close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Ilustrasi. Foto Pixabay.
icon caption
Ilustrasi. Foto Pixabay.
Bisnis
Jumat, 11 November 2022 19:46

Produksi barang dan jasa Indonesia melemah

Logistic Indonesia masih tergolong jauh dari memuaskan.
swipe

Indonesia saat ini masih mengalami kelemahan di sektor produksi barang dan jasa. Hal tersebut dikarenakan biaya yang lebih rendah dibandingkan dengan kompetitornya, serta logistic Indonesia masih tergolong jauh dari memuaskan.

“LPI merupakan salah satu indikator yang menilai sektor logistik suatu negara dan indikator ini dikeluarkan oleh Bank Dunia,” kata Pengamat Transportasi dari MTI Ajiph Razifwan Anwar dalam zoom yang diselenggarakan oleh Alinea.id secara daring dengan tema tata ulang ekosistem logistik, Jumat (11/11). 

Logistic Performance Index (LPI) merupakan salah satu indikator yang menilai kinerja sektor logistik suatu negara. Indikator ini dikeluarkan oleh World Bank (Bank Dunia). 

Biaya logistik di Indonesia pada 2020 tercatat sebagai biaya yang paling mahal di Asia. Berdasarkan data survey yang telah dilakukan terhadap profesional logistik di negara-negara dunia dapat dipengaruhi oleh komponen customs (kepabeanan), infrastruktur transportasi dan perdagangan, shipments, layanan logistik, merchandise tracebility, dan on time delivery.

“Komponen-komponen itu yang diukur oleh Bank Dunia sebagai nantinya keseluruhannya menjadi Index,” katanya.

Ajiph mengatakan, kalau posisi Indonesia adalah yang kelima. Posisi pertama negara Singapura, Posisi kedua Thailand, Posisi ketiga Vietnam, dan posisi terakhir keempat negara Malaysia. Keempat negara tersebut merupakan negara yang lebih unggul dari segi kinerja logistik.

“Artinya lebih unggul dalam memproduksi barang dan jasa dengan satu harga yang lebih murah dalam pemasarannya. Sedangkan negara lain, masih berada pada dibawah Indonesia,” tuturnya.

Indonesia masih tertinggal oleh Singapura dalam hal pelayanan kepabeanan, kemudahan mengatur pengapalan internasional, kompetensi logistik dari pelaku dan penyedia jasa local, pelacakan, biaya logistik dalam negeri dan waktu antar barang. Terdapat persoalan terkait ekosistem logistik nasional yang perlu menjadi perubahan yang lebih baik kedepannya. Poin-poin tersebut adalah Masterplan Logistik Nasional dan Biaya Logistic Indonesia 24% GDP.

Biaya Logistic Indonesia 24% GDP didapat dengan meningkatkan biaya produksi dan barang menjadi Rp1.820 trilliun per tahun. Peningkatan biaya tersebut berbeda dengan Malaysia yang telah meningkat 15%. Hal itu diperinci dengan biaya terdiri dari Rp546 T untuk penumpukan, Rp1.092 T untuk transportasi, dan Rp182 T untuk biaya administrasi.

img
Raihan Putra Tjahjafajar
Reporter
img
Ayu mumpuni
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan