sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

AS tuduh Iran serang kilang minyak Arab Saudi

Milisi Houthi sendiri sudah mengklaim bahwa serangan terhadap kilang minyak terbesar Arabian-American Oil Company (Aramco).

Soraya Novika
Soraya Novika Minggu, 15 Sep 2019 13:11 WIB
AS tuduh Iran serang kilang minyak Arab Saudi
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Mike Pompeo menuduh Iran atas serangan yang terjadi pada kilang minyak Arab Saudi, sembari mengesampingkan keterlibatan kelompok gerilyawan Yaman yang bersekutu dengan Teheran, milisi Houthi.

Padahal, milisi Houthi sendiri sudah mengklaim bahwa serangan terhadap kilang minyak terbesar Arabian-American Oil Company (Aramco) yakni Abqiq itu adalah berasal dari kelompok tersebut.

Pompeo menolak klaim tersebut dan dengan tegas menyalahkan Iran.

"Teheran berada di balik hampir 100 serangan terhadap Arab Saudi sementara Rouhani (Presiden Iran Hassan Rouhani) dan Zarif (Menteri Luar Negeri Iran Mohammed Javad Zarif) berpura-pura terlibat dalam diplomasi," ujar Pompeo melalui cuitan di akun resmi pribadinya dikutip dari Asharq Al-Awsat, Minggu (15/9).

Pompeo melanjutkan, "Di tengah semua seruan untuk deeskalasi, Iran malah meluncurkan serangan yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap pasokan energi dunia," ucapnya.

Kemudian mengimbau, "Kami menyeru semua negara untuk secara terbuka dan tegas mengutuk serangan Iran tersebut," katanya sembari mengingatkan bahwa pemerintahan Donald Trump akan bekerja sama dengan sekutunya untuk memastikan Iran bertanggung jawab atas agresi tersebut.

Cuitan tersebut mengisyaratkan sikap yang lebih hawkish dari Washington terhadap Teheran, justru di saat Iran tengah berencana mengadopsi kebijakan produksi minyak mentah secara maksimum jika AS mencabut sanksi terhadap industri minyak negara itu.

Sebagaimana diketahui, selama ini hubungan AS dan Iran senantiasa bersitegang terutama sejak AS keluar dari kesepakatan nuklir Iran atau dikenal dengan Pakta 2015 tahun lalu. Pasca-kejadian itu, AS kembali menerapkan sanksi yang melemahkan ekonomi Iran seperti mengancam negara manapun yang mengimpor minyak dari Iran.

Sponsored

Namun, beberapa pekan terkahir dinamika hubungan keduanya mulai berubah terutama saat Trump menyatakan berkeinginan bertemu dengan Rouhani seperti di sela-sela Sidang Majelis Umum Nasional di New York akhir September ini.

Pada waktu yang sama, Rouhani malah menolak rencana Trump tersebut sampai Washington mencabut sanksinya.

Di kesempatan yang berbeda, Senator Amerika Serikat (AS) dari Partai Republik Lindsey Graham menilai bahwa serangan yang terjadi di ARAMCO sebagai bukti Iran tidak tertarik sama sekali dengan perdamaian yang hendak ditawarkan AS dan malah semakin gencar menunjukkan ambisinya terhadap senjata nuklir dan dominasi regional di Timur Tengah.

"Sekarang saatnya bagi AS untuk melakukan serangan terhadap kilang minyak Iran jika mereka melanjutkan provokasi mereka atau meningkatkan pengayaan nuklir," cuit Graham dalam akun Twitter pribadinya.

Gedung Putih pun memastikan bahwa AS tetap berkomitmen untuk menjaga pasar minyak terpasok dengan baik pasca-serangan itu dan Departemen Energi AS mengatakan pemerintah dapat melepaskan minyak dari cadangan strategis jika diperlukan.

Sumber : Asharq Al-Awsat

Berita Lainnya