logo alinea.id logo alinea.id

Buddha garis keras Sri Lanka serukan pembentukan pemerintah Sinhala

Dalam beberapa tahun terakhir, kelompok Buddha yang dipimpin oleh BBS telah memicu permusuhan terhadap muslim.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Senin, 08 Jul 2019 13:20 WIB
Buddha garis keras Sri Lanka serukan pembentukan pemerintah Sinhala

Kelompok nasionalis Buddha yang paling berpengaruh di Sri Lanka menggelar rapat besar pada Minggu (7/7), menyerukan perebutan kendali parlemen. Langkah tersebut, menurut mereka, bertujuan melindungi masyarakat di tengah ketegangan sektarian pascabom Minggu Paskah yang didalangi oleh militan muslim.

Pemimpin Bodu Bala Sena (BBS), Galagoda Aththe Gnanasara, yang berpidato di hadapan ratusan biksu dan pengikutnya di Kandy, meminta 10.000 kuil Buddha di Sri Lanka untuk membantu memenangi suara bagi para kandidat yang berasal dari mayoritas Buddha Sinhala.

"Kami para pemuka agama bertujuan untuk menciptakan pemerintahan Sinhala. Kami akan membentuk parlemen yang akan bertanggung jawab pada negara, yang akan melindungi Sinhala," tutur Gnanasara.

Dia juga mengatakan bahwa para politikus harus menyerahkan perjuangan melawan ekstremisme Islam kepada para biksu.

"Kita dapat berbicara dengan mereka secara langsung di desa-desa dan menciptakan komunitas muslim sebagaimana yang kita inginkan, tanpa ekstremisme. Itu merupakan tanggung jawab kami karena ini adalah negara Sinhala. Kami adalah pemilik sejarah negara ini," kata Gnanasara.

Sri Lanka memiliki sejarah kekerasan etnis dan agama. Selama beberapa dekade negara itu terpecah oleh perang saudara antara separatis dari minoritas Hindu Tamil dan pemerintah yang didominasi Buddha Sinhala. Perang berakhir pada 2009.

Dalam beberapa tahun terakhir, kelompok Buddha yang dipimpin oleh BBS telah memicu permusuhan terhadap muslim. Mereka mengatakan bahwa pengaruh dari Timur Tengah telah membuat muslim Sri Lanka lebih konservatif dan terisolasi.

Umat muslim, yang memiliki populasi 10% di negara yang sebagian besar beragama Buddha, dilaporkan khawatir akan serangan balasan. Pascabom Minggu Paskah yang menewaskan lebih dari 250 orang, telah terjadi peningkatan kekerasan anti-muslim di negara itu, yang sebagian besar disalahkan pada kelompok-kelompok Buddha.

Sponsored

Polisi berjaga-jaga di jalan-jalan di Kota Kandi dan tentara pun bersiaga saat para biksu mengadakan pertemuan besar pertama mereka sejak serangan Minggu Paskah. Sementara itu, sejumlah pedagang muslim memilih menutup usaha mereka karena khawatir akan kekerasan.

Kandy diguncang oleh kekerasan tahun lalu ketika massa merusak sebuah masjid, sejumlah rumah dan bisnis.

"Pemerintah tidak mengambil langkah yang cukup untuk keamanan dan keselamatan kami," ungkap Mohammed Rilwa (42), seorang pengusaha muslim di Kandy pada Sabtu (6/7) malam. Tokonya, Fancy Point, salah satu yang tutup pada Minggu. 

Mohammed Rilwa menambahkan, "Mereka melihat kami semua dengan cara yang sama ... Hanya karena kami muslim dan kami punya nama muslim."

Sejak serangan bom Minggu Paskah, menurut Mohammed Rilwa, dia telah kehilangan 75% dari bisnisnya. Tidak hanya itu, dia juga mengkhawatirkan keselamatan istri dan anak-anaknya.

Pertemuan kelompok nasionalis Buddha pada Minggu dilakukan jelang pemilihan presiden yang akan diadakan pada November atau Desember. Petahana, Presiden Maithripala Sirisena, mantan Menteri Pertahanan Gotabaya Rajapaksa dan Perdana Menteri Ranil Wickremesinghe disebut-sebut sebagai para kandidat yang akan memperebutkan kursi presiden.

Sumber : Reuters