sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

IBC: Terciptanya ekosistem industri baterai kendaraan listrik dan EV berefek sangat besar

Bahkan Arsjad juga berharap, dengan adanya alih teknologi ke depan Indonesia bisa menyuplai ekspor kemampuan SDM Tanah Air ke luar negeri.

Erlinda Puspita Wardani
Erlinda Puspita Wardani Kamis, 30 Jun 2022 10:01 WIB
IBC: Terciptanya ekosistem industri baterai kendaraan listrik dan EV berefek sangat besar

Pemerintah saat ini terus mengupayakan pengembangan ekosistem industri baterai kendaraan listrik dan kendaraan listrik itu sendiri atau Electric Vehicle (EV).  Salah satunya dengan mendirikan Indonesia Battery Corporation (IBC) pada 21 April 2021 lalu. IBC merupakan gabungan dari empat Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sektor pertambangan dan energy, yang terdiri dari holding industri pertambangan PT Indonesia Asahan Aluminium/Inalum (MIND ID), PT Antam Tbk (ANTM), PT Pertamina (Persero) dan PT PLN (Persero).

Hadirnya IBC sejalan dengan persiapan dan antisipasi perkembangan industri global pascapandemi Covid-19, sebab diyakini mode bisnis di seluruh dunia banyak berubah setelah pandemi. Dengan adanya pengembangan ekosistem ini, Menteri BUMN Erick Thohir dalam konferensi pers pendirian IBC yang disiarkan secara virtual (26/3/2021) menyampaikan agar Indonesia bisa melakukan alih teknologi dan penguasaan pasar global, sehingga tak melulu hanya menjadi market global.

Menurut Toto Nugroho, Direktur Utama IBC terciptanya ekosistem industri baterai kendaraan listrik dan EV bisa memberikan efek ganda yang sangat besar. Mulai dari investasi yang bisa meningkat dari 6 kali menjadi 11 kali lipat dengan terealisasinya penjualan baterai kendaraan listrik dan memberi dampak pada ketahanan serta transisi energi.

“Import minyak kita sangat tinggi, dengan adanya EV tentu bisa kurangi import minyak untuk bahan bakar. Dari hasil hitungan kami, jika kita konversi 30% ke EV di tahun 2030, Indonesia bisa saving US$6-7 miliar per tahun,” kata Toto dalam webinar berjudul “Ambisi Indonesia Kebangkitan Ekosistem Baterai Kendaraan Listrik” yang tayang langsung di akun Youtube Kementerian Investasi –BKPM, Rabu (29/6).

Efek positif lainnya yang Toto sampaikan adalah dampak baik bagi lingungan yakni diperkirakan bisa mengurangi emisi dari 5 ton per tahun menjadi 2 ton. Bahkan Toto juga menambahkan, emisi bisa menjadi nol bila EV menggunakan basis energi terbarukan dari solar. Untuk mendapatkan seluruh efek tersebut, Toto menegaskan IBC akan terus bekerja sama dengan berbagai pihak seperti kementerian investasi dan pihak swasta untuk melakukan pengembangan ekosistem industri baterai kendaraan listrik dan EV.

Di kesempatan yang sama, sejalan dengan harapan menteri BUMN dan tugas IBC, Tirta Nugraha Mursitama selaku Wakil Riset dan Transfer Teknologi Binus University menyampaikan pemerintah juga memiliki misi khusus, yaitu menyerap teknologi. Sehingga ekosistem industri baterai listrik dan EV mampu mendorong investasi di bidang Research and Development (R&D)

“Kita harus menyerap teknologi dari stakeholder asing, oleh karena itu kesiapan di sisi akademik juga harus diperhatikan agar ekosistem EV ini bisa berjalan,” ujar Tirta.

Tirta melihat, saat ini penelitian di Tanah Air terkait baterai listrik dan EV sudah berjalan dengan baik dan dianggap sudah siap dalam skala laboratorium atau penelitian. Namun ia menyayangkan, saat ini sumber daya manusia (SDM) Indonesia belum mampu meningkatkan hasil penelitian baterai listrik dan EV skala laboratorium menuju skala industri dengan konsistensi komponen produk tetap sama meskipun diproduksi secara massal.

Sponsored

“Kalau kita nyebutnya di sini perlu transfer technology office ya. Jadi sangat diperlukan kerja sama dengan kampus-kampus, “ imbuh Tirta.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) M. Arsjad Rasjid membenarkan perlunya alih teknologi pada SDM Indonesia benar terjadi.

“Benar sekali kata Pak Tirta. Nah di sini kita membangun ekosistem maka sangat perlu kerjasama seluruh stakeholder. Kita harus pastikan sama yang punya teknologi bahwa transfer teknologi beneran ada. Jangan cuma janji,” tandas Arsjad.

Bahkan Arsjad juga berharap, dengan adanya alih teknologi ke depan Indonesia bisa menyuplai ekspor kemampuan SDM Tanah Air ke luar negeri.

Berita Lainnya
×
tekid