sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Surat utang sepi peminat, Sri Mulyani waspadai krisis keuangan

Nilai surat berharga negara (SBN) pada penawaran (bid) di pasar lelang terus mengalami penurunan.

Nanda Aria Putra
Nanda Aria Putra Senin, 06 Apr 2020 15:30 WIB
Surat utang sepi peminat, Sri Mulyani waspadai krisis keuangan
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 385.980
Dirawat 63.556
Meninggal 13.205
Sembuh 309.219

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan lelang surat berharga negara (SBN) sepi peminat akibat kekhawatiran investor akan dampak Covid-19. 

Nilai surat berharga negara (SBN) pada penawaran (bid) di pasar lelang terus mengalami penurunan dari Rp127 triliun sekali penawaran pada 18 Februari 2020 menjadi Rp34 triliun pada 31 Maret 2020.

Dengan penurunan minat ini, maka imbal hasil atau yield SBN bertenor 10 tahun yang harus dibayarkan pemerintah juga meningkat hingga 130 basis poin.

“Dari pembelian sebesar Rp34 triliun, itupun pemerintah membeli Rp22 triliun, ditambah jumlah yield yang harus kita bayar. Jadi lebih mahal,” 

Sri melanjutkan, dari Rp34 triliun itu pun, lanjut Sri, sebanyak Rp22 triliunnya dibeli oleh Kementerian Keuangan sendiri. "Itupun kita masih mengambil Rp22 triliun dengan tadi jumlah yield yang harus kita bayar. Jadi lebih mahal," ujar Sri dalam video conference saat rapat bersama dengan Komisi XI DPR, Senin (6/4).

Dia pun menuturkan, hingga 2 April 2020 investor asing telah melepas SBN di pasar keuangan sebesar Rp130 triliun (year to date/ytd). Oleh karena itu, pihaknya bersama dengan Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) terus melakukan intervensi di pasar keuangan sembari memantau perkembangan.

Sri mengungkapkan aksi tarik modal sejumlah investor asing tersebut dapat mengganggu stabilitas sistem keuangan nasional.

"Sepanjang Februari-Maret bersama BI, OJK, LPS terus memantau dengan ketat, melakukan koordinasi dalam melihat apakah sistem keuangan kita dalam situasi normal, waspada, siaga, atau kemungkinan akan merambat menjadi krisis yang mengancam stabilitas sistem keuangan," ucapnya.

Sponsored

Apalagi, dengan kondisi penyebaran Covid-19 yang tidak dapat diprediksi secara pasti kapan akan berakhir dan terus bereskalasi dengan cepat, situasi pasar keuangan pun berubah dengan sangat cepat pula. 

"Karena sebetulnya di situasi ini pergerakan bisa terjadi begitu sangat cepat seperti dilihat, hanya dalam kurun satu bulan terjadi perubahan mood dan crisis, gejolak sangat tinggi," tuturnya.

Berita Lainnya