sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Milenial! Selamatkan masa tua dengan tabungan dan investasi

Gerakan menabung dan berinvestasi meningkat di masa pandemi karena perkembangan digital.

Kartika Runiasari
Kartika Runiasari Senin, 30 Agst 2021 16:31 WIB
Milenial! Selamatkan masa tua dengan tabungan dan investasi

Belajar dari pengalaman kedua orang tuanya, Karin Latifa (21) memutuskan untuk menabung dan berinvestasi sejak dini. Mahasiswi semester III ini mengaku tak ingin penghasilannya sebagai Make Up Artist (MUA) habis tak bersisa dan membuat dirinya tak punya simpanan di masa tua.

“Orang tua enggak pernah nabung, padahal tadinya uangnya banyak,” ceritanya saat berbincang dengan Alinea.id, Rabu (24/8).

Karenanya, dia bertekad menyisihkan penghasilan dari hasil kerja kerasnya dalam bentuk tabungan maupun investasi. Semula, dia membeli saham dan reksa dana saham untuk mendulang cuan. Namun, kondisi pasar modal yang lesu di masa pandemi membuat portofolionya senantiasa merah.

Karin mengaku termasuk dalam investor pemula yang menyisihkan 10% penghasilannya di saham. Dia kerap ragu karena minimnya ilmu trading

“Pernah beli suatu saham 5 lot di Rp2.500 per saham, terus harganya naik sampai Rp3.000 per saham. Tapi karena banyak, aku takut jatuh jadi aku jual, eh sahamnya masih naik terus,” kisahnya.

Seorang pria memakai masker di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI). Foto Reuters.

Rutinitas menabung juga dilakoni Rachel Amanda (26). Artis sekaligus penulis ini mengaku kebiasaan itu dilakukan sejak dari kecil. Dia menyisihkan 10% hingga 20% dari uang jajan untuk ditabung. Saat itu, uang tabungannya digunakan untuk membeli kebutuhan pribadi.

“Sebenarnya menabung itu angkanya tidak perlu besar, tetapi jika dilakukan terus-menerus secara rutin dan dalam jangka waktu tertentu, bisa jadi hasil angkanya akan membuat teman-teman menjadi kaget,” jelasnya dalam acara Hari Indonesia Menabung 2021, Selasa (24/8) .

Sponsored

Tabungan, menurutnya, menjadi penting karena dapat digunakan untuk kondisi tertentu yang memerlukan uang tambahan. Dia juga menyebutkan, saat ini menabung sudah lebih gampang untuk dilakukan. Karena itu, dia menyarankan untuk mulai menabung sedari dini.

Semangat menabung dan investasi memang harus terus digaungkan. Pasalnya, generasi muda Indonesia tercatat perlu memperbaiki kesehatan finansialnya. Hal ini terlihat dari hasil Riset Financial Fitness Index Indonesia yang digelar OCBC NISP.

Riset itu mencatat sebanyak 85,6% generasi muda terlihat “kurang sehat” secara finansial dan perlu segera melakukan check-up, sisanya terlihat “sehat” namun ternyata masih belum ideal. Selain itu, 46% kaum muda percaya diri dan punya perencanaan finansial. Namun faktanya hanya 16% yang punya dana darurat.      

Riset juga mencatat sebanyak 86% kaum muda menyatakan rutin menabung, 43% masih meminjam uang dari keluarga atau teman.

Prioritaskan target

Perencana Keuangan Mike Rini Sutikno memandang tabungan dan investasi adalah sebuah kewajiban. Utamanya bagi kaum milenial dengan rentang usia 25 sampai 30 tahun.

“Masa hidup masih panjang, sehingga perlu persiapan untuk mengantisipasi kehidupan di masa depan yang memerlukan dana,” katanya kepada Alinea.id, Selasa (24/8).

Dia mencontohkan, perencanaan keuangan bisa dilakukan untuk pendidikan anak, dana pensiun, naik haji, modal usaha, atau untuk tujuan keuangan lainnya. Namun, dia menekankan kebutuhan ini pasti berbeda di setiap orang. Karena itu, pola investasinya juga pasti berbeda.

“Dalam perencanaan keuangan dan berinvestasi harus sesuai dengan kebutuhan, dan kebutuhan itulah yang menjadi tujuan investasinya,” tambahnya.

Tentu saja, semua kebutuhan itu harus disusun berdasarkan skala prioritas. Pasalnya, kebutuhan generasi milenial yang belum menikah, sudah menikah, dan punya anak tentu berbeda. Dia menyarankan pendapatan generasi milenial ini perlu dialokasikan secara proporsional, baik untuk kehidupan sehari-hari maupun simpanan di masa depan.

“Jangan sampai kita menderita saat ini, hidup terlalu pas-pasan sekali demi untuk mencapai apa yang ingin kita capai di masa depan. Itu sih yang penting, seimbang,” ungkapnya.

Ilustrasi Pixabay.com.

Prioritas kebutuhan ini selanjutnya berpengaruh pada pilihan produk investasi yang akan diambil dan jangka waktunya. Dia memaparkan jika kebutuhannya untuk jangka pendek di bawah satu  tahun,  maka instrumen yang cocok bersifat konservatif seperti deposito atau reksa dana pasar uang. Lalu untuk target dua hingga tiga tahun, instrumen yang digunakan bisa berupa reksa dana pendapatan tetap atau obligasi pemerintah.

“Kalau jangka waktunya masih lama, misalnya mempersiapkan dana pensiun di atas lima hingga sepuluh tahun, maka bisa gunakan produk investasi berbasis saham contohnya reksa dana saham, saham atau reksa dana indeks,” sebutnya.

Kemajuan teknologi dan inovasi perusahaan teknologi

Perencana Keuangan Fauziah Arsiyanti menambahkan saat ini ada peningkatan investor ritel hingga 47,57% yang didominasi generasi milenial. Menurutnya, ini terjadi tak lepas dari kondisi pandemi. Di masa pagebluk, alokasi dana masyarakat yang tadinya konsumtif, mulai beralih ke investasi pasar modal.

“Beberapa hal yang menjadi alasan transaksi ritel meningkat karena mereka memiliki uang tunai berlebih yang mulai diinvestasikan di pasar saham di tengah era suku bunga rendah,” sebutnya.

Perkembangan di era digital pun berkontribusi terhadap kian maraknya investasi melalui aplikasi. Belum lagi banyaknya influencer di berbagai media sosial yang memberi testimoni positif soal cuan hasil investasi.

Harus diakui, kampanye yang mendorong kebiasaan menabung kini didukung oleh perkembangan teknologi. Ini terlihat dari banyaknya aplikasi yang menawarkan kemudahan berinvestasi. Proses menabung dan investasi cukup dilakukan dalam genggaman telepon pintar.

Tak hanya perusahaan teknologi finansial (fintech), investasi digital juga diusung oleh marketplace. Salah satunya Tokopedia yang mempunyai fitur Tokopedia Emas dan Tokopedia Reksa Dana.

Head of Investment and Insurance Tokopedia Marissa Dewi bahkan menyebut pandemi Covid-19 mendorong masyarakat untuk lebih cermat dalam mengatur keuangan. Investasi daring pun menjadi pilihan di masa serba pembatasan.

“Selama tiga tahun terakhir, jumlah pengguna Tokopedia Reksa Dana secara keseluruhan meningkat lebih dari 68x lipat. Sementara transaksi jual-beli emas lewat Tokopedia Emas bertumbuh hampir 27x lipat selama lebih dari dua tahun ke belakang,” paparnya dalam keterangan tertulis yang diterima Alinea.id.

Dia menambahkan marketplace besutan William Tanuwijaya itu pun diharapkan turut meningkatkan inklusi keuangan dan perekonomian digital di Indonesia. Di sisi lain, beliau membagikan tips dan inspirasi menabung bagi masyarakat, khususnya generasi milenial.

Marissa menyarankan masyarakat untuk memilih investasi yang sesuai kebutuhan. "Misalnya, masyarakat yang mencari pilihan investasi jangka pendek, yaitu sekitar 1-2 tahun, dapat memanfaatkan fitur Tokopedia Reksa Dana, sementara untuk investasi jangka panjang dapat memanfaatkan fitur Tokopedia Emas," sebutnya.

Yang tak kalah penting, lanjutnya, calon investor harus memastikan produk investasi aman. Ini ditandai dengan produk yang memperoleh izin Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan menyajikan portofolio laporan investasi secara transparan.

“Tokopedia bekerja sama dengan berbagai mitra strategis terpercaya yang diawasi oleh OJK dalam menawarkan pilihan investasi daring yang aman, mudah dan terjangkau untuk seluruh masyarakat Indonesia,” tambah Marissa.

Kemudian, investor juga harus menentukan dulu tujuannya berinvestasi. Apakah untuk menikah, liburan, atau tujuan di masa depan lainnya. “Ini bisa dilakukan melalui fitur Dana Impian di Tokopedia Reksa Dana yang memudahkan pengguna menabung untuk tujuan tertentu,” tambahnya.

Menurutnya, investasi pun tak harus dimulai dengan nominal besar. Cukup dengan menyisihkan Rp5.000 atau Rp10.000 dari penghasilan, milenial pun bisa memulai investasi secara bertahap.

“Pendaftaran juga dapat dilakukan dengan sangat cepat melalui telepon genggam,” jelas Marissa.

Uniknya, Tokopedia juga berinovasi dengan merilis fitur Pembulatan Emas. Masyarakat juga dapat menabung sejumlah emas dengan membulatkan tagihan saat berbelanja. Belum lagi adanya fitur langganan di Tokopedia Emas yang membuat investasi dilakukan secara rutin.

Sementara di Tokopedia Reksa Dana, fitur Langganan memungkinkan pengguna mencapai target investasi dengan menentukan nominal dan jadwal investasi sesuai kebutuhan. Dana secara otomatis akan disalurkan ke saldo Reksa Dana dan pengguna dapat mengubah pengaturannya kapan saja.

“Tokopedia akan konsisten berinovasi dengan harapan dapat terus memberikan solusi investasi yang inklusif di Indonesia, sehingga investasi bisa menjadi suatu kebiasaan bagi lebih banyak masyarakat, khususnya generasi milenial,” tutup Marissa.


 
 

Berita Lainnya