sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Memacu denyut nadi pasar tradisional lewat digitalisasi

Kehadiran marketplace membantu pedagang pasar dan pelanggannya berinteraksi secara aman dan nyaman selama pandemi.

Syah Deva Ammurabi
Syah Deva Ammurabi Rabu, 11 Nov 2020 07:03 WIB
Memacu denyut nadi pasar tradisional lewat digitalisasi
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 511.836
Dirawat 64.878
Meninggal 16.225
Sembuh 429.807

Penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di sejumlah daerah menyebabkan terganggunya perekonomian nasional, tak terkecuali aktivitas jual-beli di pasar tradisional. Pembatasan jam beroperasi dan adanya anjuran pembatasan sosial menyebabkan jumlah pengunjung pasar tradisional semakin berkurang selama pandemi.

Berdasarkan survei DBS Indonesia yang dipublikasikan pada September silam, hanya 30% responden yang memilih pasar tradisional sebagai pilihan utama dalam berbelanja sembako dan bahan pangan pascapandemi Covid-19, turun signifikan dari 52% sebelum pandemi.

Di sisi lain, kekhawatiran masyarakat untuk keluar rumah turut memukul denyut nadi pasar tradisional. Menurut Survei Sosial Demografi Dampak Covid-19 yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS), sebanyak 69,43% responden mengaku khawatir atau sangat khawatir keluar rumah dan 20,69% cukup khawatir keluar rumah.

Fenomena tersebut berdampak terhadap penurunan omzet para pedagang pasar, salah satunya di Pasar Cikurubuk, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat. Kepala Bidang Perekonomian Sekretariat Daerah Kota Tasikmalaya Ramdhan mengungkapkan hampir semua pedagang pasar tersebut mengalami penurunan omzet hingga 50% sejak awal pandemi.

Pihaknya berupaya melakukan digitalisasi Pasar Cikurubuk untuk memudahkan transaksi antara penjual dan pembeli. Langkah ini dilakukan mengingat adanya anjuran pembatasan sosial dan jaga jarak. Digitalisasi tersebut dilakukan dengan memanfaatkan kehadiran marketplace Tokopedia.

Ilustrasi toko online Pasar Cikurubuk. Foto dokumentasi Tokopedia.

“Melihat kondisi ini, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kota Tasikmalaya bersama Tokopedia dan BI (Bank Indonesia) telah meluncurkan Pasar Cikurubuk Online untuk menghadirkan inovasi pada pasar tradisional lewat teknologi,” jelasnya.

Pemerintah Kota Tasikmalaya merupakan pemerintah daerah pertama yang melakukan digitalisasi pasar melalui Tokopedia. Koperasi Pasar Cikurubuk dilibatkan untuk mengelola akun bersama milik pedagang pasar sekaligus berperan membagi hasil penjualan kepada para pedagang.

Sponsored

Sebagai pengelola akun, Koperasi Pasar Cikurubuk menangani seluruh proses penjualan produk-produk milik pedagang Pasar Cikurubuk. Termasuk proses pengunggahan foto produk ke Tokopedia, memasukkan informasi harga, melayani penjualan sampai dengan menangani proses pengiriman kepada pembeli. Adapun jumlah pedagang yang terlibat dalam program ini mencapai lebih dari 100 orang.

“Upaya kolaborasi dengan berbagai pihak ini diharapkan dapat membantu para pedagang mempertahankan usaha sekaligus memulihkan perekonomian daerah,” ujar pria yang juga menjabat sebagai Tim Teknis Pasar Cikurubuk Online tersebut.

Direktur Kebijakan Publik dan Hubungan Pemerintah Tokopedia Astri Wahyuni menjelaskan pihaknya hanya mengaktifkan pengiriman menggunakan layanan kurir instan berbasis ojek daring untuk menjaga kesegaran produk dari Pasar Cikurubuk kepada pembeli. Adapun metode pembayaran yang digunakan berupa transfer bank, kartu kredit, hingga dompet digital.

