sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Supremasi badminton Indonesia di tengah seruan boikot All England 1976

Rudy Hartono memenangkan All England sebanyak delapan kali di tengah konflik dalam induk bulu tangkis dunia.

Fandy Hutari
Fandy Hutari Rabu, 24 Mar 2021 08:03 WIB
Supremasi badminton Indonesia di tengah seruan boikot All England 1976

Tim bulu tangkis Indonesia harus menelan pil pahit, terdepak lebih awal dari All England 2021 yang diadakan di Birmingham, Inggris oleh Badminton World Federation (BWF), setelah sebelumnya induk organisasi bulu tangkis dunia itu dihubungi otoritas kesehatan Inggris, National Health Service (NHS) untuk melakukan isolasi.

Sesuai aturan yang berlaku di Inggris, seluruh tim harus isolasi selama 10 hari, terhitung sejak tiba di Birmingham pada Sabtu (13/3), usai ada seseorang yang melakukan penerbangan bersama rombongan dinyatakan positif Covid-19.

Padahal, seluruh tim bulu tangkis Indonesia, baik ofisial maupun atlet, sudah melakukan vaksinasi dan tes usap PCR, dengan hasil negatif semua. Tujuh wakil Indonesia, yakni Greysia Polii-Apriyani Rahayu, Marcus Gideon-Kevin Sanjaya, Hendra Setiawan-Mohammad Ahsan, dan Jonatan Christie, juga sudah dipastikan menginjak babak 16 besar, setelah menang di hari pertama kompetisi pada Rabu (17/3).

Akibat perlakuan yang dinilai tak adil ini, beberapa pemain bulu tangkis Indonesia, di antaranya Marcus Gideon, Mohammad Ahsan, Kevin Sanjaya, Hendra Setiawan, Anthony Sinisuka Ginting, dan Greysia Polii kompak melayangkan protes terhadap BWF di akun Instagram masing-masing.

Setelah itu, warganet Indonesia berbondong-bondong protes pula. Mereka menyerang akun resmi Instagram BWF dan All England.

Demi Ambisi

Sebelum penyelenggaraan All England 1976 di London, Inggris, situasi panas terjadi di dalam induk organisasi bulu tangkis dunia International Badminton Federation (IBF). Ada ketegangan politik antara China dan Taiwan, dibawa-bawa ke dalam organisasi bulu tangkis yang dibentuk pada 1934.

China mengklaim, Taiwan adalah bagian dari negaranya, meski tak pernah menguasai wilayah itu. Sementara Taiwan menganggap sebagai negara berdaulat.

Sponsored

Sebermula, China memperkenalkan kekuatan bulu tangkisnya, dengan cara keliling beberapa negara, termasuk negara Eropa yang kuat bulu tangkisnya, seperti Inggris, Swedia, dan Denmark. Dalam pertandingan-pertandingan persahabatan, tim bulu tangkis mereka tak pernah kalah.

Mata dunia pun terbelalak. China kemudian ditawari masuk menjadi anggota IBF. Namun, mereka mengajukan beberapa syarat, di antaranya mengeluarkan Taiwan yang waktu itu memakai nama Republic of China dan Afrika Selatan yang ketika itu menganut politik Apartheid dari keanggotaan IBF.

Pertandingan final All England 1976 antara Rudy Hartono melawan Liwm Swie King./Foto YouTube All England Badminton.

Permintaan itu tak dikabulkan IBF. Pada 1974, Asia Badminton Confederation (ABC)—sekarang menjadi Badminton Asia Confederation (BAC)—menerima China sebagai anggota, tetapi mengeluarkan Taiwan.

Menurut Suharso Suhandinata dalam buku Suharso Suhandinata: Diplomat Buku Tangkis (1997) dalam sebuah pertemuan 11 negara anggota ABC pada 1975, bintang Thomas Cup asal Thailand, Charoen Wattanasin menyerukan pemboikotan All England 1976, yang dianggap sebagai proyek Inggris.

“Hampir seluruh delegasi Asia mendukung, kecuali Indonesia dan Jepang,” kata Suharso, yang saat itu menjadi Pengurus Besar PBSI dan anggota Dewan IBF.

Belakangan, Jepang mendukung boikot All England 1976. Suharso mengatakan, pemboikotan terhadap All England 1976 itu sempat merepotkan Indonesia karena bakal menghilangkan peluang Indonesia mengorbitkan Rudy Hartono sebagai juara All England delapan kali.

