebijakan moneter, ketika sangat agresif, ya tidak semua respons pelaku perbankan akan adaptif,” ujar Eko menambahkan.

Sebagai informasi, SVB adalah bank spesialis pemberi pinjaman pada perusahaan startup atau rintisan teknologi yang beroperasi di seluruh negara di dunia, seperti Jerman, Inggris, Israel, Kanada, China, Denmark, dan Irlandia. Total aset SVB sendiri sebesar US$209 miliar di 2022 dan deposito sekitar US$175,4 miliar.

Terjadinya kolaps SVB diungkapkan Eko, lantaran perusahaan-perusahaan rintisan yang menyimpan dana di bank tersebut berusaha mempertahankan diri seperti membayar pegawai dan ongkos produksi, namun sulit untuk melakukan ekspansi usaha melalui IPO. Sehingga sumber pendanaan hanya bergantung pada simpanan di bank.

“Tetapi problematikanya, SVB ini menyimpan sebagian besar asetnya dari Dana Pihak Ketiga (DPK) pada surat utang pemerintah. Memang jika disimpan dalam surat utang pemerintah secara umum aman. Tetapi kalau kita jual surat utang saat suku bunga tinggi, maka harga obligasinya murah, karena masyarakat lebih suka menabung daripada beli surat utang pemerintah,” ucap Eko.

Sehingga kata Eko, jika surat utang tersebut tetap dijual, maka harganya jatuh. Alhasil, SVB pun terpaksa harus menyediakan cash yang diajukan para deposan, namun yang terjadi adalah mismatch.

Mismatch itu situasi kira-kira banyak kekurangan dana karena saking banyaknya dana yang ditarik,” tuturnya.

Karena SVB tak mampu menyediakan penarikan dana dari deposan, maka bank tersebut pun kolaps dalam waktu kurang dari 48 jam. Menurut Eko, jika hal tersebut tidak segera ditangani, maka penutupan SVB dapat memicu resesi ekonomi global. 

img
Erlinda Puspita Wardani
Reporter
img
Hermansah
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan