sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

INDEF harap pemerintah tak mencabut subsidi BBM dan gas 3 kg

Kenaikan harga BBM, listrik dan gas akan berdampak pada biaya produksi yang mendorong terjadinya cosh push inflation.

Hermansah
Hermansah Rabu, 11 Mei 2022 14:42 WIB
INDEF harap pemerintah tak mencabut subsidi BBM dan gas 3 kg

Momentum pertumbuhan ekonomi yang dicapai pada triwulan I-2022 sebagai wujud dari kondisi ekonomi yang semakin membaik, bahkan hampir mendekati kondisi ekonomi sebelum terjadinya pandemi di angka 5%. Oleh karena itu, INDEF berharap hal itu mesti dijaga kualitas dan konsistensinya sepanjang 2022.

"Rencana kenaikan harga/tarif listrik akan mendorong biaya produksi kenaikan TDL akan menjadi efek domino pada harga bahan baku lokal pada industri intermediate dan industri hilir dan efisiensi. Maka perusahaan akan melakukan pengurangan karyawan," kata Wakil Direktur INDEF Eko Listiyanto, dalam keterangannya secara online, Rabu (11/5).

Untuk itu, pemerintah seyogianya menahan untuk melakukan kebijakan pencabutan subsidi BBM dan gas 3 kg, meskipun dalam interval harga keekonomian. Hal ini dikarenakan berpotensi menstimulus terdegradasinya kualitas pertumbuhan ekonomi dengan angka inflasi yang semakin meningkat.

Selain itu, kenaikan harga BBM, listrik dan gas akan berdampak pada biaya produksi yang mendorong terjadinya cosh push inflation. Naiknya harga jual, berpotensi penurunkan permintaan demand barang/jasa. Konsumen berpotensi memilih produk impor dengan harga jual yang lebih rendah. Tentunya hal ini dapat menurunkan daya saing produk lokal dibandingkan produk impor.

Apabila pemerintah tidak menahan kebijakan pencabutan subsidi TDL/listrik, BBM dan gas 3 kg maka performa ekonomi akan semakin berat untuk mencapai target pertumbuhan 5,2%. Konsekuensinya pemerintah harus mengeluarkan berbagai insentif baik terhadap industri pengolahan yang terdampak, juga terhadap daya beli masyarakat yang keduanya akan semakin mengkompensasi terhadap kualitas pertumbuhan yang rendah.

"Impact-nya kualitas, kontinuitas dan konsistensi pertumbuhan ekonomi tidak mampu terjaga," ucap dia.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, ekonomi Indonesia pada kuartal I-2022 mengalami pertumbuhan sebesar 5,01% secara tahunan atau year on year (yoy). Pertumbuhan di atas 5% ini, meneruskan pertumbuhan pada kuartal IV-2021 yang sebesar 5,02%.

Kepala BPS Margo Yuwono mengatakan, realisasi itu selaras dengan mulai pulihnya mobilitas masyarakat, yang kemudian berpengaruh positif pada kegiatan produksi, konsumsi, dan investasi.

Sponsored

"Bila dibandingkan triwulan I-2021 atau secara yoy, ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 5,01%," ujar dia, dalam konferensi pers virtual, Senin (9/5).

Selain karena pulihnya aktivitas masyarakat, tingginya pertumbuhan ekonomi RI pada kuartal pertama tahun ini, juga disebabkan oleh rendahnya pertumbuhan ekonomi pada kuartal pertama tahun lalu atau low base effect. Pada kuartal I-2021, ekonomi Indonesia kontraksi 0,74% yoy.

Kendati begitu, jika dibandingkan secara kuartalan, pertumbuhan ekonomi periode Januari-Maret 2022 ini, mengalami kontraksi tipis jika dibandingkan kuartal sebelumnya. Di mana BPS mencatat, ekonomi Indonesia pada kuartal ini turun 0,96% dibanding kuartal IV-2021 (qtq) yang mencapai 5,02%.

BPS juga menyebutkan, PDB pada kuartal I-2022 atas dasar harga berlaku sebesar Rp4513 triliun. Sedangkan bila berdasarkan harga konstan mencapai Rp2819,6 triliun.

Adapun faktor pendukung pertumbuhan ekonomi tersebut antara lain kapasitas produksi industri pengolahan sebesar 72,54% dan indeks penjualan ritel tumbuh 12,17%. PMI manufaktur mencapai 51,77%, atau lebih tinggi dari kuartal I-2021 sebesar 50,01%. 

"Artinya aktivitas sektor industri mengalami pertumbuhan," kata dia.

Berita Lainnya