Amerika Serikat melalui Department of Justice (DOJ) merilis tambahan lebih dari tiga juta halaman dokumen terkait penyelidikan terhadap mendiang Jeffrey Epstein. Rilis ini merupakan bagian dari implementasi Epstein Files Transparency Act, undang-undang yang ditandatangani Presiden Donald Trump pada 19 November 2025.
Dokumen yang dirilis pada Jumat (30/1) tersebut mencakup lebih dari 2.000 video dan 180.000 gambar yang berkaitan dengan kejahatan Epstein. Jika digabungkan dengan arsip yang telah dipublikasikan sebelumnya, total dokumen yang kini terbuka untuk publik mencapai sekitar 3,5 juta halaman.
Berkas-berkas itu dihimpun dari lima sumber utama, termasuk perkara hukum terhadap Jeffrey Epstein di Florida dan New York, kasus terhadap Ghislaine Maxwell di New York, serta sejumlah penyelidikan terkait kematian Epstein. Selain itu, dokumen juga berasal dari kasus di Florida yang menelusuri dugaan keterlibatan mantan pelayan Epstein, berbagai investigasi FBI, serta penyelidikan Kantor Inspektur Jenderal Amerika Serikat terkait kematian Epstein.
Sebagaimana dilansir dari U.S. Department of Justice, Kamis (5/2), rilis dokumen ini dilakukan sebagai bagian dari kebijakan transparansi pemerintah Amerika Serikat untuk membuka arsip kasus yang selama bertahun-tahun tertutup bagi publik.
Menariknya, hasil penelusuran terhadap dokumen tersebut menunjukkan bahwa kata Indonesia 902 kali dalam keseluruhan arsip yang dirilis. Dalam dokumen itu juga tercantum sejumlah nama tokoh dari berbagai negara, termasuk Indonesia.
Namun, perlu ditegaskan bahwa kemunculan nama dalam Epstein Files tidak otomatis menunjukkan keterlibatan langsung dengan Jeffrey Epstein. Berikut penjelasan konteks masing-masing nama berdasarkan isi dokumen yang tersedia, sebagaimana dilansir dari Suara.com, Kamis (5/2).
Joko Widodo
Nama mantan Presiden Joko Widodo juga tercantum dalam Epstein Files, namun sifatnya murni informatif. Jokowi disebut dalam dokumen berupa kliping berita dan laporan situasi politik Indonesia.
Berdasarkan penelusuran isi dokumen, tidak ditemukan bukti komunikasi langsung maupun tidak langsung antara Joko Widodo dan Jeffrey Epstein. Namanya hanya muncul sebagai subjek pemberitaan politik, bukan sebagai pihak yang berinteraksi dengan Epstein.
Sri Mulyani
Nama Sri Mulyani tercantum dalam dokumen yang berasal dari arsip internal World Bank Group tertanggal 18 Juni 2014. Dokumen tersebut berupa email dan materi komunikasi institusional, bukan arsip pribadi milik Epstein.
Dalam dokumen itu, Sri Mulyani disebut dengan jabatannya saat itu sebagai Managing Director and Chief Operating Officer World Bank Group, terkait peluncuran President’s Delivery Unit (PDU). Seluruh konteks penyebutan nama Sri Mulyani berada dalam kerangka tata kelola kelembagaan dan tidak menunjukkan hubungan apa pun dengan Jeffrey Epstein.
Hary Tanoesoedibjo
Nama Hary Tanoesoedibjo tercatat dalam dokumen FBI berstatus unclassified berjudul Federal Bureau of Investigation CHS Reporting yang berasal dari Oktober 2020. Dokumen ini memuat laporan berbasis informasi dari confidential human sources (CHS).
Dalam laporan tersebut, Hary disebut sebagai miliarder yang terlibat dalam pengembangan sejumlah proyek properti bermerek Trump, termasuk rencana pembangunan Trump Residences Indonesia di Bogor dan Bali. Dokumen juga menyinggung klaim bahwa Hary pernah memperkenalkan Donald Trump kepada sosok yang disebut sebagai “CIA Indonesia”, meski identitas figur tersebut tidak dijelaskan secara rinci.
Selain itu, terdapat klaim bahwa Hary pernah membeli properti Trump di Beverly Hills dengan nilai tinggi. Konteks dokumen ini berkaitan dengan penyelidikan potensi pengaruh asing dalam proses pemilu Amerika Serikat. Dokumen tersebut masuk dalam kumpulan arsip yang memiliki keterkaitan tidak langsung dengan jaringan Epstein.
Eka Tjipta Widjaja
Pendiri Sinar Mas, Eka Tjipta Widjaja, muncul dalam dokumen yang membahas transaksi properti mewah Donald Trump pada tahun 2009. Dalam laporan tersebut, sebuah rumah disebut dijual seharga US$9,5 juta kepada entitas berbasis di Swiss yang terhubung dengan keluarga Widjaja.
Transaksi tersebut dilaporkan dilakukan secara tunai melalui perusahaan cangkang, dengan bantuan administratif dari Michael Cohen, mantan pengacara Donald Trump. Penting dicatat, nama Eka Tjipta Widjaja hanya terkait dengan catatan transaksi properti, tanpa indikasi hubungan personal atau komunikasi langsung dengan Jeffrey Epstein.
Soeharto
Nama Soeharto juga muncul secara tidak langsung dalam Epstein Files. Penyebutannya terdapat dalam dokumen berisi usulan penulisan buku tentang Soeharto yang diajukan oleh Gregory Brown kepada Epstein.
Dokumen tersebut hanya memuat gagasan, rekomendasi bacaan, dan rencana penulisan. Tidak ditemukan bukti adanya hubungan personal antara Soeharto dan Epstein. Nama Soeharto dicantumkan semata sebagai subjek kajian sejarah dan politik.
Kafrawi Yuliantono
Nama Kafrawi Yuliantono tercatat dalam Epstein Files sebagai seorang hotelier yang dikaitkan dengan jaringan JW Marriott. Dokumen menyebutkan rencana pertemuan dan upaya kerja sama profesional yang disebut berlangsung setelah pertemuan di Bali.
Arsip yang memuat namanya bersifat administratif, seperti curriculum vitae, surat lamaran kerja, dan dokumen visa. Seluruh dokumen tersebut menunjukkan kepentingan profesional dan tidak mengandung indikasi keterlibatan dalam aktivitas kriminal apa pun.