sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

AS-China teken fase pertama perjanjian dagang pekan depan

Penandatanganan akan dilakukan di AS pada 15 Desember.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Kamis, 09 Jan 2020 18:19 WIB
AS-China teken fase pertama perjanjian dagang pekan depan

China mengumumkan bahwa Wakil Perdana Menteri Liu He akan bertolak ke Washington pekan depan untuk menandatangani tahap pertama dari kesepakatan dagang dengan Amerika Serikat.

"Wakil PM Liu akan melakukan perjalanan ke AS dari 13 Januari hingga 15 Januari," ungkap juru bicara Kementerian Perdagangan China Gao Feng pada Jumat (9/1) di Beijing.

"Tim negosiasi dari kedua belah pihak tetap dalam komunikasi yang erat terkait penandatanganan."

Pernyataan tersebut merupakan konfirmasi pertama China soal penandatanganan kesepakatan dagang tahap pertama. Sebelumnya, Donald Trump pada 31 Desember telah menyatakan bahwa penandatanganan akan dilakukan pada 15 Januari.

Selain itu, Trump juga mengatakan bahwa dia akan melawat ke Beijing pascapenandatanganan untuk memulai negosiasi tahap kedua.

Di bawah tahap pertama dari perjanjian dagang yang diumumkan pada 13 Desember, AS setuju untuk menangguhkan pemberlakuan tarif impor yang seharusnya diberlakukan pada 15 Desember dan mengurangi beberapa tarif yang sudah diterapkan. Sementara itu, Beijing sepakat untuk meningkatkan pembelian produk pertanian, energi, dan manufaktur. 

Detail dari tahap pertama kesepakatan dagang belum diungkapkan. 

Kepala Perwakilan Dagang AS Robert Lighthizer berharap dokumen setebal 86 halaman itu akan dipublikasikan untuk umum setelah diteken.

Sponsored

Penandatanganan fase pertama tersebut setidaknya untuk sementara menenangkan kekhawatiran atas meningkatnya perang dagang antara dua raksasa ekonomi dunia di tengah situasi Timur Tengah yang memanas.

AS melancarkan perang dagang terhadap Beijing kurang lebih satu setengah tahun lalu atas tuduhan praktik perdagangan tidak adil, seperti pencurian kekayaan intelektual AS dan subsidi tidak adil yang menguntungkan perusahaan-perusahaan China. (Bloomberg dan CNBC)

Berita Lainnya