sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Brexit tinggal hitungan jam

Inggris dipastikan bercerai dari Uni Eropa pada Jumat (31/1), pukul 23.00 GMT, setelah keduanya bersama selama 47 tahun.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Kamis, 30 Jan 2020 15:52 WIB
Brexit tinggal hitungan jam
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 291182
Dirawat 61839
Meninggal 10856
Sembuh 218487

Perdana Menteri Inggris Boris Johnson mengatakan akan menandai perayaan Brexit pada 31 Januari dengan penuh hormat, menyadari bahwa isu ini masih memecah belah negaranya.

"Sama dengan yang lainnya, saya akan membuat perpisahan dengan Uni Eropa bermartabat," ujar PM Johnson saat live di Facebook, di mana dia menjawab sejumlah pertanyaan publik.

Inggris akan resmi meninggalkan Uni Eropa pada Jumat pukul 23.00 GMT. Momen tersebut akan dirayakan di seantero negeri, termasuk di luar parlemen.

Di lain sisi, Brexit disesali oleh mereka yang menentangnya pada 2016.

"Saya akan merayakannya dengan cara yang saya harap menghormati ... prestasi luar biasa yang telah dicapai Inggris, tetapi juga memperhatikan perasaan semua orang," tutur PM Johnson. 

Setelah tiga tahun berselisih tentang apakah Brexit harus dilanjutkan dan cara terbaik untuk melakukannya, PM Johnson mampu mencapai kesepakatan dengan Uni Eropa.

PM Johnson mengumumkan, dia akan berpidato langsung pada Jumat pukul 22.00 waktu Inggris.

"Ini adalah momen luar biasa bagi negara kita, ini adalah momen penuh harapan dan peluang, tapi saya merasa ini juga merupakan saatnya bagi kita untuk bersatu dalam semangat percaya diri," ungkap PM Johnson. 

Sponsored

Perceraian Inggris dari Uni Eropa dipastikan berlangsung pada 31 Januari setelah pada Rabu (29/1), Parlemen Eropa memberikan persetujuan akhir bagi kesepakatan Brexit. Lewat sesi penuh emosi di Brussels, Belgia, anggota parlemen dari seluruh negara Uni Eropa menunjukkan ekspresi sedih dan bahagianya.

Beberapa bahkan menangis dan bergandengan tangan saat "Auld Lang Syne" diputar sebagai lagu perpisahan.

"Kami akan selalu menyayangi kalian dan kami tidak akan pernah jauh dari kalian," ujar Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen.

Inggris tercatat sebagai negara pertama yang meninggalkan Uni Eropa, mengurangi jumlah anggota blok itu menjadi 27. Perceraian ini terjadi setelah kebersamaan selama 47 tahun.

Setelah 31 Januari, Inggris akan memasuki periode transisi, di mana London akan tetap berada dalam pengaturan ekonomi Uni Eropa sampai akhir tahun. Meski demikian, Inggris tidak lagi memiliki suara untuk menentukan kebijakan karena bukan lagi anggota blok tersebut.

Sementara tenggat Brexit terpenuhi, gambaran hubungan masa depan Inggris dan Uni Eropa dibayangi ketidakpastian.

"Inilah dia. Semuanya sudah berakhir! Selesai!" kata Nigel Farage, yang telah berkampanye untuk Brexit selama dua dekade, saat menghadiri sidang Parlemen Eropa.

Farage yang ditegur pemimpin sidang karena mengibarkan bendera Inggris, akhirnya memutuskan keluar ruangan.

Waktu 11 bulan untuk merundingkan kesepakatan perdagangan komprehensif antara Inggris dan Uni Eropa dipandang ambisius oleh banyak pengamat. Dan rencana darurat akan dibutuhkan jika pada akhir periode transisi tidak ada kesimpulan yang tercipta.

"Kami tidak akan menyerah pada tekanan atau tergesa-gesa. Prioritasnya adalah menegaskan kepentingan jangka pendek, menengah, dan panjang Uni Eropa serta melestarikannya," tegas Presiden Prancis Emmanuel Macron.

Von der Leyen menyatakan, prasyarat untuk memberikan entri yang menguntungkan bagi Inggris ke pasar tunggal adalah bisnis Eropa dan Inggris harus bersaing secara sehat.

"Kami tentu tidak akan membiarkan perusahaan-perusahaan kami dalam persaingan tidak sehat. Dan sangat jelas pertukarannya sederhana. Semakin Inggris berkomitmen untuk menegakkan standar-standar kami bagi perlindungan sosial dan hak-hak pekerja, jaminan-jaminan kami bagi lingkungan dan sejumlah standar serta peraturan untuk memastikan persaingan yang adil, semakin dekat dan semakin baik pula akses ke pasar tunggal," imbuhnya.

Berpegang teguh pada standar Uni Eropa bagaimanapun sangat tidak disukai kaum Brexiteers yang ingin bebas dari segala ketidakleluasaan yang ditetapkan Brussels. (Reuters dan AP)

Berita Lainnya

, : WIB

, : WIB

, : WIB