close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Foto twitter.com/SBYudhoyono
icon caption
Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Foto twitter.com/SBYudhoyono
Bisnis
Kamis, 27 Oktober 2022 13:11

SBY: Resesi dunia akan berdampak kepada Indonesia

Menurut SBY, resesi akan memperburuk kondisi ekonomi dunia, yang dipicu oleh banyaknya tekanan.
swipe

Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengingatkan pemerintah terkait ancaman resesi dunia, yang akan berdampak kepada Indonesia. Dia meminta semua pihak dan negara-negara di dunia mengantisipasi untuk menghadapi hantaman resesi.

“Sepertinya, ekonomi global bakal masuki resesi. Seberapa dalam dan berapa lama kita tidak tahu. Pada saatnya, badai pasti berlalu. Habis gelap, terbitlah terang. Begitulah sejarah krisis ekonomi sejak depresi dahsyat pada 1930-an. Syaratnya, dunia & semua negara harua berikhtiar *SBY,” tulis SBY di akun Twitter @SBYudhoyono, seperti dikutip pada Kamis (27/10).

Menurut SBY, resesi akan memperburuk kondisi ekonomi dunia, yang dipicu oleh banyaknya tekanan. Kata dia, resersi akan berdampak pada banyak sektor, seperti pertumbuhan yang anjlok, inflasi tinggi, meningkatnya pengangguran dan lain sebagainya.

"Resesi dalam arti luas adalah memburuknya perekonomian. Ada tekanan berat terhadap fundamental ekonomi dan kehidupan masyarakat. Pertumbuhan anjlok, inflasi tinggi, pengangguran meningkat, penghasilan & daya beli turun, utang bebani fiskal dan terbatasnya sumber daya untuk stabilisasi ekonomi SBY," ucap Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat ini.

SBY menambahkan, semua negara di dunia akan menghadapi ini. Seperti apa yang terjadi pada 2008.

"Semua negara akan diuji seperti dalam resesi global 2008. Bisa bertahan dan melangkah ke depan atau terjatuh dan bangkitnya lama. Sukses itu fungsi dari ikhtiar. Juga hasil dari proses dan kecakapan. Atasi krisis perlu ketepatan & kecepatan. First thing first. Insya Allah kita bisa SBY," pungkasnya.

Sebelumnya, Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) meminta jajarannya untuk berhati-hati dalam mengambil kebijakan di tengah ketidakpastian global yang memberikan tekanan pada pemulihan ekonomi dunia dan meningkatkan kekhawatiran akan risiko resesi.  Arahan tersebut diungkapkan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian (Menko Perekonomian) Airlangga Hartarto usai mengikuti Sidang Kabinet Paripurna (SKP) yang dipimpin oleh Presiden Jokowi, di Istana Negara, Jakarta, Selasa (11/10).

Menko Perekonomian mengungkapkan, IMF juga telah memangkas proyeksi ekonomi global tahun 2022 dari 3,6% menjadi 3,2%.

“Beberapa risiko yang perlu diperhatikan, antara lain terkait dengan perubahan iklim di mana terkait dengan perubahan iklim terjadi gelombang panas dan kebakaran hutan, yaitu di Eropa, cuaca ekstrem termasuk di Amerika, permukaan air laut dan banjir, juga terkait kekeringan dan krisis pangan,” imbuhnya.

Airlangga menyampaikan, dari sisi eksternal Indonesia memiliki ketahanan yang cukup kuat. Meski nilai tukar rupiah terdepresiasi hingga enam persen, namun relatif masih lebih kuat dibandingkan sejumlah negara, seperti Kanada, Swiss, Nepal, Malaysia, Thailand, dan Inggris.

“Walaupun terjadi goncangan, namun indikator eksternal kita relatif kuat. Volatility index kita sekitar 30,49 atau dalam range indikasi 30. Kemudian terkait dengan level indeks Exchange Market Pressure (EMP) kita juga di angka 1,06 atau di bawah 1,78; demikian pula juga dengan perbandingan credit default swap (CDS) kita yang relatif lebih rendah dari Meksiko, Turki, Brazil, dan Afrika Selatan,” ujarnya.

Dari internal, lanjut Airlangga, ekonomi Indonesia juga relatif kuat ditopang oleh konsumsi dalam negeri. Airlangga pun optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia di 2023 dapat mencapai 5,2%.

img
Marselinus Gual
Reporter
img
Hermansah
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan