Jangan abaikan! 10 tanda gangguan kejiwaan yang sering muncul
Gangguan kejiwaan sering kali berkembang secara perlahan sehingga gejalanya tidak selalu mudah dikenali. Perubahan emosi hingga perilaku dapat menjadi sinyal awal bahwa seseorang sedang mengalami masalah kesehatan mental.
Karena itu, mengenali tanda-tandanya sejak dini menjadi penting agar dapat memperoleh bantuan sebelum kondisinya semakin memburuk.
Penanganan yang dilakukan lebih awal juga dapat meningkatkan peluang pemulihan sekaligus membantu penderita menjalani aktivitas dan mempertahankan kualitas hidup.
Meski demikian, berbagai tanda berikut bukan berarti seseorang dapat dipastikan mengalami gangguan kejiwaan. Gejala tersebut dapat dipengaruhi oleh berbagai kondisi lain dan bukan menjadi dasar diagnosis.
Apabila beberapa tanda muncul secara bersamaan, berlangsung dalam waktu lama, atau mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, sebaiknya segera berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater.
Dilansir dari Rogers Behavioral Health dan Western Tidewater, Jumat (17/7), berikut sejumlah tanda gangguan kejiwaan yang perlu diwaspadai.
1. Sering merasa tidak berharga
Perasaan bersalah, malu, atau menganggap diri tidak berharga merupakan salah satu tanda yang perlu diperhatikan. Seseorang mungkin mulai merasa dirinya gagal, tidak berguna, atau hanya menjadi beban bagi orang lain, bahkan ketika tidak ada alasan yang jelas.
Perasaan tersebut dapat membuat seseorang kehilangan kepercayaan diri dan sulit melihat sisi positif dalam dirinya. Jika dibiarkan, kondisi ini dapat memengaruhi cara seseorang berpikir, mengambil keputusan, hingga berinteraksi dengan orang lain.
2. Menarik diri dari lingkungan
Seseorang yang sedang mengalami tekanan emosional sering kali mulai menarik diri dari lingkungan sosial. Mereka mungkin lebih sering menolak ajakan bertemu, membatalkan rencana, atau memilih menyendiri dibanding berkumpul bersama keluarga maupun teman.
Menyendiri sesekali merupakan hal yang wajar. Namun, ketika seseorang terus menghindari interaksi sosial dan kehilangan minat untuk berhubungan dengan orang lain, kondisi tersebut dapat menjadi tanda bahwa ia sedang mengalami kesulitan secara emosional.
3. Pola tidur dan makan berubah
Perubahan pola tidur maupun kebiasaan makan juga dapat menjadi tanda adanya masalah kesehatan mental. Seseorang bisa tidur jauh lebih lama, sulit tidur, kehilangan nafsu makan, atau justru makan secara berlebihan tanpa alasan yang jelas.
Perubahan tersebut sering kali berkaitan dengan depresi, kecemasan, stres, maupun gangguan kesehatan mental lainnya. Akibatnya, kondisi fisik dan energi sehari-hari ikut menurun.
4. Emosi mudah berubah
Perubahan suasana hati yang terjadi secara tiba-tiba atau berlangsung terus-menerus tidak boleh diabaikan. Seseorang dapat menjadi lebih mudah marah, sedih, atau tersinggung terhadap hal-hal kecil yang sebelumnya tidak menjadi masalah.
Perubahan emosi seperti ini dapat memengaruhi hubungan dengan orang lain serta membuat seseorang kesulitan mengendalikan responsnya dalam menghadapi berbagai situasi.
5. Sikap berubah drastis
Perubahan kepribadian yang terjadi dalam waktu singkat juga dapat menjadi tanda seseorang sedang mengalami tekanan emosional. Misalnya, orang yang biasanya ceria tiba-tiba menjadi pendiam atau sebaliknya.
Perubahan tersebut bisa terlihat dari cara berbicara, bersikap, hingga cara berinteraksi dengan orang di sekitarnya. Orang terdekat biasanya menjadi pihak pertama yang menyadari perubahan ini.
6. Kehilangan minat
Seseorang mungkin berhenti menikmati hobi atau aktivitas yang sebelumnya menjadi bagian dari rutinitasnya. Kegiatan seperti berolahraga, bermain gim, melukis, atau berkumpul dengan teman tidak lagi terasa menyenangkan.
Hilangnya minat terhadap aktivitas favorit dapat menunjukkan bahwa seseorang sedang mengalami tekanan emosional yang membuatnya sulit merasakan kesenangan atau motivasi.
7. Prestasi di Sekolah atau Tempat Kerja Menurun
Tekanan emosional dapat memengaruhi kemampuan seseorang untuk belajar maupun bekerja. Tugas yang sebelumnya mudah diselesaikan menjadi terasa berat sehingga prestasi atau produktivitas ikut menurun.
Selain itu, seseorang mungkin lebih sering absen, kehilangan semangat, atau mengalami masalah dalam berhubungan dengan guru, rekan kerja, maupun teman.
8. Sulit fokus dan mudah lupa
Seseorang yang sedang menghadapi tekanan emosional sering kali mengalami kesulitan berkonsentrasi. Akibatnya, mereka menjadi lebih mudah lupa, sulit mengikuti percakapan, atau kesulitan menyelesaikan pekerjaan.
Kondisi ini terjadi karena pikiran dipenuhi berbagai beban emosional sehingga kemampuan otak dalam memproses informasi ikut terganggu.
9. Mulai bergantung pada alkohol atau narkoba
Sebagian orang mencoba mengatasi tekanan emosional dengan mengonsumsi alkohol atau narkoba. Penggunaan zat tersebut dapat meningkat, baik dari segi frekuensi maupun jumlah, sebagai cara untuk melarikan diri dari perasaan yang sedang dialami.
Sayangnya, kebiasaan tersebut justru dapat memperburuk kondisi mental dan meningkatkan risiko munculnya masalah kesehatan lainnya.
10. Cemas berlebihan
Rasa gugup atau cemas merupakan hal yang wajar dalam situasi tertentu. Namun, pada gangguan kejiwaan, kecemasan dapat muncul secara terus-menerus tanpa penyebab yang jelas dan sering disertai rasa takut atau curiga terhadap orang lain.
Kecemasan yang berlebihan dapat membuat seseorang sulit berkonsentrasi, mudah gelisah, dan terus merasa waspada. Kondisi ini juga dapat mengganggu pekerjaan, hubungan sosial, hingga aktivitas sehari-hari.