Suharso lalu bernegosiasi dalam pertemuan di London pada Juni 1975, yang dihadiri delegasi China dan Charoen. Ia berkata cukup keras.

“130 juta rakyat Indonesia berkeinginan keras agar Rudy meraih gelar juara All England yang ke-8 kalinya, keinginan keras itu sangat sulit dibendung,” ujar dia.

Charoen terdiam. Delegasi China pun melunak. Mereka mengizinkan Rudy dan wakil Indonesia lainnya berlaga di All England 1976.

Suharso juga meyakinkan pimpinan ABC. Ia menuturkan, sesungguhnya ABC yang harus memaksa Indonesia mengirim pemainnya karena kemenangan Rudy adalah kemenangan bangsa-bangsa Asia. Akhirnya, Presiden ABC Chumpolt Lohachala memberi izin pengiriman wakil Indonesia itu.

All Indonesian final terjadi di partai puncak tunggal putra All England yang diadakan di London, Inggris pada 7 Maret 1976 malam. Rudy berhadapan dengan kompatriotnya, Liem Swie King. Rudy menang dengan skor kembar: 15-7, 15-7. Misi Indonesia pun sukses. Hingga kini, rekor delapan kali menang Rudy di All England belum pernah dipecahkan pebulutangkis mana pun.

Akan tetapi, kemenangan Rudy diragukan beberapa pihak. Pertarungan antara Rudy dan King disebut-sebut hanya formalitas, Rudy sudah dijagokan memenangkan pertandingan itu demi ambisi juara terbanyak All England.

“Kemenangan Rudy yang bersejarah itu mempunyai ekor tanda tanya,” tulis Tempo, 17 April 1976.

“Adakah Rudy tampil dengan bentuk yang wajar? Begitu pula nada pertanyaan serupa buat Swie King: adakah ia telah menunjukkan bentuk permainan yang setaraf seperti yang ia perlihatkan ketika berhadapan dengan Sture Johnson dan Svend Pri?”

Wartawan Sinar Harapan bernama Supardi yang meliput final All England itu curiga. Ketika tampil melawan King, Rudy terlihat tak dalam kondisi fisik 100%. Ia melihat, kaki Rudy pecah dengan luka yang menganga.

“Tak mungkin ia menang atas Swie King dalam kondisi seperti itu,” kata Supardi kepada Tempo.

Sepulangnya ke Indonesia, King dimarahi habis-habisan oleh pemilik Djarum, Robert Budi Hartono. Budi heran mengapa pertandingan tuntas begitu cepat dan King terlihat tak bersemangat melawan Rudy.

Menurut King dalam buku Panggil Aku King (2009), ia pun dicurigai banyak orang “mengalah” demi Rudy. Kecurigaan itu berlandaskan uji coba menjelang Piala Thomas, di mana King mampu mengalahkan semua pemain, seperti Iie Sumirat, Tjun Tjun, termasuk Rudy.

“Aku memang sangat menyesal, tidak menjadi juala All England 1976,” kata King.

“Padahal, aku merasa berada di puncak prestasi dan kondisiku sangat fit. Aku sungguh menyesal tidak bermain habis-habisan dalam partai final.”

Jasa Indonesia menyatukan IBF dan WBF

Saat penyatuan kembali antara IBF dan WBF di Tokyo, Jepang pada Mei 1981./Foto repro buku Suharso Suhandinata: Diplomat Buku Tangkis.

Ketegangan di dalam induk organisasi bulu tangkis dunia tak hanya berhenti pada seruan boikot All England 1976. Pada Februari 1978, usai melewati serangkaian pertemuan, dibentuk organisasi tandingan International Badminton Federation (IBF) bernama World Badminton Federation (WBF) di Hong Kong.

Padahal, mengutip Tempo edisi 6 Mei 1978, IBF sudah melunak. Pada pertemuan anggota IBF di Haarlem, Belanda dua pekan sebelum pembentukan WBF, dicapai kesepakatan mendepak Taiwan dari federasi. Meski belum tertulis dalam pernyataan resmi.

WBF yang didukung ABC dan dimotori China dibentuk dengan anggota awal sebanyak 13 negara dari Asia dan Afrika. China ingin tetap ada di WBF karena mereka sponsor utama pembentukan organisasi tandingan itu. Kemudian, mengalir dukungan dari negara Asia lainnya, yang semula tak bersikap, seperti Malaysia dan India. Sementara anggota IBF mayoritas negara-negara Eropa.

