close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
ilustrasi. foto Pixabay
icon caption
ilustrasi. foto Pixabay
Bisnis
Selasa, 26 Oktober 2021 20:40

Perkosmi: Kosmetika dalam negeri jangan sampai kalah dengan 'jastip produk impor'

Pasar kosmetika Indonesia masih terbuka luas, namun sejumlah tantangan pasar harus segera dijawab industri ini.
swipe

Jumlah penduduk Indonesia menggambarkan peluang besar bagi industri apapun termasuk kosmetik. Terlebih segmen usia yang menjadi target pasarnya merupakan ceruk yang dominan. Di antara 272 jiwa penduduk hampir setengahnya adalah usia produktif.

“Jadi ini ada hubungannya dengan ketertarikan mereka menggunakan produk kosmetika, kurang lebih adalah dengan semakin sejahtera nya penduduk Indonesia. Maka kebutuhan akan produk kosmetika akan semakin meningkat, dan ini menjadi peluang untuk kami menangkapnya ” ujar Ketua Umum Persatuan Perusahaan Kosmetik Indonesia (Perkosmi), Sancoyo Antarikso.

Pasar yang besar ini tentu sebuah anugerah bagi pelaku industri kosmetika. Namun, dalam era yang sudah serba terkoneksi ini, semua pelaku industri perlu melakukan antisipasi tuntutan pasar secara cermat dan responsif. Jika tidak, bukan tidak mungkin kosmetika dalam negeri justru kalah oleh produk impor.

“Kita harus terus speed up dengan inovasi-inovasi baru yang terjadi di dunia, jangan sampai nanti peluang kita di Indonesia ini kalah dengan teman-teman yang jastip (jasa titipan) yang mereka impor dari negara tetangga,” katanya lagi.

Sancoyo yang berbicara dalam kegiatan sosialisasi Indonesia Halal Industry Award 2021 (26/10), itu mengungkapkan bahwa penjualan kosmetika melalui daring mencapai sekitar 13,3 persen. Ini menunjukkan bahwa industri kosmetika cukup menjanjikan. Bisa juga mendorong pertumbuhan ekonomi dengan menyerap banyak tenaga kerja baik yang terlibat langsung maupun tidak langsung.

“Sekitar 6 ribu orang yang bekerja di industri ini. Tidak heran jika Kementerian Perindustrian juga memasukkan Industri kosmetika sebagai salah satu industri andalan di dalam perencanaan pembangunan industri nasional di 2015-2035,” tambahnya.

Hadirnya e-commerce dan fenomena social Commerce sebenarnya membuka peluang kemudahan bagi pelaku industri kecil kosmetika untuk mendirikan brand. Tetapi di sisi lain sejumlah tantangan harus dijawab agar pengembangan industri selaras dengan kebutuhan pasar. Mengingat Indonesia adalah negara yang penduduknya mayoritas muslim, salah satu aspek yang perlu diperhatikan untuk menembus pasar adalah soal ‘kehalalan’.

“Pertama adalah akselerasi sertifikasi halal, infrastruktur, regulasi, dan LPH (quantity dan quality). Itu saya kira harus diperhatikan. Kemudian edukasi untuk konsumen (mengenai logo halal). Kedua tentang ekosistem produk halal dalam hal bahan baku, kemasan, dan standar biaya halal. Ketiga adalah kolaborasi, di mana kita harus mengoptimalkannya, mengoptimalisasi sumber daya (IKM), dan yang terakhir adalah dibutuhkannya inovasi yang relevan,” paparnya.

Pada tahun ini menurut statistika.com, pasar dari kosmetika yang terdiri dari cosmetics, skin care, personal care, fragrance itu mencapai sebesar US$7 miliar.

“Sebetulnya kalau kita bandingkan dengan tahun 2020, itu ada pertumbuhan tetapi hanya sedikit, tidak seperti yang biasa kita alami di tahun-tahun sebelum pandemi. Kementerian Perindustrian selalu mentargetkan Industri kosmetika itu tumbuh high single digit, atau low double digit, dan menurut statistika.com juga bahwa rerata pertumbuhan yang di estimasi untuk compound annual growth rate (CAGR) 5 tahun kedepan dari 2021-2025 itu sekitar 5,6%. Ini juga menurut saya, kita perlu bersama-sama dengan pemangku kepentingan untuk cepat mengejarnya, karena menurut saya ini terlalu rendah dibandingkan dengan apa yang sudah kita capai di tahun-tahun sebelumnya,” tutur dia.

Perkosmi

Dalam kesempatan ini, Sancoyo Antarikso memperkenalkan tentang profil Perkosmi. Ia mengatakan bahwa Perkosmi sudah berdiri sejak tahun 1977. Saat ini Perkosmi sudah tersebar di wilayah Sumatera, Jawa, dan Bali, Perkosmi juga sudah memiliki anggota sekitar 543 anggota, yang terdiri dari berbagai macam pelaku industri kosmetika.

“Kalau menurut catatan Kementerian Perindustrian sekitar 700 pelaku industri kosmetika, di antaranya 543 bergabung bersama kami. Terdiri dari berbagai macam pelaku usaha. Produsen menengah dan kecil. Sebagian besar pelaku industri kosmetika ini adalah industri kecil dan menengah (IKM), yang besar itu hanya beberapa saja.”

“Kami sendiri memiliki visi bagaimana kita bisa bersama-sama dengan seluruh pemangku kepentingan industri kosmetika di Indonesia ini, bisa membuat suasana atau pertumbuhan yang kondusif. Sehingga kita bisa tetap tumbuh, dan yang paling utama adalah bagaimana kita bisa memberikan suatu produk yang aman, baik, dan inovatif ,” jelas Sancoyo.

img
Kania Nurhaliza
Reporter
img
Fitra Iskandar
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan