sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Mengukur valuasi startup dan suntikan dana investor

Valuasi menentukan kepercayaan investor menyuntikkan dananya.

Ardiansyah Fadli
Ardiansyah Fadli Jumat, 11 Okt 2019 17:38 WIB
Mengukur valuasi startup dan suntikan dana investor

Beberapa waktu lalu, Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara mengumumkan OVO masuk dalam daftar unicorn kelima di Indonesia, dengan valuasi di atas US$1 miliar.

"Saya sudah bicara dengan founder-nya, dan memang iya (sudah jadi unicorn). Makanya saya berani bicara setelah saya konfirmasi,” kata Rudiantara, seperti dikutip dari Antara, Senin (7/10).

CEO OVO Jason Thompson memberi tanggapan atas status unicorn untuk OVO. Menurut dia, hal itu tidak lepas dari dukungan pemerintah dan dua unicorn lainnya, yakni Grab dan Tokopedia.

"Kami sangat bersyukur diakui sebagai salah satu unicorn Indonesia," katanya saat dihubungi Alinea.id, Kamis (10/10).

OVO dinobatkan sebagai unicorn kelima Indonesia, dan unicorn pertama berbasis fintech. Firma analis perusahaan CB Insight mencatat, penyedia layanan pembayaran elektronik milik Lippo Group ini diperkirakan memiliki valuasi sebesar US$2,9 miliar atau sekitar Rp41 triliun. Nilai itu, menurut CB Insight, sudah dicapai OVO sejak 14 Maret 2018.

Pendiri Gojek Nadiem Makarim (paling kanan) saat peluncuran logo baru Gojek. /Antara Foto.

Peluang dompet digital lain

Head Corporate Communication Gopay Winny Triswandhani enggan berkomentar terkait status unicorn yang digapai OVO. Menurut dia, Gopay mengalami perkembangan yang sangat pesat sejak diluncurkan pada 2016.

Sponsored

Berdasarkan survei iPrice Group, Gopay merupakan aplikasi dompet digital yang penggunanya paling banyak kedua di Indonesia, setelah OVO. iPrice mencatat, transaksi Gopay mencapai US$6,3 miliar atau sekitar Rp89,5 triliun pada Februari 2019.

“Hingga saat ini, Gopay bermitra dengan lebih dari 420.000 rekan usaha, di mana 90% di antaranya merupakan UMKM,” ujar Winny saat dihubungi, Kamis (10/10).

Menurut Winny, Gopay selalu terbuka dengan semua pihak. Termasuk dengan pesaingnya, seperti Dana, OVO, dan LinkAja.

"Kami terbuka untuk kerja sama dengan pemerintah, BUMN, swasta, dan pemain lain," katanya.

Sementara itu, CEO LinkAja Danu Wicaksono mengatakan, pihaknya sangat senang dengan kabar status unicorn untuk OVO. Ia pun berharap, LinkAja juga semakin cepat dan efisien dalam meningkatkan keuangan inklusif di Indonesia.

Meski belum termasuk dalam status unicorn, tetapi Danu mengklaim peningkatan pengguna LinkAja sudah mencapai 33 juta orang hingga saat ini. Namun, Danu belum bisa menjawab besaran valuasi LinkAja.

“Kami juga berkolaborasi dengan perusahaan-perusahaan BUMN, seperti menerapkan LinkAja pada pembayaran SPBU Pertamina, E-Toll, pembayaran kereta api, pembelian pulsa, pembayaran tagihan listrik, dan lain-lain,” kata Danu saat dihubungi, Kamis (10/10).

Pendiri dan CEO Asosiasi Digital Entrepreneur Indonesia (ADEI) Bari Arijono pun mengapresiasi status unicorn untuk OVO.

Founder & CEO Digital Enterprise Indonesia (DEI), Bari Arijono dalam workshop ekonomi digital, fintech, dan blockchain dengan kepala perwakilan Bank Indonesia. /dok. Bari Arijono.

