sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Apple dan Google didesak hapus aplikasi pelacak perempuan milik Saudi

Aplikasi milik Arab Saudi, Absher, memungkinkan para wali lelaki untuk melacak keberadaan anak, istri, atau saudara perempuan mereka.

Valerie Dante
Valerie Dante Senin, 18 Feb 2019 17:45 WIB
Apple dan Google didesak hapus aplikasi pelacak perempuan milik Saudi

Apple dan Google didesak menghapus aplikasi milik pemerintah Arab Saudi, Absher, dari platfrom mereka. Absher memungkinkan para wali lelaki untuk melacak keberadaan anak, istri, atau saudara perempuan mereka.

Permintaan tersebut diajukan oleh Senator asal Partai Demokrat, Ron Wyden, melalui sebuah surat yang ditujukan kepada CEO Apple Tim Cook dan CEO Google Sundar Pichai pada Senin (18/2).

Wyden meminta kedua perusahaan raksasa teknologi tersebut untuk berhenti menyediakan aplikasi Absher dalam layanan toko aplikasi mereka, yakni App Store dan Google Play Store.

Absher, pertama kali tersedia bagi perangkat iOS pada 2015 dan untuk Android pada 2016. Dalam aplikasi itu, pengguna dapat mengakses berbagai layanan pemerintah seperti informasi ibadah haji, visa, kartu identitas, pembayaran denda tilang, hingga asuransi kesehatan.

Aplikasi tersebut juga memungkinkan para wali pria di Arab Saudi untuk menentukan apakah perempuan dapat bepergian ke luar negeri serta dapat membatasi perjalanan mereka.

Di bawah hukum perwalian Arab Saudi, perempuan tidak dapat bepergian tanpa izin dari wali pria mereka. Hukum perwalian tersebut juga mengharuskan laki-laki untuk menyetujui partisipasi perempuan dalam kegiatan tertentu.

Para kritikus berpendapat bahwa aplikasi Absher merupakan perpanjangan berbentuk teknologi dari aturan represif yang membatasi banyak aspek kehidupan kaum wanita di Arab Saudi.

"Perusahaan-perusahan AS tidak seharusnya memfasilitasi patriarki pemerintah Arab Saudi," tutur Wyden dalam suratnya.

Sponsored

"Dengan mengizinkan aplikasi ini tersedia di platform Anda masing-masing, perusahaan Anda mempermudah pria Arab Saudi untuk mengontrol anggota keluarga mereka dan membatasi pergerakan mereka," imbuhnya.

Ketika ditanya tentang kontroversi aplikasi Absher, pada Senin (11/2), Cook mengatakan kepada National Public Radio bahwa, "Saya belum pernah mendengarnya. Tapi jelas akan kami periksa."

Apple belum menanggapi permintaan untuk berkomentar. Sedangkan Google mengatakan bahwa mereka sedang memeriksanya tetapi belum menyediakan perkembangan terbaru sejauh ini.

Selain Wyden, Amnesty International juga telah meminta Apple dan Google untuk menilai kembali risiko pelanggaran hak asasi manusia dan kerugian terhadap perempuan yang difasilitasi oleh aplikasi itu.

"Penggunaan aplikasi Absher untuk membatasi pergerakan perempuan sekali lagi menyoroti sistem diskriminasi di bawah hukum perwalian serta perlunya reformasi hak asasi manusia di negara itu," tutur juru bicara Amnesty International dalam sebuah pernyataan.

Kementerian Dalam Negeri Arab Saudi mengeluarkan pernyataan, membantah kritik yang dilayangkan kepada mereka.

"Kementerian mengecam kampanye yang mempertanyakan tujuan layanan Absher yang disediakan pada ponsel pintar untuk memfasilitasi layanan kepada pengguna," ungkap pernyataan tersebut. "Kementerian Dalam Negeri menegaskan penolakannya terhadap upaya politisasi penggunaan sistematis instrumen teknis, yang mewakili hak sah bagi pengguna, dan keinginannya untuk melindungi kepentingan pengguna layanannya," lanjut pernyataan itu.

Rothna Begum, peneliti senior hak asasi perempuan di Human Rights Watch, mengatakan bahwa Apple dan Google perlu mempertimbangkan cara aplikasi tersebut digunakan dan pemanfaatannya di masyarakat.

Dia mencatat bahwa kedua raksasa teknologi itu sudah memiliki aturan terkait aplikasi yang memfasilitasi ancaman dan pelecehan.

Begum menyarankan agar perusahaan meminta pemerintah Arab Saudi untuk menghapus fungsi perwalian dari aplikasi Absher.

"Apple dan Google harus melihat apakah aplikasi pemerintah ini memfasilitasi pelanggaran HAM atau mendorong diskriminasi di Arab Saudi juga," jelasnya.

Menurutnya, fitur perwalian itu hanyalah contoh lain tentang bagaimana pemerintah Arab Saudi telah memanfaatkan teknologi modern untuk memperkuat praktik primitif.

"(Aplikasi) ini umum bagi Arab Saudi. Mereka menggunakan teknologi modern untuk memaksakan aturan kuno dan diskriminatif. Mereka sangat tertarik memanfaatkan teknologi modern, tetapi tidak ingin memodernisasi sistem mereka, seharusnya mereka menjauh dari praktik diskriminatif dan merendahkan."

Pada 2016, Direktur Pusat Informasi Nasional Arab Saudi Tariq bin Abdullah mengatakan bahwa, "Tujuan utama pengembangan aplikasi Absher adalah untuk meningkatkan pelayanan, selain memanfaatkan potensi perangkat pintar untuk menyediakan layanan bernilai tambah."

Dia memaparkan bahwa aplikasi ini telah digunakan oleh lebih dari enam juta orang pada 2016.

Sumber : CNN

Berita Lainnya