close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Ekonom Senior Mirae Asset Sekuritas, Rully Wisnubroto dalam paparannya menjelaskan proyeksi EKonomi Indonesia di 2023, Jumat (20/1). (Tangkapan Layar Youtube Mirae Asset)
icon caption
Ekonom Senior Mirae Asset Sekuritas, Rully Wisnubroto dalam paparannya menjelaskan proyeksi EKonomi Indonesia di 2023, Jumat (20/1). (Tangkapan Layar Youtube Mirae Asset)
Bisnis
Jumat, 20 Januari 2023 11:13

Ekonom yakini BI akan pertahankan suku bunga di 5,75% sepanjang 2023

Inflasi tahun ini diperkirakan di 2023 akan di kisaran 3,65%.
swipe

Ekonom Senior Mirae Asset Sekuritas, Rully Wisnubroto menilai, kebijakan Bank Indonesia (BI) yang baru saja menaikkan suku bungan acuan BI7DRR sebanyak 25 basis poin (bps) menjadi 5,75%, adalah langkah yang terakhir kali dalam siklus pengetatan kebijakan moneter saat ini.

“Jadi kita perkirakan di bulan Februari 2023 tidak akan ada lagi kenaikan suku bunga, akan tetap flat di 5,75% sampai akhir tahun 2023,” tutur Rully dalam risetnya secara daring, Jumat (20/1).

Namun Rully juga mengatakan, ia belum melihat adanya potensi BI untuk menurunkan suku bunga acuannya di 2023.

Sedangkan, pada pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB), ia memprediksi di tahun ini akan mengalami pertumbuhan mencapai 4,88%. Rully menguraikan perkiraannya, Konsumsi Rumah Tangga di 2023 akan sebesar 4,84%, pengeluaran pemerintah turun 1,40%, investasi mencapai 6%, ekspor 11,65%, dan impor di 10,09%.

“Untuk inflasi sendiri, kami perkirakan di 2023 akan di kisaran 3,65%,” katanya.

Sebelumnya, Gubernur BI, Perry Warjiyo melaporkan BI menaikkan suku bunga acuannya 25 bps sebagai langkah lanjutan front loaded, pr emptive, dan forward looking untuk memastikan terus berlanjutnya penurunan ekspektasi inflasi dan inflasi ke depannya. Dia juga meyakini di 2023, inflasi akan tetap terkendali.

“BI yakin inflasi inti tetap ada di kisaran 3,0±1% di semester I-2023 dan inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) kembali dalam sasaran 3,0±1% pada semester II-2023,” tutur Perry.

Lebih lanjut, Perry menyebutkan pertumbuhan ekonomi nasional di 2023 diperkirakan akan tetap berlanjut namun melambat di kisaran 4,5% hingga 5,3% yang sejalan dengan menurunnya prospek pertumbuhan ekonomi global dari 2,6% menjadi 2,3% di tahun ini.

Pada konsumsi rumah tangga, BI memperkirakan aka nada pertumbuhan yang lebih tinggi karena peningkatan mobilitas masyarakat setelah Pemberlakukan Pembatasan Kebijakan Masyarakat (PPKM) dihapuskan. Investasi juga diproyeksikan akan membaik didorong membaiknya prospek bisnis, naiknya aliran masuk Penanaman Modal Asing (PMA), dan berlanjutnya penyelesaian Proyek Strategis Nasional (PSN).

“Ekspor diperkirakan tumbuh lebih rendah akibat melambatnya ekonomi global, meskipun akan termoderasi dengan permintaan dari Tiongkok,” ujar Perry.

Berdasarkan lapangan usaha, prospek di 2023 terdapat pada industri pengolahan, perdagangan besar, dan eceran, informasi dan komunikasi, serta konstruksi yang menurut perkiraan BI akan tumbuh cukup kuat didorong kenaikan permintaan domestik tersebut.

“Sementara secara spasial, pertumbuhan ekonomi yang kuat diperkirakan terjadi di seluruh wilayah seiring dengan perbaikan permintaan domestik,” ucap Perry. 

img
Erlinda Puspita Wardani
Reporter
img
Ayu mumpuni
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan