close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Ilustrasi Alinea.id/Debbie Alyuwandira.
icon caption
Ilustrasi Alinea.id/Debbie Alyuwandira.
Bisnis
Jumat, 25 Maret 2022 18:50

Latah artis bikin koin kripto: Sekadar aji mumpung?

Artis yang merilis koin kripto harus serius mengedukasi calon investornya bahwa investasi, terutama aset kripto tak melulu untung.
swipe

Saat Bitcoin muncul pertama kali di tahun 2009 dalam sebuah transaksi di internet, dunia menyadari kehadiran aset baru yang tidak terdesentralisasi. Namun, sekelompok pengembang yang memakai nama Satoshi Nakamoto justru membuat koin ini dibalut misteri.

Nakamoto mengakui bahwa ia memulai proyek Bitcoin pada 2007. Namun, ia baru mempublikasikannya pada 2008 dalam laporan berjudul The Cryptography Mailing List.

Sosok Nakamoto pun kini masih menjadi misteri, belum ada yang bisa membuktikan siapa pembuat Bitcoin tersebut. Terakhir, kisah siapa dibalik Bitcoin ditengarai adalah ilmuwan Nick Szabo. Memang, ia pernah mengakui bahwa dirinya bersama Finney atau Wei Dai sebagai pencipta precursor Bitcoin. 

Nama lain yang diduga sebagai Nakamoto yang paling terkenal lainnya adalah ilmuwan komputer dan pengusaha asal Australia, Craig Wright. Tidak seperti tersangka lainnya, Wright mengklaim dirinya adalah Nakamoto yang sebenarnya. Ia pun memberikan bukti teknis kepada BBC, The Economist, dan GQ berupa demonstrasi proses verifikasi yang digunakan pada transaksi Bitcoin yang pertama.

Terlepas dari siapa sebenarnya pencipta Bitcoin, peredaran aset kripto melonjak pesat. Tercatat hingga April 2021 ada 4.501 jenis mata uang kripto yang beredar di seluruh dunia. Adapun di Indonesia, Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) hanya mengizinkan 229 jenis mata uang kripto untuk diperdagangkan di Indonesia. Sebut saja Bitcoin, Ethereum, Tether, Polkadot, dan Litecoin.

Dewasa ini, terciptanya aset kripto juga tak lagi misterius. Bahkan, untuk menarik banyak pengguna, owner kripto akan menggandeng bintang-bintang besar sebagai Brand Ambassador. 

Praktisi Bisnis Rhenald Kasali mencontohkan aplikasi pertukaran cryptocurrency yang berbasis di Singapura Crypto.com merekrut aktor ternama Matt Damon sebagai bintang iklan. Langkah ini cukup efektif mengerek jumlah pengguna yang ditargetkan mencapai 10 juta tahun 2023. Namun, nyatanya target itu sudah terealisasi saat ini.

Selain itu, aplikasi ini juga hadir dengan jargon “Keberuntungan akan berpihak pada mereka yang mempunyai keberanian” untuk mengajak masyarakat berinvestasi kripto. “Ini debatable karena berani bisa juga kehilangan sesuatu, sesungguhnya yang perlu adalah siap bukan hanya berani,” kata Rhenald dalam akun Youtube-nya berjudul “Jutaan orang jadi Cryptomania dan Ambyar!” yang diunggah dua minggu lalu.

Ilustrasi cryptocurrency. Pixabay.com.

Mengapa butuh keberanian untuk berinvestasi kripto? Karena aset ini sangat fluktuatif dan tidak teregulasi. Karenanya, salah satu cara menggaet lebih banyak pengguna adalah menjadikan pesohor sebagai bintang iklan atau bahkan brand ambassador. 

“Media massa di AS menyebut: celebrities push cryptocurrency but fans carriers all the risk (selebritas mendorong cryptocurrency tapi semua fans menanggung risikonya),” kata Rhenald.

Contohnya, ketika Kim Kardashian mempromosikan Ethereum Max token beberapa waktu lalu. Artis yang mempunyai pengikut 267 juta di Instagram ini berhasil menggaet banyak investor. Namun setelah itu, aset ini anjlok 98%. 

Nama-nama pesohor lain juga ikut mendorong aset kripto kian semarak seperti Tom Brady dan istrinya, Gisele Bundchen yang menjadi brand ambassador FTX. Di Eropa, kata Rhenald, ada sosok Ruja Ignatova yang dikenal sebagai crypto queen. Perempuan Bulgaria lulusan Oxford ini menghilang setelah berhasil menyedot US$15 miliar dari 2014-2017.

“Ia mendirikan OneCoin yang diklaim sebagai bitcoin killer. Modusnya sama seperti tokoh-tokoh sebelumnya dengan money game berlapis-lapis, ponzi,” jelasnya.

Dia menciptakan kedok bisnis di bidang pendidikan yang tak lain adalah kursus cara berinvestasi cryptocurrency. Kemudian, di India ada sosok Amid Bharwaj yang tawarkan investasi kripto dengan keuntungan 10% setiap bulan namun investasi ini tak terbukti karena Bharwaj terlebih dahulu meninggal dunia.

Mulai dari situ, banyak artis-artis yang kemudian merilis token kriptonya sendiri. Tak terkecuali di Indonesia. Ada pasangan Anang Hermansyah-Ashanti yang merilis ASIX Token yang sempat heboh karena belum terdaftar di Bappebti. Lalu ada pasangan Rizky Billar dan Lesti Kejora dengan Leslar Coin. 

Informasi dari white paper Leslar Coin menjelaskan, nantinya token kripto tersebut dapat digunakan untuk membeli item digital dan menjadi akses untuk bermain game "play 2 earn" yang dikembangkan Leslar Metaverse. 

Koin LESLAR sebanyak 555 BNB berhasil terjual habis dalam private sale dalam 30 detik saja. Lalu ada putri pendakwah kondang Yusuf Mansur, Wirda Mansur yang meluncurkan I-COIN pada Februari lalu. 

Ada 3 produk yang dibuat oleh I-COIN yaitu ILAND (Metaverse), (IBW) P2E Game, dan (I-MARKET) NFT Marketplace. Ketiga produk ini saling berhubungan satu sama lain dan memiliki keunggulan bagi pengguna. Sayangnya, dugaan kebohongan Wirda Mansur terkait kuliah di Oxford justru menjadi bumerang, I-Coin merosot jauh dari harga saat dirilis.

Terakhir, Angel Lelga meluncurkan token kripto yang diberi nama Angel Token. Aset kripto milik mantan istri Rhoma Irama ini menyentuh angka 300 Binance Coin (BNB). Dalam White Paper Angel Token, Angel menjelaskan cryptocurrency sangat bagus dan terinspirasi untuk membuat lebih banyak dampak sosial bagi semua orang dalam penciptaan Angel Token.

Ilustrasi Alinea.id/Debbie Alyuwandira.

Rhenald Kasali pun mengingatkan agar calon investor mempelajari dahulu instrumen investasi yang akan dipilihnya, termasuk aset kripto. Kalaupun memilih aset ini, kata dia, para ahli menyarankan agar membeli tak lebih dari 5% dari total aset.

“Token ini banyak jenisnya ada platform token, security token, ada juga token yang hanya digunakan untuk transaksional, ada juga utility token untuk komersialkan produk anda. Bentuknya sangat beragam,” jelasnya.

Seperti kue kekinian artis 

Managing Partner Inventure Yuswohady menilai modal utama para selebritas adalah ketenaran, termasuk ketika terjun dalam ekosistem blockchain dengan metaverse, koin kripto maupun Non Fungible Token (NFT). 

“Ketika mereka berada pada kondisi puncak ketenaran, bersinar sifatnya itu bahasa halusnya riding the wave bahasa jeleknya aji mumpung. Memanfaatkan sesuatu yang lagi happening,” katanya saat berbincang dengan Alinea.id, beberapa waktu lalu.

Ditambah lagi, mereka mempunyai kekuatan barisan fans, followers maupun subscribers sosial media para selebritas yang menjadi basis massa tersendiri. Karenanya, Yuswohady mengatakan tak bisa dipungkiri para pesohor aji mumpung ketenaran dengan mengembangkan sayap bisnis dalam ekosistem blockchain.

