close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Ilustrasi Alinea.id/Enrico P.W.
icon caption
Ilustrasi Alinea.id/Enrico P.W.
Bisnis
Selasa, 31 Oktober 2023 10:03

Lolos jebakan 5%, pangsa pasar perbankan syariah masih mandek di 7%

Peningkatan pangsa pasar perbankan syariah sangat lambat.
swipe

Laporan The Royal Islamic Strategic Studies Centre (RISSC) bertajuk The Muslim 500 edisi 2023 merilis jumlah populasi muslim di Indonesia mencapai 237,55 juta jiwa pada tahun 2022. Jumlah ini mencapai 86,7% dari total populasi penduduk Indonesia. Populasi muslim Indonesia juga menjadi yang terbanyak di kawasan negara-negara Association of Southeast Asian Nations (ASEAN), maupun secara global.

Namun, pangsa pasar atau market share industri perbankan syariah di tanah air masih sangat rendah. Meski berhasil keluar dari jebakan pangsa pasar 5% selama bertahun-tahun, namun kini angkanya masih tidak jauh dari 7%.

Market share perbankan sangat-sangat lambat dulu dikenal jebakan 5% tapi akhirnya bisa naik 7%,” ungkap Kepala Grup (Direktur) Literasi dan Inklusi Keuangan Syariah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mohammad Ismail Riyadi saat memaparkan literasi dan inklusi keuangan syariah di Bogor, Jawa Barat, Jumat (27/10) lalu.

Pangsa pasar bank syariah secara detail adalah 7,31% di mana aset perbankan syariah sebesar Rp749.3 triliun dari total aset perbankan nasional sebesar Rp11.258,6 triliun. Adapun persentase perbankan syariah mencapai 33,6% dari seluruh sektor jasa keuangan syariah.

Tercatat, industri keuangan non bank (IKNB) syariah pangsa pasarnya mencapai  4,91% yakni Rp157.6 triliun dari Rp3,209,1 triliun. Sementara pasar modal syariah memiliki pangsa pasar 18,56% yakni Rp1.470,4 triliun dari Rp7.923,1 triliun. Artinya, pangsa pasar perbankan syariah masih lebih rendah dibanding sektor pasar modal syariah.

Pangsa pasar ini, kata dia, dihitung dengan membandingkan aset keuangan konvensional dengan syariah. Menurutnya, meski pangsa pasar kecil namun pertumbuhan keuangan syariah cukup signifikan. Di sektor perbankan sendiri saat ini ada 13 Bank Umum Syariah (BUS), 20 Unit Usaha Syariah (UUS), dan 171 Bank Pembangunan Rakyat Syariah (BPRS).

Adapun jumlah pembiayaan syariah per Juni 2023 mencapai Rp525,14 triliun. Di mana nominal pembiayaan terbesar posisi Juni 2023 adalah sektor ekonomi Rumah Tangga sebesar Rp261,65 triliun atau 49,82% dari total pembiayaan.

Ismail menilai rendahnya pangsa pasar perbankan syariah tidak lepas dari literasi dan inklusi keuangan syariah masih jauh tertinggal dibanding keuangan konvensional. Ia mengatakan indeks literasi dan inklusi keuangan syariah masih tergolong sangat rendah, masing-masing sebesar 9,14% dan 12,12% pada tahun 2022. 

 

“Walaupun angka ini meningkat daripada tahun sebelumnya, namun tidak terjadi peningkatan yang signifikan,” katanya saat memberikan pemaparan literasi dan inklusi perbankan syariah di Bogor, Jawa Barat, Jumat (27/10).

Selain itu, terdapat gap yang sangat tinggi antara indeks keuangan nasional dan syariah. Gap ini bahkan semakin melebar setiap tahunnya. “Ini berarti kegiatan literasi inklusi keuangan masih belum dilakukan secara terintegrasi dan memperhatikan aspek syariah,” bebernya.

Menurutnya, survei indeks literasi dan inklusi keuangan syariah yang dilakukan tiga tahun sekali ini tidak naik signifikan. “Hanya 9 dari 100 orang yang gunakan keuangan syariah,” ungkapnya.

