logo alinea.id logo alinea.id

Status unicorn di dunia start up dan nasibnya di Indonesia

Perusahaan start up memiliki status unicorn jika sudah memiliki valuasi US$1 miliar atau lebih. Bagaimana nasib unicorn di Indonesia?

Laila Ramdhini
Laila Ramdhini Senin, 18 Feb 2019 14:31 WIB
Status unicorn di dunia start up dan nasibnya di Indonesia

Belum banyak yang mengetahui istilah unicorn di dunia perusahaan rintisan (start up). Termasuk calon presiden Prabowo Subianto yang kebingungan saat lawannya, Joko Widodo melemparkan pertanyaan mengenai unicorn pada debat kedua pemilihan presiden (pilpres), Minggu (17/2) malam.

Unicorn merujuk pada perusahaan start up yang telah mencapai valuasi US$1 miliar atau lebih. Ketua Asosiasi Modal Ventura Indonesia (Amvesindo), Jefri R. Sirait menyatakan start up jenis ini masuk dalam kategori perusahaan sangat besar. 

Jefri menyebut Indonesia memiliki empat start up unicorn, yakni Go-Jek, Bukalapak, Tokopedia, dan Traveloka. Harus diakui, mayoritas bergerak di bidang perdagangan elektronik (e-commerce).

“Hasil survey kami memang menunjukkan, perusahaan e-commerce, financial technology, dan health technology sangat menarik untuk para investor baik dari luar dan dalam negeri,” kata Jefri saat dihubungi Alinea.id, Senin (18/2).

Jefri mengatakan perkembangan start up di Indonesia cukup masif dalam beberapa waktu belakangan. Namun, untuk bisa mencapai status ‘unicorn’, perusahaan ini harus tumbuh dengan pesat. Bahkan, mereka juga harus mengembangkan bisnisnya untuk berorientasi dalam skala global.

“Saat ini Amvesindo juga ikut aktif mendorong start up Indonesia untuk jadi next unicorn atau nexticorn. Sudah ada beberapa kandidat nexticorn,” ujarnya.

Lebih lanjut, Jefri menjelaskan tidak semua start up berorientasi untuk menjadi unicorn ataupun diakuisisi oleh perusahaan besar. Dalam perkembangannya, pendanaan start up bisa diperoleh dari berbagai cara.

“Pada saat (start up) sudah besar tentunya akan mengikuti persaingan normal. Memang saat ini masih ada gap yang cukup besar dalam investasi digital antara negara kita dengan negara maju yang sudah memulai lebih awal seperti di Amerika Serikat dan Eropa,” kata.

Sponsored

Sementara, Jefri juga mengatakan perkembangan industri ini harus didorong dengan iklim investasi, regulasi, dan teknologi yang baik. Dia menyebut pemerintah sudah merangsang start up Indonesia untuk bisa menjadi unicorn. Menurut dia, salah satunya adalah Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) yang mendorong adanya equity crowd funding.

Unicorn didorong menjadi decacorn

Sebelumnya, Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengungkapkan pada 2019 beeberapa perusahaan rintisan unicorn yang berpotensi meningkatkan status jadi decacorn.  Decacorn merupakan startup dengan nilai valuasi di atas US$10 miliar atau setara Rp140 triliun.

Meskipun demikian, Rudiantara enggan membocorkan nama startup yang dimaksudkannya itu. Menurut dia, perusahaan yang akan naik level tersebut hanya tinggal menunggu waktu. 

Lebih lanjut,  Rudiantara mengimbau kepada 4 start up unicorn yang kini sedang tumbuh pesat yakni Go-Jek, Bukalapak, Tokopedia dan Traveloka untuk segera melantai di pasar modal. Alasannya, keempat startup yang berada di level unicorn tersebut saat ini masih memiliki valuasi di atas US$1 miliar.

Dengan demikian, menurut Rudiantara, jika keempat startup itu ingin mencatatkan sahamnya di pasar modal, maka harus dilakukan sesegera mungkin. Sebab, jika sudah naik level menjadi decacorn dikhawatirkan akan sulit bagi pasar modal Indonesia lantaran tak sanggup menampungnya.

Start up menumbuhkan IKM

Sementara, Menteri Perindustrian Airlangga  Hartarto mengungkapkan, potensi ekonomi digital akan meningkatkan nilai tambah terhadap PDB nasional sebesar US$150 miliar pada 2025. Pertumbuhan industri ini juga akan menjadi peluang bagi 17 juta tenaga kerja. 

Airlangga juga menyampaikan, peningkatan produktivitas pada era ekonomi digital akan difokuskan pada kemudahan akses sektor IKM.  “Inilah yang kami dorong agar ekonomi digital terus berkembang, sehingga bisa ditangkap oleh pelaku industri kecil dan menengah (IKM) kita,” kata dia.

Selain itu, kata Airlangga, pemerintah menargetkan terciptanya 1.000 technopreneur pada tahun 2020, dengan valuasi bisnis mencapai US$100 miliar dan total nilai e-commerce sebesar US$130 miliar. 

“Saat ini, Indonesia sudah punya empat unicorn, dan mereka semuanya tumbuh bukan bagian dari ‘konglomerasi’ sehingga membentuk wirausaha baru yang kuat,” tuturnya.