sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Kinerja BUMN farmasi jeblok di kuartal III-2019

BUMN farmasi PT Kimia Farma Tbk. (KAEF) mencatat penurunan laba bersih dan PT Indo Farma Tbk. (INAF) mengalami kerugian.

Annisa Saumi
Annisa Saumi Jumat, 01 Nov 2019 18:46 WIB
Kinerja BUMN farmasi jeblok di kuartal III-2019

Dua perusahaan pelat merah bidang farmasi, PT Kimia Farma Tbk. (KAEF) dan PT Indo Farma Tbk. (INAF) mencatat kinerja buruk selama kuartal III-2019.

PT Kimia Farma Tbk. (KAEF) mencatatkan penurunan laba bersih hingga 81,45%pada kuartal III-2019. Laba bersih Kimia Farma tercatat sebesar Rp41,83 miliar, turun dibandingkan dengan tahun sebelumnya sebesar Rp225,45 miliar.

Penurunan laba bersih ini disebabkan oleh penurunan penjualan obat generik hingga 13% menjadi Rp1,11 triliun dari Rp1,27 triliun secara tahunan (year on year/yoy).

Namun, segmen lain penjualan perseroan mengalami kenaikan hingga kuartal III-2019 ini. Di segmen penjualan obat ethical, lisensi, dan narkotika, Kimia Farma mencatatkan kenaikan penjualan sebesar 7,55% menjadi Rp743,20 miliar, dari Rp691,01 miliar secara yoy.

Kemudian, penjualan obat over the counter (otc) dan kosmetik juga mencatatkan kenaikan 35,61% menjadi Rp558,49 miliar, dari Rp411,83 miliar (yoy).

Meskipun pertumbuhan laba bersih perseroan anjlok, emiten berkode KAEF ini membukukan penjualan Rp6,8 triliun hingga kuartal III-2019. Penjualan ini naik 14,65% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp6 triliun.

Namun, tercatat liabilitas perseroan juga naik sebesar 38,61% menjadi Rp9,95 triliun per 30 September 2019, dari Rp7,18 triliun per 31 Desember 2018 (year-to-date/ytd).

GM Corporate Secretary Kimia Farma Ganti Winarno Putro dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (1/11) mengatakan kenaikan liabilitas tersebut disebabkan oleh beberapa hal.

Sponsored

"Pertama, peningkatan piutang usaha sebesar 97,77%, dari Rp1,32 triliun kuartal III-2018, menjadi Rp2,62 triliun pada kuartal III-2019. Hal ini dikarenakan pola bisnis perseroan di mana pembayaran piutang dari pelanggan akan dilakukan di kuartal IV," kata Ganti dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia, Jumat (1/11).

Dari laporan keuangan perseroan, salah satu piutang yang meroket pada kuartal III-2019 berasal dari BPJS Kesehatan. Kimia Farma tercatat memiliki piutang dari BPJS Kesehatan senilai Rp219,95 miliar, naik 1.575% dibandingkan dengan periode 31 Desember 2018 sebesar Rp13,12 miliar.  

Kedua, liabilitas perseroan naik disebabkan karena adanya peningkatan persediaan sebesar Rp755 miliar atau 35,51% karena adanya persediaan yang belum tercairkan penggunaannya untuk triwulan IV-2019.

Ketiga, lanjut Ganti, adanya peningkatan aset tetap sebesar Rp5,66 triliun sebagai dampak dari perubahan metode penilaian aset tetap tanah dari metode harga perolehan menjadi metode fair value.

"Terakhir, adanya peningkatan utang bank sebesar Rp2,77 triliun atau 57,10%, serta pencairan Medium Term Notes (MTN) untuk mendanai kegiatan operasional entitas dan dalam rangka akuisisi PT Phapros Tbk.," ujar Ganti.

Dengan demikian, aset perseroan mengalami kenaikan sebesar 57,67% menjadi Rp17,86 triliun, dari Rp11,32 triliun secara ytd. 

Keluarnya laporan keuangan kuartal III-2019 milik Kimia Farma ini direspons negatif oleh pasar. Saham KAEF tercatat terkoreksi 1,81% sebanyak 50 poin ke level Rp2.720 per lembar saham pada penutupan perdagangan Jumat (1/11). Kimia Farma memiliki kapitalisasi pasar sebesar Rp15,11 triliun.

Indo farma merugi

PT Indo Farma Tbk. mencatatkan kerugian bersih hingga Rp34,84 miliar pada kuartal III-2019. Kerugian ini menurun tipis 0,72% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp35,09 miliar.

Kerugian ini seiring dengan penurunan penjualan usaha perseroan sebesar 21,06% menjadi Rp583 miliar, dari Rp739 miliar secara yoy.

Penurunan penjualan ini disebabkan oleh penurunan hampir di seluruh segmen penjualan perseroan mulai dari penjualan alat kesehatan, diagnostik, dan lainnya, penjualan obat ethical, dan penjualan over the counter (OTC).

Penjualan alat kesehatan, diagnostik, dan lainnya tercatat menurun 31,25% menjadi Rp101,66 miliar, dari Rp147,87 miliar secara yoy.

Kemudian, penjualan obat ethical juga mengalami penurunan sebesar 18,64%, menjadi Rp464,65 miliar, dari Rp571,07 miliar secara yoy. Selain itu, penjualan OTC juga mengalami penurunan sebanyak 31,59% menjadi Rp7,42 miliar hingga kuartal III-2019, dari Rp10,84 miliar.

Menurunnya penjualan perseroan juga berpengaruh pada menurunnya jumlah aset perseroan sebesar 8,08%. Tercatat pada 30 September 2019, perseroan mencatatkan aset sebesar Rp1,32 triliun. Jumlah aset ini menurun dibandingkan per 31 Desember 2018 sejumlah Rp1,44 triliun (year-to-date/ytd).