sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Mulai hari ini, siswa SD dan SMP di Surabaya bebas PR

Kebijakan ini dilakukan untuk mengurangi beban siswa di luar sekolah, sehingga mereka mampu mengembangkan diri di bidang nonakademis.

Muhammad Wahid Aziz
Muhammad Wahid Aziz Kamis, 10 Nov 2022 16:28 WIB
Mulai hari ini, siswa SD dan SMP di Surabaya bebas PR

Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya resmi menghapus pekerjaan rumah (PR) bagi siswa SD dan SMP mulai hari ini, Kamis (10/11).  Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi mengatakan, kebijakan ini dilakukan untuk mengurangi beban siswa di luar sekolah, sehingga mereka mampu mengembangkan diri di bidang nonakademis.

”Sebetulnya PR jangan membebani (anak-anak). PR harus berbentuk kegiatan pembentukan karakter. Yang penting adalah pertumbuhan karakter mereka,” kata Eri Cahyadi dalam keterangannya, Kamis (10/11).

Eri juga mengajak para orang tua siswa ikut membentuk karakter anak-anak saat berada di rumah. Sebab, orang tua juga memiliki tugas dalam pengawasan dan menjaga anak-anak selama berada di rumah.

“Sebetulnya pendidikan tidak hanya dibebankan kepada guru di sekolah. Tetapi orang tua juga bertanggung jawab dalam proses pembentukan karakter anak,” katanya.

Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Surabaya, Yusuf Masruh mengatakan, pihanya juga akan memangkas jam sekolah. nantinya, jam aktif pembelajaran hanya berlangsung hingga pukul 12.00. Selanjutnya siswa akan menerima pendalaman materi maksimal sampai pukul 14.00.

”Jam belajar selesai pukul 12.00 WIB dan pendalaman sampai pukul 14.00 WIB. Artinya dua jam sudah efektif, anak-anak bisa mengikuti pola pembelajaran melalui pengambangan bakat masing-masing. Ada lukis, menari, mengaji, dan lainnya,” kata Yusuf.

Sementara itu, Konselor anak dari Sekolah Cikal Surabaya, Nerinda Rizky Firdaus mengatakan, pihaknya merespons baik kebijakan penghapusan PR. Pasalnya, PR malah menjadi beban untuk sebagai anak hingga membuat mereka tidak berkembang.

”Jika menelusuri awal mula PR itu, maka awalannya adalah untuk membiasakan anak belajar di rumah. Namun, jika bicara tentang PR dan kaitannya dengan upaya memberikan tantangan pengembangan diri dan kompetensi anak, maka sebetulnya anak-anak itu sendiri akan tertantang bukan karena PR. Kenapa? Karena bagi sebagian anak PR itu malah menjadi beban,” terang Rizky, dikutip dari detik.com.

Sponsored
Berita Lainnya
×
tekid