“Cuma takutnya saya melihat potensi kripto bubble dan tanda-tanda itu sudah kelihatan dan bisa crash tiap saat,” sebutnya.

Namun, Penulis buku ‘Consumer Megashift Post Pandemic’ ini mengingatkan apakah para artis ini memiliki tim solid dibalik pengembangan koin kripto maupun NFT yang mereka terbitkan. Mengingat dunia blockchain ini adalah dunia baru yang membutuhkan bantuan tim profesional.

“Harus ada tim profesional, ini bahaya bubble dari sisi makro, lingkungannya. Dari sisi mikro kemampuan artinya takutnya mereka memanfaatkan momentum aji mumpung tanpa ngerti ini dunia apa dan mereka punya tim profesional yang ngerti ini,” bebernya.

Yuswohady pun menganalogikan tren artis meluncurkan koin kripto dan NFT ini seperti bisnis kue artis yang marak pada tahun 2019 lalu. Kue ‘kekinian’ yang viral di sosial media pada masanya itu ternyata tak mampu bertahan lama. Hanya dalam waktu singkat satu persatu jenama kue milik para pesohor bertumbangan.

“Kaya dulu kue artis itu semua artis bikin tapi dia enggak punya kompetensi produk benar-benar bagus enggak, makanannya enak enggak, atau cuma bawa nama artisnya saja,” ungkap dia.

Lambat laun, lanjutnya, bisnis kue kekinian yang kerap jadi oleh-oleh saat vakansi ini pun redup dan akhirnya hilang dari peredaran. Artinya, bisnis ini hanya nge-tren dalam waktu singkat alias tak berlangsung lama.

“Dapurnya satu bikinnya beda-beda ini enggak solid juga track record yang bikin kuenya. Tahun pertama emang orang pengen nyoba, apalagi kalau itu artisnya, tapi setelah itu enggak beli lagi, enggak sustainable, ada jenuhnya,” beber Yuswohady.

Namun demikian, untuk aset kripto artis risiko bisnis yang tidak bertahan lama ini bisa merugikan karena membawa dana investor. Apalagi, investasi kripto dikenal mempunyai risiko yang tinggi karena fluktuasinya.

“Terlepas dari siapa yang mengeluarkan token atau koinnya risikonya memang tinggi, harganya sangat volatile ini sangat berbahaya ketika masyarakat menggunakan uang yang enggak seharusnya diinvestasikan,” kata Pengamat Ekonomi dari Institute for Development of Economic and Finance (Indef) Nailul Huda kepada Alinea.id, Jumat (25/3).

Ilustrasi Unsplash.com.

Bahkan, dia menuturkan investasi aset kripto sebaiknya menjadi pilihan kedua terakhir jika ingin menambah penghasilan. Namun, tidak bisa dipungkiri investasi kripto menjadi alternatif pilihan di tengah perkembangan pasar digital yang membuat investasi kripto kian mudah.

Lebih lanjut, Huda melihat artis yang ramai-ramai merilis token hanya ikut tren semata. Menurutnya, mereka terbawa arus fear of missing out (FOMO) namun kurang mengedukasi calon investor yang membeli koin tokennya.

“Edukasi saja aset kripto jadi pilihan investasi dengan risiko tinggi karena harganya volatile dan itu harus disampaikan ke masyarakat. Saya enggak lihat ada peran edukasi ke masyarakat,” cetusnya.

Padahal, hal ini bisa menjadi bumerang bagi artis itu sendiri ketika harga kripto mereka merosot. Apalagi jika investor tidak memiliki literasi investasi yang memadai. “Bisa merugikan investornya,” tambah Huda.

Dia melihat koin token artis ke depannya tetap akan bertahan seiring dengan semakin berkembangnya ekosistem pasar digital kripto. Namun, soal kripto artis menguntungkan atau tidak justru diragukan.

