sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Gonjang-ganjing rupiah terpelanting oleh dollar AS

Nilai tukar rupiah kembali melemah dan harus menyerah mendekati Rp14.000 terhadap dollar Amerika Serikat.

Sukirno
Sukirno Rabu, 25 Apr 2018 18:15 WIB
Gonjang-ganjing rupiah terpelanting oleh dollar AS

Nilai tukar rupiah kembali melemah dan harus menyerah mendekati Rp14.000 terhadap dollar Amerika Serikat. 

Kurs rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, Rabu (25/4), ditutup melemah 37 poin ke level Rp13.909 per dollar AS dari sebelumnya Rp13.872.

Analis Monex Investindo Futures Faisyal, mengatakan sentimen yang menjadi perhatian pelaku pasar uang adalah kenaikan imbal hasil (yield) obligasi Amerika Serikat bertenor 10 tahun yang telah melewati level 3% untuk pertama kalinya sejak 2014. Kondisi tersebut dinilai membuka potensi adanya kenaikan suku bunga AS dalam waktu dekat.

"Selain yield obligasi yang tinggi, menguatnya dollar AS juga karena data ekonomi Amerika Serikat yang optimistis," katanya, dilansir Antara.

Dia mengemukakan, salah satu data ekonomi yang muncul yakni Indeks Kepercayaan Konsumen AS selama April meningkat ke level 128.7, naik dibandingkan bulan sebelumnya.

"Penilaian konsumen AS saat ini membaik, dengan begitu maka kondisi bisnis dan pasar tenaga kerja cukup menguntungkan," katanya.

Analis Binaartha Sekuritas Reza Priyambada menambahkan, pelemahan rupiah juga sejalan dengan mata uang di negara berkembang. Dengan meningkatnya imbal hasil obligasi AS dan prospek suku bunga AS yang lebih tinggi, maka dollar AS menjadi perhatian pelaku pasar.

"Rupiah bersama dengan mata uang emerging market mengalami tekanan karena faktor itu," katanya.

Sponsored

Kendati demikian, lanjut dia, adanya intervensi dari Bank Indonesia akan menahan tekanan rupiah lebih dalam. BI bakal menjaga fluktuasi nilai tukar sesuai dengan fundamentalnya.

Sementara itu, dalam kurs tengah BI pada Rabu (25/4) mencatat nilai tukar rupiah bergerak menguat ke posisi Rp13.888 dibandingkan dengan posisi sebelumnya Rp13.900 per dollar AS.

Bukan cerminan fundamental

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menilai pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS dalam sepekan terakhir hingga hampir menembus Rp14.000 per dollar AS, tidak mencerminkan fundamental ekonomi Indonesia.

"Sebenarnya fundamental itu ada di angka Rp13.500-Rp13.600 per dollar AS. Tapi kalau situasi dipicu dengan omongan macam-macam, bisa saja ia bergerak sedikit kesana sedikit kesini. Tapi sebetulnya tidak ada sesuatu yang membuat ia berubah secara signifikan," ujar Darmin saat ditemui usai menghadiri Munas APINDO X di Jakarta.

Pada pekan lalu, Presiden Amerika Donald Trump berkicau di Twitter yang isinya menuduh China dan Rusia sebagai manipulator kurs karena melakukan devaluasi mata uangnya. Devaluasi mata uang biasanya dilakukan agar ekspor suatu negara menjadi lebih murah dan lebih bersaing di pasar global.

"Sekarang kondisinya sudah lebih tenang sebetulnya. Memang minggu lalu Presiden AS pakai Twitter mulai menuduh lagi beberapa negara sebagai manipulator kurs sehingga pasar juga mulai bergerak," ujar Darmin.

Kurs dollar AS menguat pada akhir perdagangan pekan lalu di tengah meningkatnya yield obligasi pemerintah AS. Indeks dollar AS, yang melacak greenback terhadap enam mata uang utama saingannya, naik 0,37% menjadi 90,277 pada akhir perdagangan.

Imbal hasil pada obligasi pemerintah 10-tahun bergerak di atas 2,957% pada Jumat (20/4) lalu, mencapai level tertingginya sejak Januari 2014.

Imbal hasil pada surat utang negara AS dua tahun mencapai 2,457%, level tertinggi sejak 8 September 2008 ketika surat utang negara dua tahun memberikan imbal hasil setinggi 2,542%.

Darmin yang juga mantan Gubernur BI mengaku optimistis kurs rupiah akan tenang kembali setelah beberapa hari terakhir mengalami pelemahan terhadap dolar AS.

"Jadi ini buka sesuatu yang basisnya cukup kuat untuk (rupiah) 'bergoyang' terus," katanya usai membuka Konferensi Internasional Minyak Kelapa Sawit dan Lingkungan (ICOPE) 2018 di Nusa Dua, Bali.

Menurut dia, optimisme nilai tukar Garuda akan kembali stabil dan menguat spekualasi yang diyakini tidak berlangsung lama. Pergerakan rupiah sudah mulai relatif tenang pada Kamis (19/4) mencapai Rp13.800 per dollar AS.

Akan tetapi, rupiah kembali berfluktuasi setelah Presiden AS Donald Trump mengeluarkan cuitan di media sosial Twitter yang menuding adanya manipulasi kurs Yen Jepang, Korea dan sebelumnya mata uang China.

Kendati demikian, Darmin menekankan masyarakat Indonesia untuk tidak terlalu khawatir dengan pelemahan nilai tukar Rupiah.

Secara terpisah, Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Rosan P. Roeslani menilai kalangan pelaku usaha membutuhkan kestabilan kurs rupiah di tengah tren pelemahan rupiah yang terus berlanjut.

"Industri itu yang penting ada kestabilan. Kalau tiba-tiba dari Rp13.500 ke Rp14.000 ya pening kepala," ujarnya di Jakarta.

Dia mengatakan pengusaha tidak mempermasalahkan besaran pelemahan rupiah asalkan ada kestabilan yang berlangsung dalam periode waktu tertentu.

Pasalnya, pengusaha akan kesulitan melakukan perencanaan bisnis karena kondisi nilai tukar mata uang yang terus berubah.

Dia pun pesimistis nilai tukar rupiah terhadap dollar AS yang beberapa hari ini mencapai Rp13.800 sulit kembali ke posisi Rp13.500.

"Tapi ya sudahlah stabil saja di Rp13.700-Rp13.750. Kalau sampai ke Rp14.000 dampaknya juga pasti ada," ucapnya.

Rosan mengaku pelemahan kurs rupiah di sisi lain juga berbuah manis bagi pengusaha tambang dan industri berorientasi ekspor.

Sayangnya, masih banyak industri di Indonesia yang bergantung pada bahan baku impor seperti makanan dan minuman serta farmasi. Kondisi lemahnya nilai tukar rupiah dipastikan membuat industri tersebut tercekik.

"Kalau di batu bara, mereka berharap bisa lebih dari Rp14.000 karena mereka menjual dengan dollar AS, sedangkan biaya produksinya dengan rupiah. Tapi kan banyak industri lain yang menggunakan material impor," ujarnya.

Berita Lainnya