sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Investasi industri manufaktur kuartal I-2020 capai Rp64 triliun

Nilai investasi industri pengolahan selama kuartal I-2020 menunjukkan angka positif di tengah tekanan pandemi Covid-19.

Annisa Saumi
Annisa Saumi Senin, 27 Apr 2020 19:55 WIB
Investasi industri manufaktur kuartal I-2020 capai Rp64 triliun
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 80094
Dirawat 37247
Meninggal 3797
Sembuh 39050

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat nilai investasi industri pengolahan selama kuartal I-2020 menunjukkan angka positif di tengah tekanan pandemi Covid-19. Sepanjang tiga bulan pertama 2020, total penanaman modal sektor manufaktur di tanah air menyentuh angka Rp64 triliun atau naik 44,7% dibanding capaian pada periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp44,2 triliun.

“Pada kuartal I-2020 ini, nilai investasi industri manufaktur memberikan kontribusi yang signifikan, hingga 30,4% dari total investasi keseluruhan sektor sebesar Rp210,7 triliun,” kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Senin (27/4).

Agus merinci nilai investasi sektor industri manufaktur pada triwulan I-2020 yaitu berasal dari penanaman modal dalam negeri (PMDN) mencapai Rp19,8 triliun, serta penanaman modal asing (PMA) sebesar Rp44,2 triliun. Jumlah tersebut naik dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, yakni PMDN sekitar Rp16,1 triliun dan PMA Rp28,1 triliun.

Sektor-sektor manufaktur yang menyetor nilai investasi secara signifikan pada kuartal I-2020, antara lain Industri logam dasar, barang logam, bukan mesin dan peralatannya sebesar Rp24,54 triliun, diikuti industri makanan sebesar Rp11,61 triliun, industri kimia dan farmasi Rp9,83 triliun, industri mineral non logam Rp4,34 triliun, serta industri karet dan plastik Rp3,03 triliun.

Sponsored

Selanjutnya, nilai investasi industri kertas dan percetakan sebesar Rp2,99 triliun, industri kendaraan bermotor dan alat transportasi lain sebesar Rp2,14 triliun, serta industri mesin, elektronik, instrumen kedokteran, peralatan listrik, presisi, optik dan jam sebesar Rp1,99 triliun.

Agus mengatakan sebelum terjadi pandemi Covid-19, industri pengolahan di tanah air masih menunjukkan kinerja yang positif. Hal ini tercermin pada capaian Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur Indonesia pada Februari 2020 berada di posisi 51,9 atau tertinggi sejak tahun 2005.

“Kami optimistis, dengan melakukan upaya mitigasi atau menerbitkan kebijakan-kebijakan strategis pada masa pandemi Covid-19 ini, tidak mustahil Indonesia sebelum tahun 2030 bisa menjadi salah satu kekuatan ekonomi terbesar di dunia,” ujarnya.

Berita Lainnya