sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Telemedicine, layanan praktis nan laris manis

Pengguna layanan telemedicine meningkat signifikan karena pandemi Covid-19.

Nurul Nur Azizah
Nurul Nur Azizah Rabu, 13 Jan 2021 07:57 WIB
Telemedicine, layanan praktis nan laris manis
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 882.418
Dirawat 138.238
Meninggal 25.484
Sembuh 718.696

Sekitar awal Juli 2020, Taufik (28) mengalami nyeri lambung selama beberapa hari. Tak menunggu lama, dia pun menjajal salah satu penyedia layanan telemedicine, Halodoc.

Pengalaman pertama itu ia jalani setelah mendapat rekomendasi dari seorang teman. Karyawan swasta di kawasan Jakarta itupun langsung berkonsultasi dengan dokter melalui website Halodoc. Setelah melakukan pendaftaran dengan mengisi identitas, dia diarahkan untuk memilih dokter dengan spesialisasi serta tempat praktiknya. Hanya sekali klik, konsultasi langsung dilakukan dengan saling berkirim pesan. 

"Chatting sama dokternya cuma 15 menit, ditanya soal gejala yang dirasakan sampai punya alergi atau enggak. Terus dokternya kayak yang sudah paham, ya sudah dikasih resep dan obatnya datang diantar ojek online," ujar Taufik saat berbincang dengan Alinea.id, Minggu (10/1). 

Meski begitu, sang dokter tetap mengingatkannya untuk datang ke klinik terdekat jika selama 2-3 hari tidak ada tanda-tanda perbaikan kondisi. "Tapi syukurnya, waktu itu cocok sih," imbuhnya.  

Alasan kemudahan dan kepraktisan, menjadi pendorong lelaki asal Malang Jawa Timur itu untuk menggunakan salah satu akses layanan telemedicine. Di samping itu, layanan konsultasi online ini harganya juga lebih terjangkau. Dia juga tak perlu merogoh kocek untuk ongkos transportasi menuju fasilitas layanan kesehatan. 

Taufik mengeluarkan biaya Rp10.000 untuk sekali konsultasi daring selama sekitar 60 menit. Jika ditotal dengan biaya obat serta ongkos antarnya, total biaya tidak lebih dari Rp40.000. 

"Sudah kerjasama dengan apotek sama ojek daring gitu kan, jadi bayarnya ya sekalian pakai saldo e-wallet," katanya. 

Layanan konsultasi dokter secara online ini rupanya tak hanya untuk penyakit ringan saja. Pasien Covid-19 pun bisa melakukan konsultasi via telemedicine. Pengalaman ini dialami Harits (26). 

Sponsored

Sekitar Agustus 2020 lalu, dia dinyatakan positif Covid-19 berdasarkan hasil tes usap. Dalam kondisi bingung dan kalang kabut, Harits sempat menelepon rumah sakit terdekat di tempat tinggalnya di Jakarta. Namun nyatanya, ia tak bisa langsung dirujuk. Akhirnya, ia mengaku mendapatkan layanan virtual untuk berkonsultasi dengan dokter di RS. 

"Pakai zoom, tapi harganya cukup lumayan, merogoh kocek," kata Harits kepada Alinea.id, Minggu (10/1). 

Kemudian, dia memutuskan untuk mengakses aplikasi penyedia konsultasi daring seperti Halodoc. Dalam sekali sesi konsultasi, biaya yang dikeluarkan hanya sekitar Rp10.000. "Beda sama konsultasi dokter daring sebelumnya, bisa sampai 10 kali lipatnya lebih, ratusan ribu rupiah," imbuhnya.  

Ilustrasi telemedicine. Pexels.com.

Sebagai pasien Covid-19 yang melakukan isolasi mandiri (isoman) di rumah, Harits mengandalkan informasi yang didapat dari konsultasi dengan dokter di aplikasi Halodoc. Mulai dari anjuran untuk mengatur gizi hingga jadwal makanan setiap hari seperti konsumsi sayur, buah, dan vitamin 1000 mg. Selain itu, ia juga dianjurkan meningkatkan imun dengan olahraga. 

Setelah melalui isolasi kurang lebih dua minggu dan tes usap dua kali, Harits akhirnya dinyatakan negatif Covid-19. Sehari kemudian, dia kembali memberi laporan kepada dokter secara daring.

"Sempat tanya, Dok saya perlu ke RS enggak buat cek paru? Kata dia enggak perlu, ya udah," katanya menirukan ucapan dokter kala itu.   

Berkonsultasi via telemedicine sebenarnya bukan hal baru bagi penyintas Covid-19 ini. Sebelumnya, Harits sudah beberapa kali menggunakan layanan itu. Mulai dari konsultasi kesehatan ringan sampai membeli obat dan vitamin yang jarang ditemukan di apotek terdekat rumahnya. 

"Taunya dari iklan-iklan di Youtube sih, teman juga ada yang pakai. Dari situ mulai kebiasaan, seperti pakai aplikasi ojek online biasa mudah," ucap dia. 