“Enggak akan menguntungkan tapi akan tetap ada bagaimanapun yang sudah beli tetap punya. Value pasti akan turun, karena aset kripto yang dijual kan kegunaannya misal Bitcoin bisa buat beli Tesla,” ujarnya. 

Sementara token milik artis misalnya I-Coin maupun Leslar Coin misalnya, menurutnya, hanya memakai nama artisnya tapi tidak memiliki blueprint yang benar-benar bisa dimanfaatkan masyarakat. 

Selain itu, pasar koin artis juga kemungkinan relatif sempit karena hanya memanfaatkan jaringan fanbase maupun kolega artis itu sendiri. Beda halnya dengan produk NFT yang dirilis artis karena merupakan sebuah karya yang memang memiliki nilai.

Jurus pump and dump

Konten kreator investasi Gema Merdeka Goeyardi pun turut berkomentar terkait tren koin kripto para artis. Doktor ilmu manajemen yang giat melakukan edukasi pasar keuangan di sosial media ini membagikan ciri-ciri yang bisa diperhatikan investor terkait koin kripto, termasuk milik para artis.

Menurutnya, dalam dunia cryptocurrency, white paper –seperti prospektus dalam dunia saham– hanya berperan 10% sebagai fundamental yang menjadi pertimbangan calon investor. Selebihnya, sebanyak 90% pertimbangan utama adalah corporate governance dan kredibilitas owner

“Saham dan kripto sama, fundamental penting tapi di kripto ada yang menentukan yaitu developer bagaimana mereka akan bermain, owner menentukan kemana akan bawa aset, kontraktor, bisa disebut bandar, market maker atau apapun itu. Akan terlihat kalau owner-nya rampok,” ungkap penyebar ilmu Astronacci di pasar keuangan itu dalam kanal Youtube-nya, Astronacci International.

Dia pun mengakui masyarakat Indonesia masih memiliki literasi keuangan yang minim sehingga rentan kena tipu. Mereka pun kerap latah dan tergiur imbal hasil tinggi sehingga harus sering diedukasi.

Padahal, aset baik itu saham maupun kripto tidak mungkin harganya naik terus. Pasti ada kalanya mengalami penurunan harga dan kembali naik karena sentimen positif.

“Koin kripto dan lain-lain tidak bisa naik tanpa ada uang dan barang. Dengan adanya uang dan barang anda memiliki likuiditas, tanpa ada uang untuk menjaga (pergerakan harga), nonsense,” katanya.

Dia mengingatkan saat harga terpompa naik (pump), terjadi karena masih ada investor yang membeli aset. Namun, suatu saat pemegang aset akan melepas asetnya untuk mengambil untung (take profit).

“Dia akan exit, maka ada orang yang akan diinjak sebagai kesetnya, kalau mau jual enggak ada yang beli, abis,” bebernya. 

Terakhir, untuk kembali membuat harga naik maka akan dibuat cerita sehingga orang-orang pun ikutan (FOMO) dan akhirnya bisa ikut jatuh (dump). Karena itu, Gema pun membagikan tips cara melihat koin kripto yang bikin ambyar.

Pertama, kata dia, owner yang merilis token kripto bukan pemain di dunia finance. “Mentang-mentang artis bikin aja, hanya aji mumpung,” cetusnya.

Selain itu, kontraktor serta developer di belakangnya juga memiliki peran penting. Kredibilitasnya sangat diuji untuk menjaga pergerakan harga kripto pasca dirilis. “Kalau harga naik tinggi 3-5 hari pertama, hati-hati,” ungkapnya.

Menurutnya, saat pertama kali koin kripto terkoreksi akan terlihat pola distribusi serta suplly dan demand-nya. “Koreksi pertama harga jebol, banyak kejadian,” sebutnya.

Karena itu, Gema menekankan calon investor harus benar-benar mempelajari aset kripto yang akan dibelinya dan tidak terbawa arus FOMO. Investor juga harus memahami kala membeli kripto maka ada risiko tinggi yang mengiringinya. 

“Tidak ada satupun aset yang harganya akan naik terus, ini bukan deposito, ingat itu,” katanya.
 

img
Kartika Runiasari
Reporter
img
Kartika Runiasari
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan