sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Menunggu respons pemerintah pascapelemahan ekonomi China

Ekspor China ke semua pasar utamanya jatuh secara menyeluruh bulan lalu

Eka Setiyaningsih Laila Ramdhini
Eka Setiyaningsih | Laila Ramdhini Jumat, 08 Mar 2019 21:33 WIB
Menunggu respons pemerintah pascapelemahan ekonomi China

China di ambang resesi perdagangan. Hal ini terlihat dari melambatnya pertumbuhan ekonomi China pada 2018 yang hanya 6,4%. Capaian tersebut paling rendah sejak 1990. Analis menunggu respons pemerintah dari kondisi tersebut. 

Ekspor China mencatat penurunan terbesar dalam tiga tahun terakhir. Pada Februari 2019, ekspor China anjlok hingga 20,7% dibandingkan tahun sebelumnya.

Sementara, pada periode yang sama, impor China juga turun selama tiga bulan berturut-turut. Impor China turun 5,2% dari tahun sebelumnya. Realisasi ini lebih buruk dari perkiraan para analis dengan penurunan impor 1,4% dan pelebaran impor 1,5% pada Januari. Impor komoditas-komoditas utama juga jatuh di seluruh sektor.

 "Angka perdagangan hari ini memperkuat pandangan kami bahwa resesi perdagangan China telah mulai muncul," kata Kepala Ekonom China di ANZ Raymond Yeung, Jumat (8/3).

Dengan kondisi ini, surplus perdagangan negeri Tirai Bambu hanya US$4,12 miliar untuk Februari, jauh lebih kecil dari perkiraan sebesar US$26,38 miliar.

Raymond mengatakan ekonomi China memang sudah melambat tahun lalu sebelum ketegangan perdagangan meningkat. Sebagian karena pengekangan peraturan pada pinjaman berisiko yang membuat sejumlah perusahaan menahan investasi.

Bahkan, kata Raymond, jika kesepakatan perdagangan tercapai, pengekspornya harus bersaing dengan melemahnya permintaan secara global khususnya di Eropa. Ekspor China ke semua pasar utamanya jatuh secara menyeluruh bulan lalu.Sementara itu, pemerintah China menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 6,0% hingga 6,5% pada 2019.

Perdana Menteri Li Keqiang mengatakan realisasi ini lebih rendah daripada yang ditetapkan untuk 2018. "Pertumbuhan aktual tahun lalu melambat menjadi 6,6%, dan diperkirakan akan mendingin lebih lanjut menjadi 6,2% tahun ini," kata dia.

Sponsored

Dampak bagi Indonesia

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara menyebutkan pelemahan perekonomian China berdampak pada penurunan permintaan bahan baku, khususnya untuk industri di China. 

“Situasi ini bisa memperburuk defisit perdagangan di 2019. Apalagi ekspor Indonesia ke China mencapai 15% dari total ekspor nonmigas,” kata dia saat dihubungi.

Kendati pelemahan ekonomi China sudah dirasakan sejak tahun lalu, tetapi ternyata data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan, terjadi kenaikan ekspor nonmigas Indonesia ke China sebesar 2,06%.

Menurut Direktur Eksekutif Core Indonesia  Mohammad Faisal, hal itu terjadi karena biasanya pada awal tahun terjadi lonjakan ekspor ke China. Khususnya pada sektor konsumsi dan produk manufaktur.

Selama ini, Indonesia menjadikan China sebagai salah satu negara tradisional tujuan ekspor. Data BPS menyebutkan, nilai ekspor Indonesia pada Januari 2019 mencapai US$13,87 miliar, dengan nilai ekspor nonmigas sebesar US$12,63 miliar. Ekspor nonmigas Januari 2019 terbesar adalah ke China yaitu US$1,71 miliar. 

Sementara, nilai impor Indonesia Januari 2019 mencapai US$15,03 miliar, dengan impor nonmigas mencapai US$13,34 miliar. Adapun negara pemasok barang impor nonmigas terbesar selama Januari 2019 ditempati oleh China dengan nilai US$4,14 miliar (31,02%).

“Kontraksi ekonomi di China tentunya memengaruhi perekonomian dunia, termasuk Indonesia. Ekspor kita bisa mengalami penurunan signifikan,” ucap dia.

Pemerintah dinilai perlu mengambil tindakan antisipasi. Misalkan saja, melakukan penguatan dari sisi domestik, mempertahankan ekspor dan memperketat impor. Pengetatan impor bukan hanya pada barang konsumsi saja, tetapi juga pada bahan baku dan penolong. Dengan begitu, defisit negara perdagangan yang terjadi pada 2018 bisa dikurangi. Jangan lupa, kembali membuka pasar ekspor baru ke negara nontradisional.

Jika tidak ada antisipasi pemerintah, Faisal mengkhawatirkan berpotensi memengaruhi pertumbuhan ekonomi pada 2019. Bukan tidak mungkin pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun ini, hanya 5,1% saja, dari prediksi Core Indonesia sebelumnya dikisaran 5,1%-5,2%. (Ant)