logo alinea.id logo alinea.id

Sepanjang 380.000 km jalan akan pakai aspal karet

Pemerintah akan mengeluarkan kebijakan penyerapan karet sebagai bahan aspal untuk membangun jalan sepanjang 380.000 kilometer (km)

Cantika Adinda Putri Noveria
Cantika Adinda Putri Noveria Senin, 21 Jan 2019 14:14 WIB
Sepanjang 380.000 km jalan akan pakai aspal karet

Pemerintah akan mengeluarkan kebijakan yang mendorong penyerapan karet sebagai bahan aspal. Campuran aspal karet ini digunakan untuk membangun jalan sepanjang 380.000 kilometer (km) di seluruh Indonesia. 

Plt. Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin Achmad Sigit Dwiwahjono mengatakan saat ini pihaknya masih menghitung pemanfaatan karet untuk dijadikan aspal bersama Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) dan Kementerian Perhubungan. 

"Dari Kementerian PUPR kan sudah memanfaatkan aspal karet. Nah, kita akan perluas lagi untuk pemerintah daerah," kata Sigit saat ditemui di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Senin (21/1).

Setiap tahun, produksi karet alam Indonesia mencapai 3,2 juta ton dan yang dimanfaatkan industri dalam negeri baru 0,6 juta ton. Sementara, sebesar 2,4 juta ton lainnya diekspor ke mancanegara. Indonesia juga merupakan salah satu produsen karet alam terbesar di dunia. 

Sigit mengatakan potensi serapan karet untuk membangun jalan sepanjang 380.000 km nantinya sebesar 7% dari produksi aspal nasional.

"Jalan (yang dibangun) ada jalan nasional, ada jalan provinsi dan jalan kabupaten. Yang banyak ternyata di kabupaten, empat kali lipat dari jalan pusat," kata Sigit menjelaskan.

Secara teknis, kata Sigit, pemanfaatan karet untuk aspal ini juga dilakukan dengan berbagai cara, misalnya saja dicampur dengan aspal atau langsung diaplikasikan menjadi aspal. 

Selain untuk jalan, pemanfaatan karet juga akan digunakan untuk dock fender dan kebutuhan lainnya di pelabuhan. Perhitungan penyerapan karetnya, ada di tangan Kementerian Perhubungan. 

Sponsored

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan ada dua macam karet yang dicampur aspal. Pertama yakni latex dan ban bekas dicampur karet lembaran. 

Untuk latex, kata Darmin, pencampuran dengan aspal biasanya prosesnya bisa lebih cepat karena pengolahannya kecil. Namun, aspal ini tidak bisa lama dibiarkan. Oleh sebab itu, setelah dicampur harus langsung dipakai untuk aspal jalan.

Kata Darmin, di Indonesia sudah ada pabrik yang memproduksi aspal dengan campuran karet ini. Namun, hingga saat ini perkembangannya tidak maksimal. 

"Kita juga mau coba manfaatkan itu dengan Kementerian PUPR, Kemenhub juga kita minta identifikasi dari bahan karet apa saja yang bisa dipakai, misal bantalan rel KA, atau alat di pelabuhan," kata Darmin belum lama ini. 

Sementara itu, Darmin belum mau bicara soal realisasi rencana aspal karet. Kemenko Perekonomian masih akan melakukan pembahasan dengan stakeholder terkait.

Fenomena cocoklogi versus ilmu pengetahuan

Fenomena cocoklogi versus ilmu pengetahuan

Senin, 24 Jun 2019 22:15 WIB
Siasat turunkan harga tiket pesawat domestik

Siasat turunkan harga tiket pesawat domestik

Jumat, 21 Jun 2019 20:21 WIB