 

Dia memaparkan faktor penyebab rendahnya literasi dan inklusi keuangan syariah yakni awareness masyarakat terhadap keuangan syariah yang rendah. Lalu, belum kuatnya diferensiasi produk keuangan syariah dengan produk konvensional. 

Kemudian, sumber daya infrastruktur bank syariah juga belum memadai serta terbatasnya pengembangan produk dan layanan. Plus, pemanfaatan teknologi belum optimal dan aspek regulasi dan permodalan yang belum mendukung.

Menanggapi hal ini,  Peneliti Ekonomi Syariah INDEF Fauziah R. Yuniarti mengatakan ada beberapa hal yang mesti menjadi fokus perbankan syariah. Pertama aspek nilai di mana dia melihat belum adanya nilai yang berarti yang ditawarkan perbankan syariah yang membuat masyarakat merasa perlu membuka rekening bank syariah. Kedua, belum adanya inovasi yang cukup yang dapat mempengaruhi perilaku keuangan masyarakat sehingga ingin menggunakan produk perbankan syariah. 

“Terakhir produk, belum adanya produk yang cukup memenuhi kebutuhan masyarakat di berbagai sektor ekonomi. Ditambah lagi, mungkin produk tersebut tersedia di perbankan konvensional,” bebernya kepada Alinea.id, Senin (30/10).

Karenanya, dia menyarankan agar bank syariah segera melancarkan strategi demi meningkatkan pangsa pasarnya. Dari sisi marketing, kata dia, bank syariah perlu menonjolkan nilai-nilai universal yang bisa diterima dan mempengaruhi konsumen potensial dengan berbagai latar belakang SARA. 

“Kemudian product development dengan meningkatkan peran divisi research and development/R&D dalam meriset produk kebutuhan pasar sesuai sektor ekonomi dan tingkat pendapatan, serta memetakan dan menentukan konsumen prioritas dan potensial,” tambahnya. 

Terakhir yang tak kalah penting adalah digitaliasi. Meski mahal, Fauziah menilai perbankan syariah wajib melakukan investasi teknologi informasi. “Selain infrastruktur IT yang mahal, investasi IT juga meliputi risk management atas penerapan IT tersebut,” ungkapnya. 

Bagi bank syariah sendiri, berbagai upaya dilakukan demi meningkatkan jumlah nasabah. Salah satunya memberikan produk dan layanan yang mempermudah nasabah memiliki rumah. Seperti dilakukan oleh BCA Syariah yang menerapkan margin atau imbal hasil berjenjang.

“Misalnya, margin lima tahun pertama sekian, 10 tahun sekian, karena KPR untuk first home buyer jadi lima tahun pertama margin rendah biar dia bisa beli rumah dulu, setelah 5 tahu kan dia ada kenaikan pendapatan dan margin naik,” kata Sekretaris Perusahaan BCA Syariah Nadia Nadia Amalia Sekarsari kepada Alinea.id, beberapa waktu lalu.

Selain itu, BCA Syariah juga membuka opsi cicilan biaya KPR yang di awal biayanya cukup banyak. Cicilan bisa berlaku sampai 24 bulan. Jadi, meski pembiayaan bank syariah lebih menarik dari sisi inovasi tersebut.

Belum lagi, selain menerapkan prinsip syariah yang sesuai dengan aturan agama Islam, pembiayaan bank syariah juga lebih fair. Di mana kesepakatan antara nasabah dan bank dilakukan di awal melalui proses akad. 

“Kan kagetan karena kalau suku bunga floating, pas naik jadi nambah cicilannya. Bedanya di bank syariah kalau mau ada perubahan apapun harus akad lagi atas kesepakatan kedua belah pihak. Di-review pun enggak bisa sepihak, jadi prinsip fairness-nya gede,” paparnya.

Selain itu, pada 5 Juni lalu, BCA Syariah untuk pertama kalinya juga meluncurkan pembuatan rekening secara online. Program yang menyasar Gen Z mendapat antusiasme cukup besar terlihat dari jumlah rekening baru yang dibuka mencapai 204.000 dalam periode Juni-September 2023.

"Ini salah satu program menarik Gen Z dari sisi transaksi digital," ungkap Nadia.

img
Kartika Runiasari
Reporter
img
Kartika Runiasari
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan