logo alinea.id logo alinea.id

9 anggota kelompok Abu Sayyaf tewas dalam serangan militer

Salah satu anggota Abu Sayyaf yang tewas adalah Julie Ikit, sepupu dari pemimpin kelompok itu.

Valerie Dante
Valerie Dante Jumat, 12 Apr 2019 18:46 WIB
9 anggota kelompok Abu Sayyaf tewas dalam serangan militer

Pada Jumat (12/4), militer Filipina menyatakan seorang petinggi dan delapan anggota kelompok militan Abu Sayyaf tewas dalam serangkaian serangan oleh pasukan pemerintah di Patikul, Sulu, Kamis (11/4).

Satuan Tugas Gabungan Sulu mengidentifikasi salah satu korban sebagai Julie Ikit, salah satu petinggi yang merupakan sepupu pemimpin Abu Sayyaf, Radullan Sahiron.

Sahiron yang sulit ditangkap adalah salah satu teroris yang paling dicari oleh Biro Investigasi Federal (FBI) Amerika Serikat. Mereka menawarkan imbalan US$1 juta bagi siapa pun yang dapat menemukannya.

Militer Filipina menyatakan bahwa anggota Abu Sayyaf yang melarikan diri meninggalkan jasad Ikit setelah baku tembak selama 45 menit di Desa Panglayahan, sekitar pukul 10.30 waktu setempat.

Itu adalah bentrokan pertama pada Kamis antara militer dan sekitar 120 anggota Abu Sayyaf yang dipimpin oleh Sahiron dan Hajan Sawadjaan. Hajan disebut-sebut sebagai penerus dari almarhum Isnilon Hapilon, pria yang diyakini sebagai pemimpin ISIS di Asia Tenggara.

Sekitar pukul 03.45 malam, baku tembak kembali terjadi antara militer Filipina dengan Abu Sayyaf di Desa Kabun Takas, Patikul. Dari bentrokan itu, militer menewaskan satu anggota Abu Sayyaf, sedangkan sisa anggota lainnya melarikan diri.

Tentara kembali menggempur anggota Abu Sayyaf pada pukul 05.00 dan 05.45 di wilayah yang sama.

Militer menyampaikan bahwa tujuh anggota Abu Sayyaf lainnya tewas dalam empat gempuran berturut-turut dan sebanyak 19 anggota terluka parah.

Sponsored

"Hilangnya tangan kanan Radullan Sahiron dan tewasnya beberapa anggota Abu Sayyaf dalam serangkaian serangan akan berdampak buruk pada moral dan keinginan mereka untuk bertarung," jelas pernyataan Satgas Sulu.

Militer menyatakan akan melanjutkan perintah Presiden Filipina Rodrigo Duterte dan mengejar anggota Abu Sayyaf yang tersisa.

Abu Sayyaf, yang dikenal atas kekejamannya termasuk dengan memenggal sanderanya, merupakan salah satu kelompok militan yang menjadi alasan Presiden Duterte memberlakukan darurat militer di Mindanao hingga 31 Desember 2019. Duterte menyerukan perang habis-habisan melawan kelompok bersenjata itu. (CNN)