sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Menggerakkan ekonomi lewat aplikasi

Platform marketplace berkontribusi mendorong UMKM bersiap menghadapi pandemi.

Fajar Yusuf Rasdianto
Fajar Yusuf Rasdianto Jumat, 11 Sep 2020 16:55 WIB
Menggerakkan ekonomi lewat aplikasi
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 252923
Dirawat 58788
Meninggal 9837
Sembuh 184298

Pandemi Covid-19 telah mengubah pola belanja masyarakat. Mereka yang tadinya lebih senang berbelanja offline, kini mulai beralih ke aplikasi daring (dalam jaringan).

Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) menjadi yang paling terdampak atas perubahan pola belanja ini. Pasalnya, hingga kini masih banyak UMKM yang belum dapat menjangkau penjualan secara digital.

Data Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Kemenkop UKM) menunjukkan bahwa dari 64,2 juta unit UMKM di Indonesia, baru 18% atau 9,4 juta yang berjualan secara daring.

Minimnya pemanfaatan akses digital ini membuat banyak pengusaha kecil gulung tikar. Hasil survei Asian Development Bank (ADB) pada Juli 2020 mencatat, 50% UMKM di Indonesia sudah menutup usahanya. Selain itu, 30% UMKM tercatat menghadapi kendala permintaan domestik, sekitar 20% terkendala di lini produksi, dan 14,1% harus rela menerima pembatalan kontrak.

Survei ini selaras dengan hasil riset Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pada Juni 2020 lalu. LIPI memprediksi, sekitar 47,13% pelaku UMKM hanya mampu bertahan hingga Agustus 2020. Sementara 72,02% usaha lainnya diperkirakan bakal tutup setelah November mendatang.


Situasi berat ini diakui Dea Valencia, pemilik Batik Kultur, Semarang, Jawa Tengah. Menurut Dea, pandemi Covid-19 membuat transaksi penjualan luring (luar jaringan) di butik miliknya menurun drastis. Perilaku konsumen berubah ke arah digital dan membuat pembelian secara daring meningkat signifikan.

“Melihat hal ini, Batik Kultur melakukan adaptasi dan inovasi produk sehingga tetap dapat meningkatkan penjualan secara online di Tokopedia,” terang Dea seperti dikutip dari Tokopedia.com.

Bagi Dea, pandemi merupakan momentum bagi UMKM untuk mulai memanfaatkan teknologi digital. Platform digital, katanya, dapat membuat produk lokal semakin dikenal dan diapresiasi masyarakat luas.

Sponsored

“Tidak pernah ada kata terlambat untuk memulai,” imbuhnya.

Penjualan daring meningkat

Selain Dea, banyak lagi pengusaha kecil yang juga mulai merasakan manfaat dari berjualan secara digital. Dewa Collection Bali, toko macramé di Bali bahkan sampai mendapat lonjakan pesanan lima kali lipat semasa pandemi.

Pemilik Dewa Bali Collection, Dewanti Amalia Artasari (28) dan produk macrame buatannya. Foto Dokumentasi.

Cerita serupa juga terjadi pada penjualan barang-barang yang booming di kala pandemi seperti sepeda. Penjualan sepeda merek lokal, Element Indonesia juga turut mendapat antusiasme tinggi saat peluncuran daring. Sebanyak 200 unit sepeda lipat merek tersebut terjual habis hanya dalam 40 detik. Walhasil, merek ini berhasil memecahkan rekor Museum Rekor Dunia-Indonesia (MURI) untuk penjualan sepeda lipat terbanyak dalam satu menit.

Data internal Tokopedia menunjukkan bahwa memang telah terjadi lonjakan penjualan dari tiga kategori produk selama pandemi. Kategori ini adalah kesehatan, keperluan rumah tangga, serta makanan dan minuman.

VP of Corporate Communications Tokopedia Nuraini Razak mengatakan, hand sanitizer, vitamin, dan masker merupakan produk-produk yang paling banyak dicari masyarakat. Pada Maret lalu, katanya, penjualan masker meningkat 197 kali dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. Sempat juga, 72.000 hand sanitizer habis terjual hanya dalam waktu 42 menit.

Dalam kategori keperluan rumah tangga, produk paling diburu mencakup disinfektan, tisu, dan pemurni air. Sementara dari kategori makanan dan minuman, daging sapi, jahe, dan kurma menjadi produk yang mengalami pertumbuhan penjualan paling signifikan.

“Lebih dari 100 ton daging sapi terjual di Tokopedia selama bulan Maret 2020. Jumlah jahe yang terjual pun mencapai 60 ton, setara dengan jumlah jahe yang dibutuhkan untuk membuat jamu empon-empon bagi seluruh masyarakat kota Sukabumi,” ungkap Nuraini.

Tren penjualan di tiga kategori tersebut terus meningkat hingga Ramadan 2020 lalu. Ada juga satu kategori lainnya yang merasakan peningkatan tajam, yaitu jasa pembayaran tagihan listrik.

“Jumlah tagihan listrik yang tercatat dibayarkan melalui Tokopedia bahkan cukup untuk memenuhi kebutuhan listrik lebih dari 3,5 juta rumah selama satu bulan,” tambahnya.

Bazar daring

Tren penjualan daring pun terus menjalar sampai pada aktivitas bazar maupun pameran. Kegiatan yang semula dilakukan secara luring itu, kini mulai beralih ke tren daring. Salah satu contohnya adalah Jakarta Sneaker Day (JSD) kedua pada 27-30 Juli 2020 lalu.

Melalui aplikasi marketplace Tokopedia, pameran ini berhasil membukukan penjualan dua kali lipat dibandingkan dengan penyelenggaraan pertamanya. Produk hasil kreator lokal, seperti sepatu, tas, ransel dan masker kain bermotif menjadi yang paling diburu.