“Dari negara-negara anggota ABC, hanya tinggal Indonesia dan Jepang yang belum mengikuti jejak rekan seperkumpulan,” tulis Tempo.

Indonesia punya alasan mengapa bertahan di IBF. Tim badminton kita kala itu adalah pemegang supremasi bulu tangkis putra dan putri turnamen IBF, yang disimbolkan dengan Thomas dan Uber Cup.

Menurut Suharso, Indonesia juga mengambil sikap tak masuk WBF karena merasa itu bukan cara mempersatukan organisasi bulu tangkis. PBSI pun lebih percaya kepada IBF dan menyangsikan WBF bisa terealisasi sebagaimana keinginan para pencetusnya.

“Ketua PBSI Sudirman juga tak percaya Indonesia bakal dikucilkan negara Asia karena tak ikut,” kata Suharso.

Selain anggota IBF, Indonesia juga merupakan anggota ABC. Meski ABC mendukung WBF, tetapi IBF tak melarang anggotanya yang ada di Asia masuk dalam keanggotaan ABC.

Suharso mengatakan, lantaran dukungan kuat ABC terhadap WBF, akhirnya Ketua PBSI Sudirman mengundurkan diri dari posisinya sebagai Wakil Presiden ABC. Namun, secara keanggotaan, Indonesia tak keluar dari ABC. Sudirman yakin, WBF tak mampu bertahan lama karena akan kesulitan dalam masalah keuangan.

Konfrontasi makin menjadi. Awal 1978 IBF melarang anggotanya ikut turnamen versi WBF. Usai pembentukan WBF, ada rencana kompetisi bulu tangkis di Hong Kong pada akhir Februari 1978. Anggota IBF yang ikut serta diancam tak diizinkan ambil bagian dalam turnamen Thomas dan Uber Cup.

Tempo edisi 11 Februari 1978 menulis, kekuatan inti WBF bersandar pada China, Thailand, Malaysia, dan Iran. Otak penggeraknya adalah Sekjen ABC yang berasal dari Malaysia, The Gin Sooi.

WBF melangkah makin jauh. Mereka merencanakan turnamen bulu tangkis yang lebih besar. Untuk memeriahkan kejuaraan pertama, seperti dilansir dari Tempo edisi 22 Juli 1978, WBF akan mengundang pemain-pemain terbaik dari 27 negara, baik anggota maupun bukan. Termasuk Indonesia.

Turnamen itu diadakan di Bangkok, Thailand pada 4-7 Oktober 1978. Namun, Indonesia menolak ikut.

“Kalau saja mereka menyelenggarakan kejuaraan atas nama ABC kita akan ikut,” kata Ketua Bidang Pembinaan PBSI, Sumarsono, dikutip dari Tempo. “Kalau pakai nama WBF, ya kita tolak undangan mereka.”

Lebih lanjut, sikap PBSI tak mengirim wakil ke turnamen versi WBF tak akan merugikan Indonesia, yang akan menghadapi Asian Games VIII di Bangkok pada Desember 1978.

“Justru ikut malah kita rugi. Sebab strategi kita bisa ketahuan oleh mereka,” ujar Sumarsono.

Infografik Alinea.id/Uswah Hasanah Ahmad.

Selama berdiri, WBF hanya mengadakan dua turnamen besar. Selain di Bangkok pada 1978, kompetisi diadakan di Hangzhou, China pada 1979.

Negosiasi terjadi setelah itu. Pada 28 Mei 1979, ketika sedang berlangsung Thomas Cup di Jakarta, PBSI mengumpulkan tokoh-tokoh organisasi IBF dan WBF di Bandung.

“Di sini dijajaki bersatunya kembali badan dunia bulu tangkis. Indonesia adalah negara yang memegang peran penting dalam usaha ke arah itu,” tutur Suharso.

Dalam perkembangannya, Taiwan berbesar hati mengubah organisasi bulu tangkisnya menggunakan nama China Taipei. Pada 28 Mei 1981 diadakan sidang tahunan pertama setelah IBF kembali menjadi satu-satunya badan internasional bulu tangkis.

Pada 2006, disepakati nama Badminton World Federation (BWF)—organisasi yang dahulu dibela mati-matian, kemudian mendepak tim bulu tangkis Indonesia dari ajang All England 2021.

Berita Lainnya