sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Sektor pertambangan masih sempoyongan tahun 2020

Industri sektor pertambangan pada tahun 2020 tampaknya masih menghadapi kondisi sulit seiring risiko perang dagang AS dengan China.

Annisa Saumi
Annisa Saumi Kamis, 19 Des 2019 22:57 WIB
Sektor pertambangan masih sempoyongan tahun 2020

Industri sektor pertambangan pada tahun 2020 tampaknya masih menghadapi kondisi sulit seiring risiko perang dagang Amerika Serikat dengan China.

Department Head of Industry and Regional Research Kantor Ekonom Bank Mandiri Dendi Ramdani mengatakan sektor pertambangan masih akan tumbuh cukup berat tahun depan. Sebab, perang dagang antara Amerika Serikat dan China masih menjadi salah satu faktor risiko.

"Pertambangan masih susah tumbuh di 2020. Ini berimplikasi ke beberapa provinsi atau pulau yang bergantung pada komoditas," kata Dendi saat paparan outlook ekonomi 2020 di Jakarta, Kamis (19/12).

Untuk harga batu bara acuan misalnya, Dendi memproyeksikan pada 2020 berada pada kisaran US$75 per metrik ton setelah turun drastis US$65,9 di pasar spot. Dendi pun mengatakan, Indonesia masih belum bisa berharap banyak dari komoditas tambang.

Dendi melanjutkan, dari pelemahan sektor tambang tersebut, pertumbuhan ekonomi di Pulau Kalimantan dan Pulau Sumatera yang mengandalkan pertumbuhan dari komoditas menjadi tertekan. Tekanan tersebut berpengaruh hingga Pulau Jawa.

Menurut perkiraan Kantor Ekonom Bank Mandiri, pertumbuhan ekonomi di Pulau Sumatera akan mengalami penurunan dari 4,56% tahun ini, menjadi 4,54%. Kemudian pertumbuhan ekonomi Pulau Kalimantan juga diperkirakan menurun dari 4,30% tahun ini menjadi 4,19% tahun 2020.

Sementara untuk Pulau Jawa, Dendi memperkirakan pertumbuhan ekonomi di Pulau Jawa menurun dari 5,7% menjadi 5,46% tahun depan.

Akan tetapi, hal sebaliknya terjadi di Pulau Sulawesi, Bali-Nusa Tenggara, dan Maluku-Papua. Pulau Sulawesi diperkirakan akan mengalami pertumbuhan ekonomi menjadi 6,62% pada 2020, dari 6,58% di 2019. Kemudian, Bali-Nusa Tenggara juga akan mengalami pertumbuhan dari 4,65% tahun 2019 menjadi 4,74% pada 2020.

Sponsored

Sementara, untuk Maluku-Papua, yang tahun ini tertekan 5,93%, tahun depan diperkirakan akan mulai membaik ke angka 2,27%.

Naiknya pertumbuhan ekonomi di beberapa pulau ini disebabkan oleh beberapa hal. Di Sulawesi, pertumbuhan ekonomi didorong oleh pengolahan bijih nikel. Lalu, di Bali-Nusa Tenggara didorong oleh sektor pariwisata.

"Perlu waktu bagi Papua untuk tumbuh. Karena 35% kue ekonominya berasal dari Timika, tambang Freeport," tutur Dendi.

Adapun sektor-sektor ekonomi berorientasi domestik diperkirakan akan tumbuh relatif baik pada 2020. Sektor-sektor tersebut adalah jasa kesehatan, pendidikan, informasi dan telekomunikasi.

Berita Lainnya