sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

CIPS: Produksi migas harus digenjot untuk tekan defisit neraca dagang

Neraca perdagangan Indonesia mengalami fluktuasi pada kuartal I-2019.

Laila Ramdhini
Laila Ramdhini Selasa, 25 Jun 2019 12:26 WIB
CIPS: Produksi migas harus digenjot untuk tekan defisit neraca dagang
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 26473
Dirawat 17552
Meninggal 1613
Sembuh 7308

Neraca perdagangan migas Indonesia terus mengalami defisit dikarenakan nilai impor migas yang terus membengkak. Pemerintah diminta meningkatkan kapasitas pengolahan energi minyak dan gas (migas) di dalam negeri yang berorientasi ekspor.

Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Pingkan Audrine Kosijungan menjelaskan faktor utama yang menyebabkan defisit neraca dagang yakni komoditas ekspor yang belum memiliki nilai tambah

“Terkait tingginya nilai impor migas, Indonesia masih banyak mengekspor minyak mentah, dan pada akhirnya harus kembali mengimpor komoditas yang sama setelah diolah ke dalam bentuk yang siap digunakan.” kata Pingkan, dalam keterangannya, Senin, (24/6).

Menurut Pingkan, Indonesia masih mengandalkan pasokan Liquid Petroleum Gas (LPG) untuk kebutuhan ekspor. Padahal, sebenarnya permintaan global untuk komoditas ini tidak terlalu signifikan. 

Oleh karena itu, kebijakan struktural untuk menanggapi situasi ini perlu disiapkan agar Indonesia tidak terlampau reaktif dengan gejolak perekonomian global.

“Penguatan ekspor pada sektor non-migas perlu digenjot untuk dapat menekan selisih dengan sektor migas yang acap kali mengalami defisit,” kata dia. 

Upaya ini dapat dilakukan dengan melakukan diversifikasi produk, terutama produk olahan dan ekstensifikasi pasar dengan memperhatikan negara-negara potensial untuk produk utama ekspor Indonesia.

Untuk diketahui, neraca perdagangan Indonesia pada April 2019 mengalami defisit sebesar US$2,5 miliar. Angka ini merupakan defisit bulanan yang terparah sepanjang sejarah. Sebelumnya, Indonesia mencatatkan defisit neraca dagang bulanan tertingginya pada bulan Juli 2013 dengan angka US$2,3 miliar. 

Sponsored

Pingkan mengatakan hal ini perlu menjadi perhatian bagi pemerintah untuk mengatasi gejolak neraca perdagangan yang masih mungkin terjadi sepanjang tahun ini. Mengingat, pada Maret 2019 neraca dagang Indonesia surplus dengan angka US$0,54 miliar.

Fluktuatif

Pingkan menjelaskan, apabila diselisik dengan perbandingan month-to-month (mtm), maka kuartal I-2019 menggambarkan fluktuasi pada neraca dagang Indonesia. 

Pada bulan Januari, Indonesia mengalami defisit sebesar US$1,16 miliar. Angka itu memang membaik di Februari dan Maret karena neraca perdagangan mencatatkan surplus masing-masing pada angka US$0,33 miliar dan US$0,54 miliar. Namun sepanjang kuartal I tahun ini, neraca dagang Indonesia secara kumulatif mengalami defisit sebesar US$190 juta.

“Selama kuartal pertama tahun ini neraca dagang pada sektor migas tidak beranjak dari keadaan defisit.” Katanya.

Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekspor migas pada rentang waktu Januari hingga April mencapai US$4,22 miliar, sedangkan nilai impor migas mencapai angka US$6,99 miliar. Hal ini menyebabkan defisit pada neraca perdagangan sebesar US$2,76 miliar.

Memasuki kuartal II, neraca perdagangan migas masih mengalami defisit.

“Memang untuk saat ini Indonesia masih membuka keran impor yang cukup lebar untuk memenuhi kebutuhan migas domestik. Kondisi ekspor kita pada sektor migas masih kalah bersaing jika dibandingkan dengan intensitas impor,” lanjutnya.  

Menurut Pingkan, impor kian deras saat memasuki bulan ramadan. Langkah itu diambil pemerintah guna memastikan agar pasokan yang ada dapat mencukupi tingginya permintaan dari masyarakat yang melakukan mudik menggunakan jalur darat.

Berita Lainnya