logo alinea.id logo alinea.id

Pemadaman listrik bikin IHSG dan kurs rupiah ambrol

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan kurs rupiah ambrol akibat pemadaman listrik yang terjadi sejak Minggu (4/8).

Annisa Saumi
Annisa Saumi Senin, 05 Agst 2019 20:51 WIB
Pemadaman listrik bikin IHSG dan kurs rupiah ambrol

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan kurs rupiah ambrol akibat pemadaman listrik yang terjadi sejak Minggu (4/8).

Pada perdagangan Senin (5/8), IHSG ditutup ambruk 2,59% sebesar 164,47 poin ke level 6.175,70. Koreksi ini membuat IHSG berakhir di zona negatif 0,30% sejak awal tahun.

Koreksi IHSG ini menempatkan Indeks dalam jajaran terburuk di dunia. Seluruh sektor terkoreksi dengan penurunan terbesar pada sektor infrastruktur, utilitas, dan transportasi sebesar 3,71%.

Analis PT Reliance Sekuritas Lanjar Nafi mengatakan ancaman matinya listrik secara bergiliran memberikan kekhawatiran tambahan di saat kebakaran melanda mayoritas ekuitas di Dunia. Tekanan datang dari sektor infrastruktur yang terkoreksi sebesar 3,71% dan keuangan yang terkoreksi sebesar 2,90%.  

"Kemudian, saham FREN terkoreksi cukup dalam sebesar 7,39% dan TLKM terkoreksi 4,67%," kata Lanjar dalam risetnya, Senin (5/8). 

Lanjar berujar, investor asing berbondong-bondong mencari langkah aman dengan melakukan aksi jual bersih yang tercatat sebesar Rp1,1 triliun hari ini. Saham BBCA, BBRI, dan TLKM menjadi top net sell value

Rilis data Produk Domestik Bruto (PDB) yang turun, ujar Lanjar, juga menjadi angin pemicu pelemahan IHSG karena PDB Indonesia yang dirilis turun 2 basis poin menjadi 5,05% secara tahunan (year-on-year/yoy) dari 5,07% dibandingkan periode sebelumnya sesuai ekspektasi Bank Indonesia. 

Sementara itu, tekanan eksternal datang dari kekecewaan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, pada pernyataan The Fed yang ragu akan pemangkasan lanjutan beban pinjaman atau suku bunga. Kekecewaan Trump menjadi pemicu aksi penyerangan balik China dengan membiarkan yuan melemah terendah dalam sejarah. 

Sponsored

"Penurunan yuan adalah yang terbesar sejak Agustus 2015, ketika para pejabat mengumumkan devaluasi mengejutkan yang mengguncang pasar global," kata Lanjar.

Selain itu, kerusuhan di Hong Kong yang kian melebar hingga melumpuhkan sistem transportasi, menutup pusat keuangan dan memperluas kerusuhan sosial menjadi pembakar lain.

Lanjar melanjutkan, IHSG juga kecipratan api dari terbakarnya ekuitas Asia yang turun signifikan 164,48 poin ke level 6.175 yang merupakan penuruan terbesar harian sejak September tahun lalu. 

Pada perdagangan Senin (5/8), IHSG ditutup ambruk 2,59% sebesar 164,47 poin ke level 6.175,70. / Bursa Efek Indonesia

Nilai tukar rupiah

Selain IHSG, nilai tukar rupiah juga ditutup melemah ke level Rp14.255 per dolar AS pada Senin (5/8). Selain faktor eksternal, faktor domestik seperti pemadaman listrik yang terjadi pada Minggu (4/8) kemarin juga turut memengaruhi pelemahan rupiah. 

Direktur Utama Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan pasca gempa di Selat Sunda berdampak terhadap PLTU di Suramadu yang mengakibatkan terjadi gangguan listrik yang cukup serius.

Akibatnya, lanjut Ibrahim, pasokan listrik ke Jawa Bali terganggu dan akhirnya terjadi pemadaman. Salah satunya di DKI Jakarta mulai hari Minggu (4/8) selama 12 jam, dan hari ini, Senin (5/8) juga masih ada pemadaman secara bergilir.    

"Apalagi jika pemadaman listrik berlanjut hingga tiga hari ke depan, kerugian ekonomi ditaksir bisa mencapai triliunan rupiah. Hal ini karena, hampir lebih dari 70% uang beredar di Indonesia terjadi di DKI Jakarta," ujar Ibrahim secara terpisah.

Ibrahim pun menyebut, pelaku pasar tidak lagi percaya terhadap pemerintah, sehingga arus modal keluar cukup besar mengakibatkan rupiah kembali tertekan.

Selain itu, rilis angka pertumbuhan ekonomi sepanjang kuartal II-2019 oleh Badan Pusat Statistik (BPS) turut menjadi penyebab pelemahan rupiah. 

BPS mencatat perekonomian hanya tumbuh sebesar 5,05% yoy, sesuai ekspektasi pasar. Walaupun sesuai ekspektasi, pertumbuhan ekonomi pada tiga bulan kedua tahun 2019 melambat jika dibandingkan capaian pada kuartal I-2019 yang sebesar 5,07%.

Padahal, lanjut Ibrahim, pada kuartal kedua tahun ini ada gelaran pemilihan umum (Pemilu) dan kehadiran bulan Ramadan yang diharapkan bisa mendongkrak konsumsi masyarakat Indonesia, sekaligus mendongkrak pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan. 

Sebagai informasi, lebih dari 50% perekonomian Indonesia disumbang oleh konsumsi rumah tangga.

Selain itu, tekanan eksternal datang dari Donald Trump yang mengumumkan AS akan mengenakan bea masuk baru senilai 10% bagi produk impor asal China senilai US$300 miliar yang hingga kini belum terdampak perang dagang. 

"Kebijakan ini akan mulai berlaku pada tanggal 1 September. Kacaunya lagi, Trump menyebut bea masuk baru tersebut bisa dinaikkan hingga menjadi di atas 25%," kata Ibrahim.

Sementara itu, Beijing berjanji pada hari Jumat untuk melawan kembali keputusan tiba-tiba Presiden AS Donald Trump untuk menampar tarif 10% pada $300 miliar yang tersisa dalam impor Cina. Langkah ini mengakhiri gencatan senjata perdagangan selama sebulan.

Ibrahim memprediksi dalam transaksi Selasa (6/8), rupiah masih akan tertekan di level Rp14.230-Rp14.280 per dolar AS.