"Kita butuh lebih banyak lagi unicorn fintech seperti ini karena ke depan yang memegang kendali layanan digital adalah payment. Makanya Gojek mati-matian membangun Gopay, bahkan BUMN kita juga gencar sekali dengan LinkAja," kata Bari saat dihubungi, Kamis (10/10).

Bari mengatakan, OVO sangat pintar menjalankan bisnisnya. Di mal-mal milik Lippo Group, sebut Bari, OVO menerapkan sistem pembayaran parkir dan transaksi pembelian.

Di samping itu, valuasi yang sangat besar diperoleh OVO karena perusahaan dompet digital itu berkolaborasi dengan perusahaan rintisan atau startup pemain besar, seperti Grab dan Tokopedia.

"Karena Grab tidak memiliki dompet digital milik sendiri, seperti Gopay, jadi OVO lihat itu sebagai suatu peluang yang bagus. Grab punya komitmen untuk investasi juga di OVO, sebagai investor," katanya.

Begitu pula dengan Tokopedia. Menurutnya, nilai transaksinya langsung otomatis meroket setelah menggunakan OVO.

"Nilai transaksinya kan sehari itu bisa miliaran, sebulan bisa triliunan, dan semua masuk ke kantongnya OVO," ujarnya.

Bari mengatakan, UMKM atau pedagang kecil menjadi peluang besar bagi Gopay untuk bisa melaju secara pesat. Menurutnya, jika Gopay berhasil mengakuisisi seluruh merchant di Indonesia, maka dompet digital milik Gojek ini berpeluang spint off atau keluar dari Gojek, sehingga bisa mandiri.

"UMKM kita besar banget transaksinya, dan kalau semuanya pakai Gopay secara nasional, mungkin dia akan mencaplok fintech lain,” ucapnya.

Sementara untuk LinkAja, Bari menuturkan, dompet digital ini diterapkan pada beberapa fasilitas pemerintah, seperti di parkir gedung-gedung pemerintah. Bahkan, kata dia, LinkAja akan dibuat sebagai payroll (sistem administrasi penggajian).

“Jadi, gaji-gaji karyawan BUMN semuanya itu akan masuk ke LinkAja. Tidak lewat bank lagi,” ucap Bari.

Menurutnya, jika hal itu terjadi, maka LinkAja bukan tidak mungkin akan berada di posisi kedua setelah OVO.

Pentingnya valuasi

Gopay menjadi salah satu dompet digital yang perkembangannya cepat. Alinea.id/Robertus Rony Setiawan.

Status OVO sebagai unicorn tak bisa dilepaskan dari valuasi yang mereka peroleh. Valuasi atau nilai sebuah perusahaan saat ini menjadi instrumen paling penting dalam perkembangan industri startup. Startup bersaing membesarkan valuasi perusahaannya.

Bari Arijono mengatakan, valuasi digunakan startup untuk mengukur nilai ekonomi perusahaannya. Valuasi, menurut Bari, juga sekaligus membedakan antara startup dengan perusahaan konvensional.

Besar valuasi, kata Bari, bisa menjadi acuan bagi para investor untuk menyuntikan dananya. Valuasi bisa menjadi instrumen para investor melihat seberapa besar potensi bisnis sebuah startup.

"Kalau investasi yang dilakukan perusahaan digital itu ternyata memberikan prospek yang bagus untuk pasar 3-5 tahun ke depan, maka valuasi perusahaan tersebut dinilai sangat bagus, akan naik terus dan dinilai oleh investor juga memiliki predikat yang bagus," katanya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan, untuk dapat mengetahui valuasi sebuah startup, bisa menggunakan berbagai macam variabel. Hal itu tergantung dengan jenis startup masing-masing.

Bila startup itu berbasis e-commerce, seperti Tokopedia, Bukalapak, Shopee, atau Lazada, maka variabelnya menggunakan gross merchandise value (GMV) atau gross transaction value (GTV).

Jika peer-to-peer (P2P) lending, bisa menggunakan loan disbursement (LD). Sementara jika berbasis payment, seperti OVO, Dana, LinkAja, dan Gopay, variabelnya bisa menggunakan number of merchants.

"Kalau yang GMV dan GTV, itu setelah mereka beroperasi 1-3 tahun, setelah dilihat seberapa besar nilai transaksinya pertahun," ujarnya.

Menurut Bari, semakin besar dana investor yang masuk ke dalam startup, maka secara linier juga akan ikut memperbesar valuasi perusahaan.

Kemudian, kata Bari, untuk menggandeng investor berikutnya, startup harus menghitung berapa market share penguasaan pasar di Indonesia, serta berapa GMV atau GTV-nya.

“Jadi, investor berikutnya pasti akan memberikan suntikan dana yang lebih besar lagi dari nilai valuasi yang mereka telah prediksi," tuturnya.

Bari mengakui, valuasi industri digital jauh lebih besar dibandingkan valuasi perusahaan konvensional. Ia mencontohkan, Gojek punya valuasi sebesar US$9,5 miliar, sedangkan PT Garuda Indonesia valuasinya hanya US$7 miliar. Padahal, kepemilikan aset Garuda jauh lebih besar dibandingkan Gojek atau perusahaan digital lainnya.

"Demand, market, atau pasar permintaannya itu lebih besar kepada Gojek daripada Garuda," katanya.

Apalagi, penjualan tiket Garuda banyak mengandalkan platform digital, seperti Traveloka dan Tiket.com.

“Jadi secara valuasi, secara nilai perusahaan, mereka sebenarnya jatuh turun sekali, dan beban perusahaan mereka lebih besar daripada profitnya," ujarnya.

Mengapa investor percaya?

Meski perusahaan digital punya valuasi yang sangat besar, tetapi pada kenyataannya hal itu belum diikuti dengan profit atau laba bersih yang diterima. Mayoritas masih memanfaatkan suntikan dana dari investor untuk “bakar uang” demi memperbesar valuasi.

Beberapa pengamat mengatakan, hasil dari bakar uang itu takbisa dinikmati langsung. Perusahaan akan menikmati keuntungan dalam jangka waktu 5-10 tahun ke depan.

Anehnya, dengan kondisi seperti ini, masih banyak investor yang tetap tertarik menginvestasikan uangnya ke startup. Menurut Bari Arijono, salah satu alasannya karena investor tak melihat industri startup secara jangka pendek. Startup dengan market yang besar punya potensi yang sangat baik di masa depan.

Akan tetapi, tak semua startup merugi. Bari mengatakan, banyak juga startup yang sudah mendapatkan profit, misalnya GoFood.

Ada beberapa hal yang menentukan valuasi. Alinea.id/Dwi Setiawan.

"Investasi Gojek di GoFood itu lebih dari US$1,2 miliar dari pendapatan mereka untuk 3-5 tahun ke depan sampai tahun 2024-2025. Itu sudah pasti akan minimal 5 kali lipat daripada investasi yang sudah mereka lakukan di tahun 2019 ini," ujarnya.

Ada pula perjanjian awal antara investor dan startup. Bari mencontohkan, dalam perjanjian di awal, SoftBank mengucurkan dana US$1,2 miliar ke Gojek. Mereka punya kesepakatan, sekian persen dari pendapatan Gojek masuk ke kantong SoftBank di Jepang.

“Dan juga ada faktor kepemilikan saham," tuturnya.

Dihubungi pada Kamis (10/10), pengamat ekonomi digital sekaligus Direktur Eksekutif Information and Communication Technology (ICT) Heru Sutadi mengatakan, prospek industri startup di Indonesia sangat besar.

Meski begitu, dengan banyaknya dana atau modal investor asing yang beredar di industri startup, ia khawatir membuat industri startup, terutama yang berstatus unicorn tak lagi dimiliki pengusaha lokal.

"Itu yang terkadang kita tidak pikirkan secara nasional," kata Heru.