Lebih praktis

Di era modern ini, layanan telemedicine hadir sebagai bentuk kepraktisan. Pasien tidak perlu datang berduyun-duyun ke rumah sakit. Antre berjam-jam hanya untuk menebus resep obat pun bisa dihindari. Bermodalkan gawai yang terhubung internet, layanan medis pun lebih mudah didapat.

Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization) mendefinisikan telemedicine sebagai pelayanan kesehatan oleh tenaga medis menggunakan teknologi informasi dan komunikasi. Layanan ini bisa bertujuan untuk mendiagnosis, mengobati, mencegah, dan mengevaluasi kondisi kesehatan seseorang yang berada jauh dari fasilitas kesehatan. 

Satu dekade lalu, konsultasi jarak jauh ini dilakukan melalui teknologi sederhana. Seperti perawat kesehatan di daerah terpencil berkonsultasi dengan dokter di rumah sakit besar di kota melalui pesan singkat (SMS) ataupun sambungan telepon. 

Namun kini, perkembangan telemedicine sudah makin pesat. Telemedicine bahkan bisa digunakan untuk membaca hasil rekam jantung ultrasonografi (USG) pasien. Medianya juga sudah bisa melalui situs dan aplikasi daring di gawai yang terhubung dengan internet. Konsultasi praktis tanpa tatap muka langsung bisa dilakukan dimanapun dan kapanpun.

Aplikasi daring penyedia telemedicine ini memungkinkan para pasiennya untuk berkonsultasi real-time dengan para dokter. Tidak sampai satu jam, pasien sudah bisa mendapatkan resep obat yang bisa diantar langsung ke alamat tujuan.  

Makin populer kala pandemi

Saat pandemi, telemedicine makin populer di tengah masyarakat. Jika dulu tak banyak orang tahu, sekarang banyak yang berbondong-bondong untuk sekadar menjajal atau mengandalkannya sebagai alternatif konsultasi medis jarak jauh.

VP Marketing Halodoc Felicia Kawilarang menyebut ada kenaikan transaksi konsultasi dokter berbayar di Halodoc pada semester pertama 2020. Peningkatannya mencapai 6x lipat dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya. Hingga saat ini, platform Halodoc telah dimanfaatkan oleh lebih dari 20 juta pengguna aktif bulanan sepanjang kuartal-II 2020. 

“Secara umum pengguna Halodoc mengalami peningkatan 10 kali lipat di Indonesia,” ujar Felicia kepada Alinea.id, Selasa (12/1). 

Halodoc mampu menangani konsultasi secara virtual bermodalkan lebih dari 20.000 dokter umum dan dokter spesialis. Adapun produk kesehatan bisa dipesan dari lebih 3.000 apotek yang bisa diantar langsung ke rumah dan dapat diakses di 100 lebih kota. Bentuk-bentuk layanan di Halodoc yang saat pandemi paling laris adalah Chat dengan dokter, Toko Kesehatan, Tes Covid-19, Buat Janji RS dan Kesehatan Jiwa. 

Senada, Deputy CEO Klikdokter Bonny Mateus Anom juga mengakui tren telemedicine melonjak signifikan. Terutama sesaat setelah Covid-19 terdeteksi ada di Indonesia pada awal Maret 2020.

"Karena banyak user yang mencari info tentang Covid-19, gejala atau ciri, penanganan, RS terdekat, dan seterusnya," ujar Bonny kepada Alinea.id, Senin (11/1). 

Berdasarkan data internal Klikdokter, teleconsultation dan online booking mengalami peningkatan sampai 3 kali lipat. Adapun, jumlah MAU (Monthly Active User) di Klikdokter mencapai 12 juta orang/bulan. 

Aplikasi anak usaha dari Kalbe tersebut memiliki berbagai layanan kesehatan secara daring. Di antaranya, layanan konsultasi free chat 24 jam dan premium chat. Di sini, user dapat memilih spesialisasi dokter yang diinginkan serta chatbot untuk screening awal Covid-19. 

Ada pula layanan e-Prescription atau peresepan secara online. Obat ini bisa dikirim menggunakan kurir Grab atau diambil di apotek terdekat. Selain itu, Klikdokter juga melayani booking atau medical reservation secara real time, baik untuk booking klinik atau RS maupun booking kebutuhan pengecekan rapid test hingga tes polymerase chain reaction (PCR).

Di sisi lain, Klikdokter juga menyediakan fitur “Belanja sehat” untuk memenuhi kebutuhan nutrisi dan pembelian obat, EMR (Electronic Medical Record) hingga pengembangan layanan video call.

"Untuk telemedicine terkait Covid-19 (sekarang) lebih kecil dibandingkan konsultasi di luar topik Covid-19 dari total live chat. Kalau dulu saat pandemi awal, telemedicine Covid-19 lebih banyak usernya," jelasnya. 

Berita Lainnya