“Kami melihat antusiasme pembeli yang tinggi terhadap toko Pasar Cikurubuk Online di mana lebih dari 19.000 produk telah terjual sejak diluncurkan pada April 2020 lalu. Respons dan penilaian pembeli terhadap kualitas produk dan layanan pun sangat baik yakni 4,8 dari 5 bintang,” katanya kepada Alinea.id, Kamis (5/11).

Kemudian, Tokopedia juga terus melakukan berbagai inovasi untuk memperluas penggunaan pasar daring tersebut antara lain dengan mengadakan kampanye yang melibatkan Pasar Cikurubuk Online secara berkala serta mengadakan berbagai promosi untuk terus meningkatkan penjualan. Hal ini juga dilakukan untuk mengatasi kemungkinan tingginya ongkos kirim yang dibayar oleh pembeli.

Astri menambahkan, kategori produk yang paling diminati oleh konsumen adalah makanan dan minuman. Secara khusus, sembako, tempe, dan kentang menjadi barang yang paling banyak dibeli di Pasar Cikurubuk Online.

Ilustrasi pasar tradisional. Foto Pixabay.

Literasi digital rendah

Astri menambahkan persoalan rendahnya literasi digital menjadi salah satu tantangan yang dihadapi oleh Pasar Cikurubuk Online. Salah satunya, pengurus koperasi selaku pengelola akun harus mengunggah seluruh produk beserta foto dan deskripsi untuk masing-masing produk yang dimiliki oleh para pedagang Pasar Cikurubuk.

Oleh karena itu, pihaknya melakukan peningkatan literasi digital melalui berbagai pelatihan dan pendampingan kepada para pengurus Koperasi Pasar Cikurubuk, baik dalam mengakses fitur-fitur di dalam aplikasi Tokopedia maupun pemasaran digital.

“Tim Tokopedia melakukan peningkatan literasi digital secara bertahap yang dimulai dari para pengurus Koperasi Pasar Cikurubuk sebagai pengelola akun. Kami memberikan pelatihan serta pendampingan kepada pengurus Koperasi Pasar Cikurubuk agar dapat memanfaatkan fitur-fitur yang terdapat di dalam platform Tokopedia secara optimal,” jelasnya.

Tidak hanya itu, pihaknya juga memberikan pendampingan terkait pemasaran digital kepada pengurus Koperasi Pasar Cikurubuk yang bertujuan untuk meningkatkan penjualan melalui akun Pasar Cikurubuk Online.

Selain itu, promosi kepada masyarakat juga menjadi tantangan tersendiri dikarenakan masyarakat Tasikmalaya sudah terbiasa untuk berbelanja secara tatap muka di Pasar Cikurubuk. Karena itu pula, Pasar Cikurubuk Online menjadi terobosan untuk mendorong pola hidup masyarakat Tasikmalaya agar memanfaatkan teknologi dalam memenuhi kebutuhan sehari-harinya.

“Kami sangat terbuka membantu pemerintah daerah lainnya untuk dapat mentransformasikan pasar tradisional di daerahnya agar dapat diakses secara digital melalui Tokopedia dengan menggunakan konsep yang diterapkan di Pasar Cikurubuk. Saat ini, kami mengembangkan konsep serupa dan rencananya akan diterapkan di beberapa pasar tradisional di wilayah Jawa Barat,” ujarnya.

Astri menuturkan inisiatif tersebut sejalan dengan komitmen Tokopedia untuk #SelaluAdaSelaluBisa dalam mempermudah masyarakat memenuhi kebutuhan sehari-hari hingga menciptakan peluang lewat teknologi.

Melihat kesuksesan kolaborasi ini, menurut Astri Tokopedia telah memiliki rencana untuk mereplikasi inisiatif serupa dengan berbagai daerah lainnya di Indonesia dalam waktu dekat. 

“Inisiatif Pasar Cikurubuk Online ini bisa membantu lebih banyak pelaku usaha di Indonesia, khususnya UMKM yang berdagang di pasar tradisional untuk beradaptasi di tengah pandemi, demi menjaga usahanya tetap berjalan dan lebih jauh lagi, berkontribusi terhadap pemulihan ekonomi Indonesia,” jelasnya.

Infografik transformasi pasar basah menjadi pasar daring. Alinea.id/Bagus.
 
 
 

 

Berita Lainnya