sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

IMF proyeksi harga minyak dunia turun pada 2019

International Monetary Fund (IMF) memproyeksi harga minyak mentah dunia bakal turun pada 2019 ke level US$68,76 per barel.

Cantika Adinda Putri Noveria
Cantika Adinda Putri Noveria Selasa, 09 Okt 2018 19:38 WIB
IMF proyeksi harga minyak dunia turun pada 2019

International Monetary Fund (IMF) memproyeksi harga minyak mentah dunia bakal turun pada 2019 ke level US$68,76 per barel seiring peningkatan pasokan.

Meski demikian, berdasarkan Indeks Primer Harga Komoditas IMF, harga minyak mentah dunia akan meningkat sekitar 18% pada 2018 dibandingkan dengan rata-rata sepanjang periode 2017. Harga minyak diperkirakan bertengger rerata pada level US$69,38 per barel pada 2018. 

Proyeksi tersebut berdasarkan laporan IMF bertajuk World Economic Outlook (WEO). Proyeksi harga minyak mentah dunia tersebut lebih tinggi dari perkiraan WEO April 2018 sebesar US$62,3 dan harga 2017 US$52,8 per barel. 

Kemudian, IMF juga menyampaikan, pada 2030 harga minyak kembali bakal melorot ke level US$60 per barel. 

"Pasokan minyak global diperkirakan akan meningkat secara bertahap. Harga minyak menjadi US$68,76 per barel pada 2019," tulis IMF dalam laporannya yang dikutip Alinea.id, Selasa (9/10). 

Untuk diketahui, harga minyak dunia saat ini menginjak US$83,45 per barel (untuk jenis Brent) dan US$73,85 per barel untuk jenis (WTI). Jauh di atas asumsi APBN 2018 yang sebesar US$48 per barel. 

Sementara itu, harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian crude price (ICP) mengalami kenaikan sebesar US$5,53 per barel pada September 2018 menjadi US$74,88 per barel, dari ICP bulan Agustus yang tercatat US$69,36 per barel. 

Ketidakpastian harga minyak dunia ini, akhirnya mengubah asumsi makro pada RAPBN 2019, menjadi US$70 per barel. 

Sponsored

Selain harga minyak, IMF juga menyoroti harga logam. IMF memprediksi harga logam akan meningkat sekitar 5,3% pada 2018. Namun, menurun menjadi 3,6% pada 2019. 

Hal itu dikarenakan adanya efek realisasi tarif baru akibat tensi perang dagang yang membebani permintaan logam. 

Sektor finansial

Berdasarkan hasil laporannya, IMF juga menyebut kondisi keuangan global masih akan mengetat secara bertahap hingga 2020. Namun, secara umum masih bisa mendukung pertumbuhan ekonomi. 

Kondisi keuangan global juga masih tergantung pada kebijakan moneter di Amerika Serikat (AS) dan Inggris. 

"Kebijakan moneter di AS dan Inggris akan terus berlanjut, yang mengarah pada peningkatan suku bunga jangka panjang," jelas IMF. 

Di samping itu, volatilitas pasar keuangan diasumsikan masih tetap rendah. Meningkatnya yield obligasi sovereign akan menghasilkan adanya penyesuaian terhadap portofolio global. 

Meskipun adanya ketidakseimbangan makroekonomi dan keuangan telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir, penyebaran obligasi pemerintah untuk sebagian besar ekonomi pasar yang muncul diasumsikan tetap terkendali.

Berita Lainnya