logo alinea.id logo alinea.id

Rupiah diproyeksi kian jeblok tembus Rp15.000 per dollar AS

Kurs rupiah diperkirakan akan semakin jeblok menembus level psikologis Rp15.000 per dollar Amerika Serikat pada September 2018.

Eka Setiyaningsih
Eka Setiyaningsih Sabtu, 01 Sep 2018 02:52 WIB
Rupiah diproyeksi kian jeblok tembus Rp15.000 per dollar AS

Kurs rupiah diperkirakan akan semakin jeblok menembus level psikologis Rp15.000 per dollar Amerika Serikat pada September 2018.

Ekonom Institute for Development of Economics & Finance (Indef) Bhima Yudhistira memprediksi rupiah masih melanjutkan pelemahan pada kisaran Rp14.700-Rp14.950 per dollar AS hingga akhir September. Bahkan, dia memproyeksi kurs rupiah berpotensi menembus level psikologis Rp15.000 per dollar AS. 

Menurut dia, penyebab depresiasi rupiah terjadi lantaran dipicu krisis mata uang di Argentina yang dikhawatirkan berdampak sistemik pada negara-negara fragile five atau lima negara yang rentan terpapar guncangan global lainnya termasuk Indonesia. 

"Soal krisis Argentina ini memiliki kesamaan dengan Turki. Beberapa indikator kesehatan moneter dan fiskal Indonesia, Argentina dan Turki memiliki beberapa kesamaan meskipun kondisi Indonesia sedikit lebih baik," katanya kepada Alinea.id, Jumat (31/8).

Dia mencontohkan, terkait defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) Indonesia berada pada level 3%. Sementara, Turki 5,9% dan Argentina 4,7%. 

Tiga negara itu sama-sama menderita defisit transaksi berjalan. Kemudian, dari sisi defisit anggaran, Indonesia ditargetkan mencapai 2,2% pada 2018. Sedangkan, Turki 2,8% dan Argentina 5,3%. 
 
Selanjutnya, rasio utang Turki dan Argentina sudah di atas 50%. Lebih aman, Indonesia masih berada pada kisaran 30%. 

Kendati demikian, sambungnya, yang perlu dicermati adalah rasio kepmilikan asing pada surat utang Indonesia yang mncapai 40%. 

"Di tengah naiknya bunga Fed rate dan risiko global capital outflows bisa mengganggu kinerja ekonomi Indonesia," ungkapnya.

Sponsored

Lebih lanjut ia mengatakan, investor asing melihat kondisi ini akan melakukan flight to quality dengan membeli aset yang aman baik dollar AS, emas, maupun yen. 

Kenaikan Fed rate sebanyak dua kali pada September dan Desember, turut memperparah aliran modal asing keluar dari negara berkembang. 

Dari dalam negeri, kata dia, faktor yang menonjol adalah kebijakan pemerintah membatasi 900 barang impor, mandatory biodiesel 20% (B20), dan PT Pertamina (Persero) diminta membeli minyak mentah dari dalam negeri.

Pengendalian impor yang terlalu mendadak menjadi sentimen negatif yang menunjukkan pemerintah tidak mempunyai persiapan jangka panjang dalam menghadapi pelemahan rupiah. Sehingga, semua jalan pintas dicoba. 

"900 barang impor yang belum dirilis daftarnya juga menimbulkan kekhawatiran dari pelaku usaha," tegasnya.

Apabila ada bahan baku dan barang modal yang dibutuhkan industri tapi dibatasi, ucapnya, bisa merugikan pelaku usaha domestik sendiri. Sehingga, bagi pelaku usaha, lebih baik menyimpan uang di luar negeri atau tidak melakukan konversi ke rupiah untuk sementara waktu sebagai langkah preventif kebijakan pengendalian impor.