sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Pengembang properti belum mau akuisisi lahan di ibu kota baru

rencana pemidahan ibu kota tersebut belum pasti di kacamata pengusaha.

Annisa Saumi
Annisa Saumi Jumat, 07 Feb 2020 13:31 WIB
Pengembang properti belum mau akuisisi lahan di ibu kota baru
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 22750
Dirawat 15717
Meninggal 1391
Sembuh 5642

Rencana pemerintah memindahkan Ibu Kota Negara dari Jakarta ke Penajam Passer Utara, Kalimantan Timur (Kaltim) tak mendorong pengembang properti untuk mengambil langkah ekspansi ke sana.

Sekretaris Jenderal DPP Realestat Indonesia (REI) Amran Nukman menilai rencana pemidahan ibu kota tersebut belum pasti di kacamata pengusaha. Sehingga, pengembang tidak akan buru-buru mengakuisisi lahan untuk pembangunan di Kaltim.

"Pemidahan Ibu Kota Negara jelas jadi kabar gembira bagi pengembang di Kaltim. Tapi kita harus berandai-andai, bisa jadi batal, jadi jangan nekat beli tanah," kata Amran di Jakarta, Kamis (6/2).

Amran melanjutkan, berkaca dari masa lalu, kawasan Jonggol, Bogor, sempat diisukan akan menjadi Ibu Kota Negara di era Soeharto. Pengembang properti besar seperti Ciputra ikut terbawa hanyut oleh wacana tersebut dan membeli tanah di Jonggol.

Nyatanya, ibu kota urung pindah ke Jonggol. Ciputra pun menjadikan lahan mereka di Jonggol sebagai lokasi proyek perumahan segmen menengah bawah yaitu Citra Indah.

Dari pengalaman tersebut, lanjut Amran, banyak pengembang properti tak mau buru-buru mengincar proyek di ibu kota baru. Amran pun menyebut banyak negara yang memiliki pusat pemerintahan dan pusat bisnis yang berbeda.

"Jadi enggak dalam semalam kalau ibu kota pindah, Jakarta ini lampunya redup semua karena pusat bisnis masih di sini," ujar dia.

Di sisi lain, Amran menilai wacana pemindahan ibu kota ini harus terwujud sebelum Presiden Joko Widodo turun dari jabatannya. Sebab, jika pemidahan ibu kota belum selesai saat Jokowi turun, maka presiden selanjutnya bisa saja membatalkan rencana tersebut.

Sponsored

Sementara, sebagai direksi PT Metropolitan Land Tbk. (MTLA), Amran mengatakan perusahaannya mulai mengincar tanah di Kalimantan Timur. Namun, lokasi tanah tersebut tidak persis berada di ibu kota baru ataupun Kota Samarinda, melainkan di Balikpapan. 

Berita Lainnya