Big Bad Wolf 2020, pameran rutin tahunan bagi para pecinta buku di Indonesia pun turut digelar secara daring melalui Tokopedia. Dalam pameran daring ini, puluhan ribu buku berhasil terjual habis pada hari ketiga penyelenggaraan, bahkan sebelum kampanyenya selesai.

Di luar itu, banyak lagi pameran-pamaren luring yang akhirnya turut digelar secara daring. Termasuk di antaranya; Market Museum, JakCloth, dan Festival Santapan Lezat. Semua pameran daring ini memanfaatkan Tokopedia sebagai kanal utama penjualannya.

Ilustrasi. Pexels.com.

Tokopedia dipilih lantaran diakui bahwa kini marketplace milik anak negeri ini merupakan salah satu yang terbesar di Indonesia. Terbukti, hingga Juli 2020, setidaknya sudah ada hampir 9 juta penjual yang memanfaatkan Tokopedia. Jumlah pengunjungnya mencapai hampir 100 juta orang dalam waktu satu bulan.

“Karena mereka, lebih dari 1% perekonomian Indonesia telah terjadi di atas Tokopedia,” ungkap Nuraini.

Upaya Tokopedia

Keberhasilan Tokopedia ini sejatinya tidak lepas dari upaya perusahaan untuk terus memberikan pemahaman literasi digital kepada para pedagang kecil. Melalui Tokopedia Center, perusahaan berupaya membantu warga pedesaan untuk memiliki akses ke marketplace.

Proses ini, terang Nuraini, dapat membantu masyarakat untuk memulai bisnis melalui platform digital. Mulai dari pembuatan email, memahami infrastruktur digital, hingga strategi berjualan secara daring.

“Saat ini Tokopedia Center sudah tersebar di 41 daerah di seluruh Indonesia, bekerja sama dengan BUMDes setempat,” tutur Nuraini melalui keterangan tertulis.

Di luar itu, Tokopedia juga terus melakukan akselerasi kerja sama dengan sejumlah Pemerintah Kota (Pemkot) di Indonesia untuk memberikan akses digital kepada masyarakat. Salah satu kerja sama yang sudah terjalin saat ini adalah dengan Pemkot Tasikmalaya.

Bersama Pemkot Tasikmalaya, BI Tasikmalaya, dan Koperasi Pengelola Pasar Cikurubuk Tasikmalaya, Tokopedia menghadirkan Pasar Cikurubuk Online. Melalui platform ini, masyarakat bisa berbelanja kebutuhan rumah tangga tanpa harus berdesak-desakan ke pasar. Model ini bakal direplikasi di beberapa daerah di Jawa Barat.

Ini merupakan bagian dari komitmen untuk mendorong digitalisasi pasar tradisional serta mendukung program physical distancing oleh pemerintah. Sejak diluncurkan pada April 2020, Pasar Cikurubuk Online telah menjual lebih dari 16.000 produk. 

Nuraini mengatakan, kolaborasi ini menjadi kunci bagi Tokopedia untuk dapat membantu perekonomian nasional melalui platform digital. Makanya, lanjut ia, Tokopedia tidak pernah berhenti menjalin kerja sama dengan berbagai institusi, kementerian, pedagang dan mitra-mitra strategis lainnya.

Berbagai upaya kerja sama dengan kementerian dilakukan guna mendukung pemerataan akses digital bagi UMKM di Indonesia. Salah satu kerja sama ini diusung dengan nama UMKM Go Online “Grebeg Pasar.”

Bersama Kementerian Komunikasi dan Informatika Kominfo), acara ini diselenggarakan di 50 kota/kabupaten di seluruh Indonesia untuk dapat menjajal platform digital. Tokopedia juga bekerja sama dengan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) untuk memberikan diskon maupun cashback bagi para pelaku UMKM.

Kolaborasi lainnya, dilakukan bersama Kementerian Koordinator Maritim dan Investasi (Kemenko Marves) untuk kampanye gerakan nasional #BanggaBuatanIndonesia dan pemberian modal melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR).

“Selain itu, kami juga mendukung para pelaku usaha tradisional sehingga bisa meningkatkan pendapatan lewat Mitra Tokopedia dengan memfasilitasi penjualan berbagai produk digital, seperti pulsa, paket data, voucher game, pembayaran tagihan listrik, air, BPJS,” ucap Nuraini.

Tidak berhenti di situ, Nuraini juga mengatakan bahwa Tokopedia fokus membantu pemerintah untuk menangani dampak ekonomi akibat pandemi Covid-19. Melalui kampanye #JagaEkonomiIndonesia, perusahaan berupaya memberikan kontribusinya bagi pertumbuhan ekonomi nasional.

Caranya, dengan memenuhi kebutuhan masyarakat tanpa harus ke luar rumah. Lalu, menjaga kelangsungan bisnis para penjual. Serta, mendorong pemulihan ekonomi Indonesia di tengah pandemi.

Berbagai promo seperti bebas ongkir dan cashback yang diberikan kepada penjual dan pembeli di Tokopedia telah melanggengkan upaya ini. Program bebas ongkos kirim, dan diskon 100% biaya layanan di sejumlah kategori membuat pergerakan ekonomi di Tokopedia bisa berjalan dengan signifikan.

“Inisiatif ini sejalan dengan komitmen kami untuk mengakselerasi adopsi digital agar bisnis lokal dari berbagai industri yang masih sepenuhnya dikelola luring, dapat segera beroperasi kembali dengan membuka kanal daring,” kata Nuraini.


 
 
 

 

Berita Lainnya
×
img