close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
AHY menyinggung jeritan ibu-ibu soal harga beras mahal bahkan mencapai Rp20.000/kilo dalam pidatonya di Jakarta, Selasa (14/3/2023). Dokumentasi Partai Demokrat
icon caption
AHY menyinggung jeritan ibu-ibu soal harga beras mahal bahkan mencapai Rp20.000/kilo dalam pidatonya di Jakarta, Selasa (14/3/2023). Dokumentasi Partai Demokrat
Bisnis
Selasa, 14 Maret 2023 18:48

Berpidato, AHY singgung jeritan ibu-ibu soal harga beras mahal

"Saya juga mendengar keluhan para petani di Jawa, di Sumatra, di Kalimantan, di Sulawesi, hingga Bali dan Nusa Tenggara harga pupuk mahal."
swipe

Ketua Umum DPP Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menyoroti mahalnya harga beras belakangan ini. Ibu-ibu di berbagai daerah pun menjerit lantaran harga bahan pokok itu meroket.

AHY menerangkan, ibu-ibu tersebut mencurahkan isi hatinya (curhat) tentang mahalnya harga beras kepadanya saat safari politik ke berbagai daerah. Jawa Tengah, Yogyakarta, DKI Jakarta, Jawa Barat Banten, Jatim, Sulut, NTT, Lampung, Sumatera Selatan, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Barat, misalnya.

Putra sulung Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), ini lantas menceritakan dengan keluhan Yanti, ibu rumah tangga (IRT)asal Sulawesi Tengah. Kepada AHY, Yanti mengaku harga beras sekarung 50 kilogram di daerahnya nyaris Rp1 juta.

"Artinya, harga per kilo mencapai Rp20.000. Ini jauh di atas harga eceran tertinggi beras di pasaran," kata AHY saat membacakan pidato politiknya, Jakarta, Selasa (14/3).

"Saya juga mendengar keluhan para petani di Jawa, di Sumatra, di Kalimantan, di Sulawesi, hingga Bali dan Nusa Tenggara [tentang] harga pupuk mahal, sedangkan pupuk subsidi langka. Belum lagi, harga jual hasil panen dipermainkan tengkulak," imbuhnya. 

AHY melanjutkan, para nelayan di Maluku, Papua, dan timur Indonesia juga mengalami kesusahan. "Nelayan kesulitan berlayar karena mahal dan langkanya solar," imbuhnya.

Usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) pun disebutnya masih kesulitan pascapandemi. Terutama, dalam mendapatkan akses dan bantuan modal usaha.

Menurut AHY, buruknya kondisi perekonomian juga dirasakan para guru di berbagai daerah. Sebab, tidak juga diangkat sebagai aparatur sipil negara (ASN).

Buruknya kondisi ekonomi, sambung AHY, membuat orang tak mampu kesulitan mengakses pendidikan. "Ibu Sukmawati, kuliah anaknya terhambat karena persoalan ekonomi, padahal anaknya cukup berprestasi dengan IPK mencapai 3,94."

Saat ini, tambah AHY, dunia masih menghadapi tekanan ekonomi yang cukup berat. Inflasi di Indonesia pun melewati ambang batas atau lebih dari 5%. 

"Kini, masyarakat kembali merasakan kenaikan harga-harga barang sebagai second round effect dari kenaikan harga BBM tahun lalu," tandasnya.

img
Marselinus Gual
Reporter
img
Fatah Hidayat Sidiq
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan