logo alinea.id logo alinea.id

Rupiah bisa tembus Rp14.700 dalam jangka pendek

Mata uang Indonesia merosot ke level yang tak pernah tersentuh sejak Oktober 2015 , yakni di atas Rp14.600 per US$.

Cantika Adinda Putri Noveria
Cantika Adinda Putri Noveria Selasa, 14 Agst 2018 14:09 WIB
Rupiah bisa tembus Rp14.700 dalam jangka pendek

Rupiah menghadapi tekanan jual yang tinggi karena krisis ekonomi di Turki mengganggu sentimen global dan menciptakan kondisi risk-off. Kondisi risk-off mengartikan investor menghindari resiko dengan menarik dananya dengan membeli aset-aset yang lebih aman atau safe haven dan juga low yield currency seperti Yen dan dollar Amerika Serikat.

Chief Market Strategist FXTM, Hussein Sayed, mengatakan, dari aspek teknis, US$/IDR mempunyai ruang untuk menembus Rp14.700 di jangka pendek. Ini tidak terlepas dari situasi risk-off yang dipicu krisis Turki. "Mengurangi minat terhadap aset pasar berkembang," kata dia. 

Mata uang Indonesia merosot ke level yang tak pernah tersentuh sejak Oktober 2015 , yakni di atas Rp14.600 per US$. Rupiah sepertinya akan tetap tertekan karena selera risiko investor yang rendah dan Dollar yang menguat secara umum. Karena itu, menurutnya Bank Indonesia perlu mempertimbangkan meningkatkan suku bunga guna mendukung Rupiah.

Pada pembukaan sesi pagi, Selasa (14/8), Yahoo Finance mencatat Rupiah dibuka di level Rp14.597 per US$. Namun, pergerakan Rupiah cenderung berfluktuasi. Hingga pukul 14.00 WIB, Rupiah bergerak pada kisaran Rp14.593-14.630. 

Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual menjelaskan, melemahnya mata uang Turki, menjadi salah satu penyebab melemahnya mata uang negara lain, termasuk Indonesia dan juga di negara maju di Eropa. Tercatat sejak Juli 2018, Indonesia terdepresiasi 1%.

"Kalau dihitung pengaruh pelemahan Turki Lyra ini, sebenarnya buat Indonesia tidak terlalu besar, karena hanya melemah 1% pada Juli," jelas David saat dihubungi Alinea.id, Selasa (14/8). 

Sementara, Rand Afrika Selatan tercatat mengalami pelemahan paling dalam, yakni 9% dalam waktu dua bulan. Begitu pun Rusia Rubel, Won Korea, dan Renmimbi China yang melemah 1%. 

Disisi lain, Dolar Selandia Baru melemah 3,5% dan British Pound 3,1%, dan Euro 2% lebih. 

Sponsored

Secara fundamental, Turki memiliki fundamental ekonomi yang lemah. Transaksi berjalannya tercatat 6,5%, sementara inflasinya hampir 20%. 

"Disisi lain reaksi kebijakan Turki ini lemah. Pemerintahnya melakukan intervensi agar bank sentral tidak menaikkan suku bunga. Ditambah Turki sanksi dagang dari AS. Udah jelek tertimpa tangga," papar David. 

Namun demikian, Indonesia harus waspada karena terdapat pelarian modal dari beberapa negara, yang transaksi berjalannya besar. 

Hal senada juga disampaikan Ekonom Indef, Bhima Yudhistira. Dia menjelaskan faktor global dan domestik, memiliki andil dalam pelemahan kurs rupiah dan IHSG. Faktor tekanan global berasal dari kekhawatiran krisis Turki dengan anjloknya Lira hingga 80% sejak awal tahun. Kondisi ini diperparah sanksi dari AS berupa kenaikan bea masuk alumnium asal Turki. 

"Kondisi Turki diproyeksi akan berlangsung cukup lama. Sekali lagi krisisnya akan sistemik ke negara berkembang. US dolar index yang merupakan perbandingan antara dolar AS dengan enam mata uang dominan di dunia, juga mengalami kenaikan menjadi 96,3, menunjukkan fenomena super dolar yang trennya berlanjut," papar Bhima.

Dari dalam negeri, sentimen investor lebih dipengaruhi rilis data defisit transaksi berjalan yang menembus 3% terhadap PDB di kuartal II-2018. Defisit transaksi berjalan berpotensi melebar di kuartal III dan IV akibat naiknya biaya kebutuhan impor, pembayaran utang jatuh tempo dan realisasi proyek infrastruktur yg menyedot bahan baku impor.