logo alinea.id logo alinea.id

Merger dengan Sumitomo, penyaluran kredit BTPN melonjak 112%

PT Bank BTPN Tbk. (BTPN) mencatat pertumbuhan kredit dan laba bersih yang signifikan sepanjang semester I-2019.

Laila Ramdhini
Laila Ramdhini Kamis, 15 Agst 2019 12:08 WIB
Merger dengan Sumitomo, penyaluran kredit BTPN melonjak 112%

PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk. (BTPN) meraup laba bersih sebesar Rp12,6 triliun pada semester I-2019, atau tumbuh 15% dari periode yang sama tahun lalu.

Direktur Utama PT Bank BTPN Tbk Ongki Wanadjati Dana mengatakan pertumbuhan positif ini tetap terjaga meskipun sejak Februari hingga Juli 2019 pihaknya sibuk melakukan konsolidasi dan integrasi setelah merger dengan PT Bank Sumitomo Mitsui Indonesia (SMBCI).

“Bank BTPN berhasil menjaga momentum pertumbuhan dengan membukukan kinerja positif,” kata Ongki di Jakarta, Kamis (15/8).

Ongki mengatakan selain mencetak kenaikan laba, BTPN juga mencatat pertumbuhan kredit yang signifikan. Total penyaluran kredit Bank BTPN mencapai Rp143,4 triliun pada akhir Juni 2019, tumbuh 112% (year on year/yoy) dibandingkan posisi yang sama tahun lalu senilai Rp67,7 triliun.

Jumlah penyaluran kredit merupakan data gabungan dari Bank BTPN dan SMBCI. Untuk diketahui, kedua bank efektif merger pada 1 Februari 2019. Namun demikian, jika dihitung secara normal, penyaluran kredit sejatinya bertumbuh 10%.

“Hal ini masih sejalan dengan rata rata pertumbuhan kredit industri. Dengan kondisi ekonomi yang menantang, dan situasi perusahaan yang masih dalam fase konsolidasi, pencapaian ini patut kami syukuri,” kata Ongki.

Ia menjelaskan pertumbuhan kredit semester I-2019 banyak ditopang pembiayaan korporasi, usaha kecil dan menengah (UMKM), pembiayaan konsumer, dan pembiayaan prasejahtera produktif melalui anak usaha, BTPN Syariah.

Kredit korporasi

Sponsored

Ongki mengungkapkan selain fokus melayani bisnis eksisting, BTPN juga terus mengembangkan segmen korporasi. Beberapa sektor yang disasar antara lain pembiayaan sindikasi, project financing di bidang infrastruktur dan energi, trade finance, serta berkolaborasi dengan multifinance untuk pembiayaan otomotif.

"Hal ini merupakan bentuk komitmen kami dalam menggerakkan sektor riil dan berpartisipasi mendorong pertumbuhan ekonomi nasional,” katanya.

Ongki menilai pembiayaan ke segmen korporasi dan industri pendukungnya masih memiliki ruang pertumbuhan cukup menjanjikan dan bank yang dipimpinnya memiliki kapasitas untuk ikut mengoptimalkan pembiayaan tersebut.

"Sebagai bagian dari jaringan global SMBC dan dukungan penuh pemegang saham, kami memiliki kapasitas untuk ikut mengoptimalkan peluang (pembiayaan) tersebut,” katanya.

Ongki mengatakan optimisme itu selaras dengan sejumlah agenda pemerintah dalam menggalakkan infrastruktur, mewujudkan pemerataan kesejahteraan dengan menciptakan pusat pertumbuhan ekonomi baru, serta komitmen meningkatkan kapasitas industri lokal.

Menurut dia, Asia saat ini merupakan salah satu pusat pertumbuhan ekonomi global dan Indonesia memiliki posisi strategis di dalamnya.

"Ini adalah kesempatan, termasuk bagi perbankan," kata dia.

Bank BTPN juga mencatat kenaikan aset sebesar 87%, dari Rp99,9 triliun pada Juni 2018 menjadi Rp187,05 triliun pada Juni 2019.

Sementara, angka rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) di level 0,8% (gross). Adapun rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) terjaga di level 23,3%, masih sangat kuat untuk menopang target pertumbuhan. (Ant)