sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Gojek, Tokopedia, Bukalapak, dan Traveloka diklaim milik Singapura

Empat unicorn Indonesia, yakni Gojek, Tokopedia, Bukalapak, dan Traveloka, diklaim milik Singapura.

Ardiansyah Fadli
Ardiansyah Fadli Rabu, 31 Jul 2019 00:34 WIB
Gojek, Tokopedia, Bukalapak, dan Traveloka diklaim milik Singapura

Empat unicorn Indonesia, yakni Gojek, Tokopedia, Bukalapak, dan Traveloka, diklaim milik Singapura.

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Lembong mengaku heran dengan hasil riset yang dilakukan oleh Google dan Temasek Holdings, perusahaan BUMN Singapura. Riset yang dipublikasikan baru-baru ini tersebut menyebutkan empat unicorn asal Indonesia justru milik Singapura.

Keempat unicorn dengan valuasi masing-masing lebih dari US$1 miliar setara Rp14 triliun itu diklaim digenggam oleh investor asal Negeri Singa. Padahal, keempat unicorn RI ini selalu menjadi kebanggaan Presiden Joko Widodo yaitu Go-Jek, Tokopedia, Traveloka dan Bukalapak.

"Riset Google dan Temasek yang menunjukkan pertumbuhan ekonomi Asean, malah empat unicorn kita diklaim sebagai unicorn mereka (Singapura)," kata Thomas di Gedung BKPM Jakarta, Selasa (30/7).

Holding BUMN Singapura itu menyebut Indonesia justru tak memiliki perusahaan rintisan sekelas unicorn sama sekali. Hal itu dilihat dari kepemilikan saham yang dibenamkan oleh investor di dalam unicorn tersebut.

"Saya (sempat) tidak mengerti juga, ada tabel tentang unicorn, Indonesia nol tapi di Singapura ada empat," ujar Thomas.

Thomas mengakui keempat unicorn di Indonesia ini memang investor induknya berasal dari Singapura. Menurut dia, ketika ada suntikan dana masuk ke perusahaan rintisan, akan melalui negara tersebut.

"Uang yang masuk keempat unicorn kita, masuknya lewat Singapura. Dan sering kali masuknya bukan dalam bentuk investasi, tapi oleh induk unicorn di Singapura langsung bayar ke vendor atau supplier di Indonesia dari Singapura," jelasnya. 

Sponsored

Thomas menjelaskan hal ini tentu membingungkan, misalnya ketika Go-Jek mendapatkan suntikan dana, namun dana tersebut tidak terdata sebagai investasi. 

"Kata dia jawabannya investasi ke Go-Jek yang beroperasi di Indonesia itu masuk melalui Singapura atau induk investornya. Dari induk investornya tersebut, langsung dibayar ke perusahaan di Indonesia seperti vendor, perusahaan iklan, sewa kantor, hingga perusahaan leasing, sehingga tidak tercatat sebagai investasi di Indonesia," jelas Thomas. 

"Misalnya untuk membantu mitra ojeknya untuk sewa sepeda motor atau mobil, itu sering kali arus modal masuknya berbentuk pembayaran langsung oleh induk unicorn (di Singapura) kepada vendor di Indonesia," lanjutnya. 

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Masayoshi Son, CEO SoftBank pagi tadi berkunjung ke Istana Merdeka, bersama pemimpin Grab dan Tokopedia. Ada apa gerangan, pemimpin grup perusahaan raksasa Jepang jauh-jauh datang ke Jakarta? Rupanya, Masayoshi Son hendak menambah investasinya di bidang teknologi dan pengembangan unicorn di Indonesia. SoftBank akan membuka kantor pusat kedua Grab di Indonesia, menjadikannya unicorn ke-5 di Indonesia, sekaligus menginvestasikan USD2 miliar melalui Grab. Di saat yang sama, SoftBank juga berniat mengucurkan lebih banyak investasi ke unicorn lokal Indonesia, Tokopedia, dan membantunya berkembang lebih jauh lagi. Pak Masayoshi bahkan ingin berinvestasi lebih banyak di Indonesia terutama terkait mobil listrik, baterai litium, dan beberapa platform lainnya.

A post shared by Joko Widodo (@jokowi) on

Lembong meralat

Sekitar pukul 20.42 WIB, Thomas Lembong melalui akun Twitter terverifikasi miliknya @tomlembong meralat pernyataannya siang tadi. 

Dalam akun Twitter pribadinya itu, Thomas menyebut bahwa Tokopedia, Bukalapak, dan Go-Jek telah memberikan klarifikasi. Ketiga start-up berstatus unicorn itu tidak memakai induk perusahaan di Singapura.

Mantan Menteri Perdagangan itu juga mengonfirmasi bahwa perusahaan-perusahaan tersebut sepenuhnya tercatat sebagai Penanaman Modal Asing (PMA), di mana investasinya mengalir ke Indonesia.

"Maaf & ralat: @tokopedia dan @bukalapak sudah klarifikasi ke saya, @gojekindonesia sudah klarifikasi ke publik: mereka tidak pakai induk perusahaan di Singapura, tapi sepenuhnya PT PMA di Indonesia. Saya bicara terlalu jauh, mengomentari bahan Google-Temasek ini," cuitnya.

Riset yang dimaksud Lembong adalah e-Conomy SEA 2018: Southeast Asia's internet economy hits an inflection point. Riset itu dilakukan oleh Google dan Temasek untuk melihat perkembangan ekonomi digital di Asia Tenggara.

Riset itu mencakup empat sektor kunci dalam ekonomi digital, yakni online travel, online media, ride hailing, dan e-commerce. Riset tersebut juga hanya dilakukan di enam pasar terbesar ASEAN, yakni Indonesia, Singapura, Malaysia, Filipina, Thailand, dan Vietnam.

Istilah unicorn memang istilah baru, untuk menyebut perusahaan rintisan (start-up) dengan nilai ekonomi hingga US$1 miliar setara Rp14 triliun. 

Dalam riset Ohio University, istilah ini muncul pada 2013. Adalah Aileen Lee, pendiri Cowboy Ventures, yang pertama kali memunculkan istilah ini melalui artikel berjudul "Welcome To The Unicorn Club: Learning From Billion-Dollar Startups" di laman techcrunch.com.

Unicorn merujuk pada hewan khayalan yang mirip dengan kuda sembrani. Bedanya, kuda sembrani memiliki sayap, sementara unicorn memiliki satu tanduk berulir di bagian kepalanya. 

Gojek bahkan disebut-sebut telah masuk kategori decacorn. Istilah ini merujuk sebuah perusahaan start-up dengan valuasi sekitar US$10 miliar, setara Rp140 triliun.