Indonesia butuh terminal bandara murah

Pertumbuhan penumpang Low Cost Carrier naik 55% per tahun, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan Full Service Carriers (FSC).

Indonesia butuh terminal bandara murah Kementerian Pariwisata menyatakan Indonesia perlu memiliki terminal untuk pesawat berbiaya murah /Pixabay

Kementerian Pariwisata menyatakan Indonesia perlu memiliki terminal untuk pesawat berbiaya murah atau Low Cost Carrier Terminal (LCTT) untuk mengejar target 20 juta kunjungan wisatawan mancanegara (wisman). Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan pertumbuhan penumpang Low Cost Carrier naik 55% per-tahun, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan Full Service Carriers (FSC) yang hanya sekitar 7%. 

"Target yang diberikan presiden kepada kita menuntut pertumbuhan harus 20%, kalau kita ikut maskapai Full Service Carriers, maka pertumbuhan tidak akan pernah tercapai. Maka harus dengan Low Cost Carrier," kata  Arief dalam Rapat Koordinasi Percepatan Pembangunan Sektor Pariwisata Untuk Meningkatkan Devisa Negara di Kantor Kemenko Kemaritiman, Kamis (12/07).
 
Indonesia hingga kini belum memiliki LCCT, sehingga low cost carrier yang mendarat di Indonesia seperti Air Asia, Scoot, Jetstar dan lainnya harus menggunakan terminal full service yang harganya lebih tinggi. Dengan adanya terminal LCC, maka airlines bisa memotong biaya operasional hingga 50%, namun akan memiliki traffic yang meningkat dua kali lipat.

Arief memberi contoh beberapa bandara di  Jepang yang telah membangun LCCT, seperti Bandara Narita, Bandara Kansai, Bandara Naha, dan Bandara Nagoya. Bandara Narita yang baru saja membangun T3 sebagai LCCT pada April 2015 ini, pax traffic LCC-nya terus tumbuh dari 11,5% menjadi 31% pada 2017 dari pax traffic keseluruhan di Bandara Narita.

"Hasilnya turis inbound ke Jepang tumbuh 33% dari tahun 2011 sampai dengan 2015 dan menjadi the fastest rate in the world, mencapai 28,7 juta turis pada 2017," kata Arief.

Walaupun LCC identik dengan budget traveler, namun Arief tidak khawatir bila nantinya wisatawan yang berkunjung memiliki spending yang kecil. Arief yakin penggunaan LCCT tidak mempengaruhi belanja yang dihabiskan wisma per kunjungan (Average Revenue per Arrival/ARPA).

“Contohnya Thailand, punya banyak terminal LCC, namun Average Revenue per Arrival-nya (ARPA) mencapai 1.500 dolar AS. Sementara Indonesia masih di angka 1.200 dolar AS. Tingkat keterisian penumpang (okupansi) pesawat ke destinasi biasanya juga lebih banyak untuk kelas ekonomi,” kata Arief.

Arief memproyeksikan pembangunan LCCT di bandara yang telah memiliki lebih dari satu terminal sehingga salah satu terminalnya bisa diarahkan untuk LCCT. Dengan adanya LCCT di Indonesia, tentunya akan ikut mendorong pencapaian target kunjungan 20 juta wisman dari Presiden Joko Widodo.


Berita Terkait