close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Ilustrasi ladang migas di lepas pantai (offshore). Freepik
icon caption
Ilustrasi ladang migas di lepas pantai (offshore). Freepik
Bisnis
Jumat, 02 September 2022 12:42

Jokowi mau proyek LNG Blok Masela segera dituntaskan, siapa diuntungkan?

Pembangunan Blok Masela molor menyusul rencana Shell, yang memiliki hak partisipasi 35% di Blok Masela, untuk hengkang.
swipe

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mau pembangunan lapangan hulu minyak dan gas abadi Blok Masela di Laut Arafura, Maluku, segera diselesaikan. Demikian disampaikannya saat mengunjungi Pasar Olilit, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku, Jumat (2/9).

"Blok Masela itu terus kita dorong, yang semula dulu sebetulnya sudah akan jalan Inpex, kemudian Shell. Tetapi, karena saat itu harganya [minyak] rendah sehingga ada satu yang mundur, pengerjaannya juga ikut mundur," ujarnya, melansir situs web Sekretariat Kabinet (Setkab).

"Partner yang baru terus kita dorong agar segera terbentuk lagi sehingga segera dimulai [pembangunan] Blok Masela," imbuh mantan Gubernur DKI Jakarta ini.

Saham Blok Masela dikuasai Inpex, korporasi asal Jepang, sebesar 65% dan sisanya dimiliki Shell Upstrem Overseas Ltd. Belakangan, Jokowi mendorong Indonesia Investment Authority (INA) menggantikan posisi Shell, yang hendak hengkang.

Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menargetkan Inpex mendapatkan mitra pada akhir 2022. Pangkalnya, proyek ditargetkan mulai berproduksi (onstream) per 2027.

Menurut Jokowi, pengoperasian Blok Masela bakal berdampak besar bagi perekonomian Kabupaten Kepulauan Tanimbar, khususnya di Saumlaki. Pun diyakini produksi liquefied natural gas (LNG) Masela berkontribusi terhadap produk domestik regional bruto (PDRB) Maluku.

"Yang mendapatkan keuntungan besar nanti kalau Blok Masela adalah di Kepulauan Tanimbar, di Saumlaki," katanya. "Itu akan baik untuk perputaran uang di daerah, untuk PDRB di Kabupaten Kepulauan Tanimbar dan juga Provinsi Maluku."

Sementara itu, Direktur Eksekutif Asosiasi Perusahaan Migas Nasional (Aspermigas), Moshe Rizal, sebelumnya berpendapat, keinginan Jokowi agar 35% hak partisipasi Shell diambil sebagai keputusan gegabah. Alasannya, biaya yang dikeluarkan akan jauh lebih besar dibandingkan blok migas lainnya, Blok Rokan dan Blok Mahakam.

Dirinya menyampaikan demikian lantaran Blok Rokan dan Blok Mahakam merupakan sumur produksi. Adapun Blok Masela masih tahap pengembangan.

"Masela dalam 5 tahun ke depan setelah produksi belum tentu ada pemasukan, hanya pengeluaran," ucapnya.

Pemerintah pun disarankannya berunding dengan Shell agar mengurungkan niatnya melepas hak partisipasi di Blok Masela. Menurut Moshe, pemerintah perlu mengakomodiasi permintaan perusahaan migas asal Belanda tersebut agar bebrsedia melakukan pengeboran di wilayah lepas pantai (offshore).

img
Fatah Hidayat Sidiq
Reporter
img
Fatah Hidayat Sidiq
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan