sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

IPO, produsen keju Prochiz tingkatkan produksi di 2019

PT Mulia Boga Raya Tbk.produsen keju Prochiz menawarkan 100 juta lembar saham dengan harga Rp750 per lembar.

Annisa Saumi
Annisa Saumi Senin, 25 Nov 2019 12:29 WIB
IPO, produsen keju Prochiz tingkatkan produksi di 2019
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini

PT Mulia Boga Raya Tbk. (KEJU), produsen produk olahan keju dengan merek Prochiz, resmi melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (25/11).

Pada perdagangan perdana hari ini, saham emiten dengan kode KEJU ini dibuka lengsung menyentuh batas auto reject atas (ARA). Saham KEJU naik 50% ke level Rp1.125 lembar per saham dari harga pembukaan Rp750.

Direktur Utama Mulia Boga Raya Sandjaya Rusli mengatakan perseroan percaya dengan menjadi perusahaan tercatat yang transparan dan akuntabel, KEJU akan semakin tumbuh ke depan seiring dengan prospek bisnis di industri makanan dan minuman.

"Sesuai dengan visi Perseroan yaitu 'memasyarakatkan keju dan mengkejukan masyarakat', kami akan terus mengembangkan jumlah titik penjualan dan pemasaran, jumlah channel distribusi, serta penyediaan logistik,” kata Sandjaya di BEI, Jakarta, Senin (18/11).

KEJU menjadi perusahaan tercatat ke-47 di BEI tahun 2019. Perseroan menunjuk PT Lotus Andalan Sekuritas sebagai penjamin pelaksana emisi efek.

Adapun pada initial public offering (IPO) ini, perseroan melepas sejumlah 100 juta lembar saham dengan harga penawaran Rp750 per lembar. Dengan demikian, perseroan menargetkan dana yang diperoleh seluruhnya dari proses IPO sebesar Rp75 miliar.

Bersamaan dengan penawaran umum perdana saham ini, perseroan juga menerbitkan saham baru dalam rangka pelaksanaan konversi Obligasi Wajib Konversi sejumlah 200 juta saham biasa.

Direktur Prochiz Fridolina Alexandra Liliana mengatakan seluruh dana IPO tersebut akan digunakan perseroan untuk modal kerja perseroan guna menunjang pembiayaan kegiatan operasional dan produksi perseroan.  

Sponsored

"Seluruhnya untuk modal kerja, untuk pembelian bahan baku, operasional. Ada rencana juga untuk membuat pabrik baru pada 2021," kata Fridolina pada kesempatan yang sama.

Dengan IPO ini, Fridolina mengatakan perseroan akan meningkatkan utilisasi pabrik dari 71% ke 80% hingga akhir tahun 2019. Perseroan pun menargetkan penjualan sebesar Rp950 miliar hingga akhir tahun 2019, naik 10,9% dari penjualan secara full year pada 2018 sebesar Rp856 miliar.

"Kami menargetkan penjualan tumbuh 10% setiap tahun. Sehingga, pada 2021, perseroan akan menargetkan penjualan sebesar Rp1,3 triliun," tutur Fridolina.

Berita Lainnya